Cerita Pendek

Mesin Tempur

Aku selalu suka saat melihat perempuan berseragam ketat, berbibir merah, berambut sedikit ikal dikuncirberbadan tinggi, dan berpantat padat.

Rio Hanggar Dhipta

Pagi hari di stasiun kota selalu ramai pegawai kantoran untuk berangkat bekerja. Bajunya selalu rapi dan rambutnya tak kalah juga. Orang-orang tak pernah berbaris rapi untuk memasuki gerbong kereta, karena saling dorong tak sabar masuk ke dalam gerbong. Bahkan, di dalam gerbong pun mereka saling mendorong berebut kursi.

Aku bekerja di perusahaan yang memperbaiki mesin-mesin pabrik. Aku sudah bekerja selama 5 tahunan di pabrik itu.

Aku selalu penasaran dengan sebuah ruangan besar di area pabrik, yang ingin sekali aku cari tahu apa yang ada di dalam ruangan itu. Aku sering melihat banyak truk bermuatan besar masuk ke dalam ruangan itu dan tak keluar-keluar. Sebenarnya, besar ruangan itu tak mampu menampung jumlah truk yang masuk. Ruangan itu dijaga ketat oleh orang-orang bertubuh besar dan bersanjata api.

Aku telah bertanya dengan beberapa pekerja di pabrik dan tak ada yang mengetahui apa sebenarnya yang ada dalam ruangan itu. Dengan rasa penasaranku yang begitu besar akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepada atasanku, tempat apa itu sebenarnya. Dia memintaku untuk tak banyak bertanya dan memintaku untuk fokus bekerja saja.

Aku semakin penasaran.

Saat istirahat, kugunakan untuk mencari tahu tentang ruangan itu. Kudatangi tempat itu dan mencari tahu dari kejauhan menggunakan teropong, namun tak terlihat apa-apa di dalam sana. Teropongku terjatuh, saat aku terkaget oleh tikus kecil yang tiba-tiba menaiki celanaku. Kuambil teropong itu kembali, dan aku mulai mendekat ke ruangan pabrik itu. Tak juga kulihat sesuatu di dalamnya karena sangat tertutup rapat.

Karena rasa penasaranku yang sangat besar, aku tak sadar melangkahkan kakiku maju terus untuk mengintip ruangan itu, hingga akhirnya rambutku dijambak oleh penjaga yang badannya sangat besar dan bermuka seram. Keringat dinginku mulai bercucuran deras. Penjaga itu membentakku menyakan apa yang kulakukan disini. Secara cepat aku menendang teropong yang terjatuh lagi supaya tak terlihat oleh penjaga.

Tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggil namaku. Aku tak mengenalinya dari kejauhan, namun dia terus memanggil namaku. Penjaga yang seram tadi penyeretku ke arah orang yang memanggilku. Setelah cukup dekat, akhirnya aku mengenalinya. Dia adalah temanku, teman disaat kita bersamaan melamar kerja di pabrik, dan kita sempat berbincang tentang roti isi yang enak di kota ini.

“Apakah engkau mengenalnya?” tanya penjaga dengan suara berat.

“Dia pekerja di sini juga. Dia akan membantuku mengangkat barang,” jawab temanku, sementara penjaga itu kemudian melemparku ke arah temanku dan pergi begitu saja.

Temanku memintaku untuk membantunya mengangkat barang-barang yang cukup banyak ke dalam truk. “Tenang, kau akan di bayar untuk ini. Lumayan,” katanya menenangkan.

Sembari mengangkati barang, aku terus menatap ruangan itu hingga akhirnya temanku mengingatkan untuk berhenti menatap ke sana dan terus bekerja saja. Akhirnya, pekerjaan selesai dan aku diberi amplop berisi uang oleh temaku tadi. Dia memberikan amplop dan pergi tanpa berbasa-basi tentang roti isi lagi.

