Seni dan Budaya

Merawat Tarian Moyang

Didik Nini Thowok: Menari merupakan salah satu langkah dan upaya yang saya lakukan untuk melestarikan tradisi nenek moyang.

Galih Agus Saputra

Tak hanya memiliki keindahan alam yang memukau, Indonesia juga memiliki ragam kesenian yang indah. Salah satunya, dapat dilihat dari ragam tarian yang dapat ditemukan di berbagai penjuru nusantara. Didik Hadiprayitno atau yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok merupakan salah satu Maestro Tari dari Indonesia yang secara konsisten melestarikan seni tari, baik klasik, folk, maupun modern. Sabtu (17/11) lalu, ia kembali menampilkan karyanya di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dengan tajuk “Dua Wajah: Tradisi Peran di Istana dan Masyarakat”.

“Didik Nini Thowok tidak hanya menghibur namun juga memberikan pengetahuan menarik mengenai sejarah salah satu tarian yang ada di Jawa Tengah, khususnya Banyumas. Kepiawaian Didik Nini Thowok dalam menarikan tarian tradisional tersebut, memukau para penikmat seni yang hadir. Semoga pementasan ini dapat menjadi sajian yang bermanfaat, menginspirasi dan juga menghibur bagi para penikmat seni,” kata Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian.

Tari
Didik Nini Thowok membawakan tarian lintas gender di gelaran tari “Dua Wajah: Tradisi Peran di Istana dan Masyarakat” di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta (Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya).

Selama kurang lebih 60 menit, Didik menghibur penikmat seni dengan tarian lintas gender atau sebuah tarian dimana Didik memerankan karakter yang berkebalikan dengan jenis kelaminnya. Didik berlenggak-lenggok bak penari perempuan dengan segala atributnya seperti, sanggul, kebaya, bahkan tata riasnya. Tari lintas gender sudah menjadi bagian dari tradisi Indonesia, yang coraknya dapat dilihat mulai dari Pawestren (Jawa Timur), Tari Bebancihan (Bali), Bissu (Sulawesi Selatan), hingga Randai (Padang, Sumatera Barat).

Tari
Didik sebagai salah satu maestro tari lintas gender sudah tidak asing lagi di aras nasional maupun internasional. Interpretasinya atas tari tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sungguh luar biasa (Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya).

Tarian tradisional itu juga telah berkembang di Istana sejak masa Hamengkubuwono ke VII, disamping tertulis pula dalam Serat Centhini. Tari lintas gender yang dikreasikan secara Dwimuka oleh Didik itu kemudian dibawakan bersama iringan alunan tembang Jawa. Selain itu, pada pementasan kali ini juga ditampilkan pembacaan sebuah narasi penari oleh Didik, sebagai seorang seniman tari lintas gender yang telah dijalaninya sejak usia belasan tahun.

“Menari merupakan salah satu langkah dan upaya yang saya lakukan untuk melestarikan tradisi nenek moyang kita. Tradisi tarian ini sudah ada sejak lama, namun tidak banyak generasi muda yang tertarik untuk mempelajari tarian lintas gender ini. Saya harap dengan ditampilkannya pementasan ini, para penikmat seni dapat lebih tertarik untuk melestarikan maupun mempelajari tentang sejarah tradisi tarian ini,” jelas Didik.

Didik lahir di Temanggung di Jawa Tengah pada 13 November 1954. Ia lulusan ASTI (kini ISI, Yogyakarta) pada 1982. Nama Didik Nini Thowok sendiri telah dikenal luas di Indonesia sebagai pemrakarsa gaya tari yang unik dengan menggabungkan berbagai macam unsur. Ia juga salah satu dari beberapa seniman yang melanjutkan tradisi lama yaitu tari Lintas Gender Tradisional (Tradisional Cross Gender). Nama Didik sebagai salah satu maestro tari lintas gender sudah tidak asing lagi di aras nasional maupun internasional, karena interpretasinya yang luar biasa di dunia tari tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Redaktur: Aleixo Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close