Ulasan

Menyoal Kabar Matinya Rowan Atkinson

Kematian seseorang selalu membawa kepedihan tersendiri bagi mereka yang ditinggalkan. Namun, menggunakan berita kematian orang lain untuk mendulang profit, tentu menjadi hal yang patut untuk diulas.

Alexio Alberto Cesar

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan kabar meninggalnya komedian, Rowan Atkinson atau yang biasanya dikenal sebagai sosok Mr. Bean. Rowan dikabarkan meninggal tanpa sebab yang jelas. Kepiawaian dalam bermain peran membawa Rowan menjadi komedian yang melekat di hati para pemirsa, sehingga kepergiannya menjadi duka tersendiri bagi penggemarnya di seluruh dunia.

Namun, kabar kematian itu hanyalah berita bohong (hoax) belaka. Sebuah berita palsu yang dibuat-buat, dan itu ternyata sudah menjadi tren di Inggris dan Amerika. Bahwa kabar palsu tentang kematian Rowan terus berulang tiap tahun, sejak 2013.

Dampak dari kabar bohong itu tentu tidak hanya menimpa Rowan. Tetapi, warganet juga menjadi korban atas berita yang tidak bertanggung jawab itu. Lalu apa tujuan mereka membuat berita palsu?

Sebenarnya, Rowan bukanlah tujuan utama. Tetapi, efek dari berita palsu yang jauh lebih diutamakan, demi mendongkrak lalu lintas (traffic) pengunjung laman daring. Mereka membuat berita palsu agar warganet penasaran dengan berita tersebut, karena berita itu baru dan tentu mengejutkan. Meningkatkan traffic laman daring itu menu utamanya dengan memberikan informasi yang berbalik dengan situasi aslinya.

Bukan hal aneh, sebuah laman daring yang memang memproduksi berita hoax dengan judul nyeleneh dan menggelitik, tujuannya untuk menarik warganet agar jempolnya segera meng-klik laman bohong itu. Dari salah satu laman daring hoax, diketahui pendapatannya mencapai 400 juta per tahun. Bayaran didapat dari Google Adsense, sebuah pendapatan dengan angka yang luar biasa untuk sebuah konten yang tak berkualitas, bahkan  juga cenderung jadi ujaran kebencian.

Ada hal lain yang menjadi tujuan penyebar berita bohong. Penggunaan berita palsu kerap mengandung agenda tersembunyi, entah untuk penyebaran paham atau untuk menggiring opini publik. Model pemberitaan palsu sering dilakukan di dunia maya. Akses yang mudah dijangkau oleh para penggunanya, sekalipun menggunakan gawai. Mudahnya akses inilah yang menjadi alasannya sehingga memanjakan pengguna untuk membagikan berita secara langsung. Hal lainnya, ini terjadi karena kurang ketatnya para pengawas di dunia maya. Sekalipun ada pengawas, namun tetap dibiarkan saja karena ada kepentingan terselubung.

Apa yang Harus Dilakukan?

Bagi warganet, hal yang perlu dilakukan adalah literasi media atau melek media. Melek media bukan berarti dapat menguasai semua gawai atau aplikasi terbaru di dalamnya. Melek media berarti juga dapat bersikap arif dalam membaca berita atau informasi yang tersebar. Dengan membandingkan portal berita yang satu dengan yang lainnya, ini akan menjadi tameng tersendiri untuk terhindar dari pemberitaan palsu.

Berkembangnya media sosial saat ini, tentu menjadi wadah tersendiri untuk menyebarkan berita. Hal baiknya, masyarakat menjadi semakin mudah dalam mengakses informasi. Tetapi, bila kebanjiran informasi dan tidak bijak dalam memilah berita mana yang harus dibagikan, ini akan menjadi bumerang tersendiri bagi yang membagikannya. Bisa berupa umpatan, bullying karena menyebarkan berita palsu. Atau parahnya, tersangkut pasal UU ITE karena kurangnya mendalami berita tersebut. Niat membagi berita untuk sekedar sharing malah berakhir di penjara.

Penting bagi warganet saat ini untuk memilih dan memilah berita mana yang harus dibagikan. Ini penting untuk dimengerti demi menciptakan masyarakat yang cerdas, dan terhindar dari agenda tersembunyi yang hanya untuk menggiring opini publik saja.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close