Karena masih penasaran dengan ruangan itu, aku naik ke dalam bak truk bermuatan bahan makanan. Menunggu sedikit lama di dalam bak truk, akhirnya truk itu jalan juga memasuki ruangan. Di dalam ruangan terlihat sangat gelap, namun ada satu cahaya yang amat terang. Cahaya tersebut tidak menyilaukan saat dipandang. Kulihat truk-truk itu memasuki cahaya itu. Bentuk cahaya itu mirip seperti gerbang. Aku ketakutan saat truk yang aku naiki tersebut akan melewati cahaya itu. Aku pikir itu adalah mesin pendeteksi raksasa untuk memeriksa muatan truk. Akhirnya aku masuk ke dalam kardus besar, yang berisi makanan supaya tak terlihat dan tak terdeteksi oleh mesin itu.

Kemudian aku mengintip dari sela-sela kardus melihat situasi. Sudah tak kulihat lagi gerbang besar yang bercahaya. Aku selamat dari mesin pendeteksi. Getaran mesin dan suhu yang hangat membuatku mengantuk dan akhirnya aku tertidur.

Dalam tidurku aku bermimpi sedang bersama dengan wanita berambut sedikit ikal dikuncir dengan bibir yang merah, dan berpantat padat di atas kasur putih berselimut cukup tebal. Kami bermain-main di dalam selimut tanpa busana. Kami saling kejar di dalam selimut itu, seperti film kartun kucing dan tikus hingga saat aku menangkap wanita itu, aku dikejutkan oleh tendangan yang cukup kencang mengenai paha kiriku. Tendangan itu membangunkanku. Aku kaget dan kesakitan. Tendangan itu diiringi dengan bentakan untuk melanjutkan kerja. Dia memintaku untuk menurunkan barang-barang di dalam truk, atau dia akan menghajarku jika aku melanjutkan permainan ranjang dengan perempuan dambaanku. Badannya besar dan seram seperti penjaga yang menjambakku tadi.

“Buang kardus yang itu,” bentaknya sambil menunjuk kardus yang ada di belakangku. Ternyata kardus yang ditunjuknya terdapat bekas air liurku yang cukup banyak. Sepertinya tadi tidurku memang cukup pulas walau tak puas.

Kuturunkan barang-barang bersama pekerja yang lain namun tak kujumpai temanku yang memberikanku amplop tadi. Semua muatan truk telah diturunkan, dan para pekerja mulai pulang ke rumahnya. Aku meminta jatah amplopku kepada salah satu penjaga di dekat pintu keluar. Penjaga itu malah memukul kepalaku dan mengatakan bahwa aku tak tahu diri. Dia membentakku dan mengatakan bahwa bayaranku masih 3 hari lagi untuk dibayarkan.

Aku pulang dengan menaiki bus karena uang yang kubawa tak cukup untuk makan malam jika aku naik kereta. Aku melamun ingin meneruskan mimpiku yang indah tadi. Ingin kubunuh rasanya penjaga yang merusak mimpi indahku tadi, jarang-jarang aku bisa mendapatkan mimpi seindah itu. Jika boleh di tukar, aku ingin menukar satu mimpi indahku dengan potongan hidupku satu tahun. Tak apa aku cepat mati, asal aku bisa bermimpi indah.

Akhirnya, aku sampai di pemberhentian bus dekat tempat tinggalku dan aku dibuat marah oleh supir bus, yang begitu bodoh tak ingin dibayar oleh uangku. Dia malah menyebutku gila, padahal aku sudah membayar dengan uang pas seperti biasanya. Dia marah-marah dan memintaku untuk segera turun. Aku marah dan sedikit senang karena uangku bisa kupakai untuk hal lain.

Saat kubuka pintu kamarku, aku dikagetkan oleh dua perempuan yang sedang asik berciuman di sofa kamarku tanpa mengenakan busana. Aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh mereka, sehingga mereka berbuat seperti itu ditempatku, tanpa seijinku. Aku tidak mengenal mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?” teriak salah satu dari mereka, sambil menutup badannya dengan kain seadanya.

“Apakah kalian tak membutuhkan laki-laki untuk bergabung di sofa itu?” tanyaku tak sadar. Salah satu dari perempuan itu langsung menarikku ke sofa, dan aku tak perlu menukar potongan satu tahun hidupku.

Setelah usai, aku menanyakan apa yang mereka lakukan di kamarku. Namun salah satu perempuan itu menamparku kencang dan balik bertanya kepadaku. Aku menjelaskan bahwa ini adalah kamarku, tapi mereka juga menjelaskan bahwa ini adalah kamar mereka. Memang sedikit aneh setelah aku baru sadar bahwa dekorasi kamar ini berbeda dari biasanya.

Mereka menjelaskan bahwa mereka telah menempati kamar ini sudah lebih dari tiga tahun. Mereka berasal dari kota sebelah dan bekerja di kota ini. Mereka memperbolehkanku tinggal di kamar itu, sampai aku bisa menemukan tempat tinggal untukku. Cukup aneh saat aku diperbolehkan tinggal oleh orang lain di kamarku sendiri.

Mereka menganggapku gila tapi mereka juga senang karena aku bisa memuaskan mereka.

Aku menjelaskan bahwa pagi tadi aku masih bangun ditempat tidur itu. Posisi tempat tidurnya masih sama walau penutup kasurnya berbeda. Aku mandi di kamar mandi ini walau sabunnya berbeda sekarang. Lemari pakaianku juga telah hilang di gantikan lemari yang lebih bagus. Aku ingat persis bahwa ini benar adalah kamarku. Aku juga menggunakan kunci yang sama saat masuk kekamar ini tadi. Mereka mengerutkan dahinya kepadaku kemudian menuduh aku adalah seorang perampok.

Mereka memintaku untuk pergi dan mengancam berteriak agar aku di habisi oleh orang-orang di gedung itu. Aku meyakinkan dan meminta mereka untuk membuka salah satu lantai kayu di dapur karena aku menyimpan uang dan pistol di sebuah kotak besi. Mereka terus mengancam jika aku berbohong mereka akan benar-benar berteriak sekencang-kencangnya.

Ketemu. Mereka menemukan kotak yang aku maksud. Kotak itu benar berisikan uang dan pistol kecil dan beberapa foto-foto lama.

Mereka melihat isi kotak itu dan menanyakan kepadaku apakah aku kolektor uang-uang tua. Uang-uang ini bernilai besar ungkapnya. Padahal uang yang kukumpulkan biasanya hanya cukup untuk membeli makanan dan menyewa tempat tinggal ini.

Aku semakin tidak paham dengan orang-orang ini. Tipuan macam apa yang mereka lakukan kepadaku.

Kuambil pistol itu dan kutodongkan kepada mereka. Aku kebingungan dan mereka ketakutan. “Aku tidak suka dengan candaan seperti ini. Berhentilah berpura-pura,” bentakku kepada mereka.

“Apa maksudmu?” tanya salah satu dari mereka yang kelihatan bingung.

Mereka menyarankan untuk menjual uang-uang lama itu kepada museum dan kita akan kaya. Aku tak mengerti apa yang mereka maksudkan dengan uang lama. Mereka menjelaskan bahwa uang-uang itu adalah uang lama yang akan sangat mahal jika di jual. Aku semakin frustasi dan benar-benar ingin menembak kepala mereka.

“Berapa harga selembar ini?” tanyaku.

“Dengan jumlah itu kau akan mampu menyewa tempat tinggal ini selama sepuluh tahun,” ungkapnya.

Aku sepertinya sudah gila. Otakku mungkin terganggu karena dijambak-jambak oleh penjaga tadi. Atau mungkin mereka yang benar-benar gila sehingga membuatku menjadi gila juga.

“Ini adalah uang yang berumur lebih dari 500 tahun dan masih terlihat lumayan bagus. Lihat saja tanggal dibuatnya,” katanya.

“Kita bisa kaya dan membeli mesin besar itu untuk menjual bahan makanan dan kita akan bertambah kaya,” balas satunya dengan nada riang.

“Apa maksudmu lebih dari 500 tahun?” tanyaku semakin bingung.

“Aku capek menjelaskan hal ini dengan orang bodoh sepertimu,” balas perempuan berambut pendek itu, sambil duduk menyalakan rokok.

“Ah sudahlah mari kita jual uang-uang ini.”

“Kita akan kaya raya tanpa harus bekerja keras.”

“Kita menemukan harta karun.”

“Hey tunggu, ini uangku. Jangan kau curi uangku,” teriakku kepada mereka.

“Ini tempat kita,” teriak mereka bersamaan.

Sepertinya aku memang sudah gila. Aku membuat kesepakatan dengan mereka bahwa karena ini adalah uangku, maka aku berhak mendapat 80% dan sisanya untuk mereka bersenang-senang. Tapi, mereka tak mau, mereka menginginkan 50:50, dan aku menyetujuinya. Mereka mengijinkanku tinggal dengan mereka untuk sementara sampai uang itu cair dan mereka akan pindah tempat. Aku tak mau berdebat tempat lagi dengan mereka, lebih baik aku bermain bersama mereka.

Astaga.

Tiba-tiba kepalaku dipukul dengan keras. Aku kaget saat sesorang bertubuh besar yang membentakku kemudian menendangku dengan sepatunya yang keras.

“Akan kulaporkan kepada atasan supaya kau dipecat,” teriaknya sambil menendangiku.

Ternyata aku tertidur di dalam bak truk yang berisi makanan itu dan menandai banyak makanan dengan air liurku. Aku sangat kecewa karena aku tak bisa menjadi orang yang kaya raya seperti yang dijanjikan dua perempuan tadi. Ternyata, aku bermimpi dalam mimpiku. Aku ingin menukar satu mimpi indahku dengan potongan hidupku satu tahun. Tak apa aku cepat mati, namun aku bisa bermimpi indah.

Aku pulang saja dan tidak meneruskan bekerja lagi karena sudah pasti aku akan dipecat karena tertidur sepanjang hari. Atasanku sangat keras dan tidak mentolelir karyawannya tertidur saat jam kerja.

Aku pulang dengan menaiki bus karena uang yang kubawa tak cukup untuk makan malam jika aku naik kereta. Aku melamun ingin meneruskan mimpiku yang indah tadi. Ingin kubunuh rasanya penjaga yang merusak mimpi indahku tadi.

Aku dibuat bingung saat sopir bus tiba-tiba marah padaku dan tak mau dibayar. Dia memintaku untuk segera turun dari busnya dan mengancam akan menghajarku jika dia telah selesai berkerja nanti. Aku bingung dan sedikit senang karena uangku bisa kupakai untuk membeli ayam goreng kesukaanku di restoran cepat saji di dekat tempat tinggalku.

Aku terkaget saat kubuka pintu kamarku kujumpai dua perempuan sedang asik berciuman di sofa tanpa mengenakan busana. “Oh,kau sudah pulang?” tanya salah satu perempuan itu.

“Mau bergabung bersama kami?” tanya yang satunya lagi.

“Apakah aku bermimpi lagi? Sepertinya aku memang sudah gila.”

“Hey kenapa masih diam di situ? Tutup pintunya dan kemarilah bergabung.”

Pikiranku sangat kacau saat ini. Tak ada nafsu untuk bercinta dengan mereka. Aku melewatkan nafsuku untuk pergi dari tubuh-tubuh sempurna itu. Aku benar-benar gila.

Dengan spontan aku tiba-tiba bertanya kepada mereka apakah uangku masih laku untuk dijual. Mereka menoleh kepadaku mengerutkan dahinya. “Besok kita akan pindah ke apartemen mewah, kita sudah kaya raya. Kenapa kau tanyakan hal itu?” balas salah satu perempuan.

“Apakah kau ingin menendangku dan membangunkanku dari mimpiku ini?”

“Apa maksudmu?”

“Sepertinya aku sudah mengkorbankan potongan beberapa waktu hidupku untuk omong kosong ini.”

“Sepertinya dia sedang dalam pengaruh alkohol.”

“Bodoh sekali dia, belum gelap tapi sudah teler.”

Entah apa yang kupikirkan saat ini, aku benar-benar tidak ingin berpikir dan pikiranku amat sangat kacau. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan kedua perempuan itu melanjutkan kesenangan mereka.

***

“Hey bangun, mari berkemas kita akan pergi,” bisik perempuan itu di telinga.

“Tak usah kau pergi ke pabrik lagi. Kau gila sepulang dari pabrik.”

“Kau tak usah bekerja, kita sudah kaya.”

“Apa yang kulakukan kemarin?” tanyaku.

“Pagi-pagi buta kau pergi ke pabrik. Sepertinya kau masih teler saat di sana,” balasnya.

Ternyata aku tidak sedang bermimpi sekarang ini, aku benar-benar kaya raya. Aku tertidur di pabrik kemarin karena aku teler dan tak sadarkan diri.

“Apakah kau lupa, kau pernah melewati mesin itu?” tanya salah satu perempuan sambil memakan permen lollipop merahnya.

“Mesin apa yang kau maksud?”

“Mesin yang di pabrik itu, yang kau ceritakan kepada kami. Mesin yang berbentuk gerbang bercahaya namun tak menyilaukan mata.”

“Kita akan membeli itu,” sela perempuan satunya.

Aku benar-benar tak paham dengan apa yang dibicarakan oleh mereka. Mereka mengungkapkan bahwa aku telah menceritakan banyak hal, yang telah terjadi sewaktu aku teler dan aku tidak sadar dengan apa yang telah aku katakan.

Perempuan yang memakan permen lollipop merah itu menjelaskan lagi kepadaku bahwa ternyata sekarang ini aku berada pada tahun 2588. Aku telah melewati mesin pemindah waktu, dan berada lebih dari 500 tahun ke masa depan.

Perempuan itu mejelaskan telah terjadi perang nuklir di bumi sekitar 300 tahun yang lalu, yang menyebabkan bumi belahan yang lain hancur berkeping-keping dan menyebabkan radiasi hingga seluruh bumi. Sudah tak ada lagi tanaman yang bisa dimakan sekarang. Sudah tak ada lagi makhluk hidup kecuali manusia, kecoa dan bakteri-bakteri kecil. Rantai makanan telah rusak sejak perang nuklir terjadi.

Mesin itu adalah sumber dari makanan manusia selama ini. Beberapa manusia memakan kecoa, bahkan memakan manusia lainnya karena tidak adanya bahan makanan dan harga makanan yang cukup tinggi. Truk-truk bermuatan bahan makanan masuk melalui mesin itu dari masa lalu untuk membawa bahan pangan di masa ini.

“Maka dari itu kita akan membeli mesin itu dan kita akan tetap kaya,” sahut perempuan satunya.

Pada masa ini manusia belum bisa menciptakan bahan makanan bagi manusia lainya, sehingga kita harus mengambil bahan makanan dari masa lalu.

“Tak usah dipikirkan. Kita akan punya mesin itu dan kita akan terus bersenang-senang.”

“Aku ingin wine tahun 1969,” sahut perempuan satunya girang.

Sampai saat ini aku masih belum bisa menguraikan pikiran-pikiranku yang ruwet. Aku harus beradaptasi dengan masa ini dan masa lalu. Di masa lalu aku miskin dan di masa ini aku kaya raya. Bahan makanan yang melimpah dari masa lalu membuatku miskin, berbeda dengan masa ini walau bumi kekurangan namun aku kaya raya.

“Ini kenyataan,” teriakku girang.

Aku tak perlu melihat orang-orang saling dorong merebutkan tempat duduk di gerbong. Aku bisa naik pesawat, dan lebih cepat, dan aku tidak perlu menukar satu mimpi indah dengan potongan hidupku.

Aku masih selalu suka saat melihat perempuan berseragam ketat, berbibir merah, berambut sedikit ikal dikuncir, berbadan tinggi, berpantat padat, namun belum kujumpai lagi perempuan itu dalam mimpi-mimpiku, walau aku sudah ikhlas dengan potongan hidupku.•

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close