Seni dan Budaya

“Misteri Sang Pangeran”, Lakon Teater Perdana di Taman Indonesia Kaya

Sejak diresmikan Pemerintah Kota Semarang dan Bakti Budaya Djarum Foundation 10 Oktober lalu, kini masyarakat dapat berkunjung dan menikmati fasilitas di Taman Indonesia Kaya. Penulis Naskah dan Sutradara, Agus Noor juga mendapat kesempatan pertama untuk mempertontonkan lakon teater garapannya dengan judul “Misteri Sang Pangeran” di sana.

Galih Agus Saputra

Pementasan perdana telah di gelar di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Jawa Tengah. Teater dengan lakon “Misteri Sang Pangeran” yang ditulis dan disutradarai oleh Agus Noor itu dipentaskan pada Sabtu, (27/10). Sejumlah seniman kenaman asal Indonesia seperti Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Cak Lontong turut digandeng agar dapat menjadi sajian akhir pekan yang menghibur, sekaligus menumbuhkan rasa cinta masyarakat Semarang dan sekitarnya terhadap seni pertunjukan.

“Taman Indonesia Kaya merupakan taman dengan panggung seni pertunjukan terbuka pertama di Jawa Tengah yang ditujukan sebagai wadah ekspresi para seniman dan pekerja seni. Sebagai komitmen Bakti Budaya Djarum Foundation untuk mengenalkan dan melestarikan seni budaya Indonesia, kami akan menyelenggarakan pertunjukan panggung budaya dan seni yang dapat dinikmati masyarakat setiap satu bulan sekali,” terang Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian.

Taman Indonesia Kaya
Cak Lontong (kiri) bersama kelompok seni, dan sejumlah seniman lain seperti Prie GS, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Sruti Respati, Sahita, Hargi Sundari, Novi Kalur, Rio Srundeng, Semarang Magic Community, Sanggar Greget Semarang, Jagoan Jagoan Jawa Tengah, Teater Djarum, serta iringan musik dari Kuaetnika turut tampil dalam pementasan teater perdana dengan lakon “Misteri Sang Pangeran” di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Jawa Tengah (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation).

Misteri Sang Pangeran

Lakon “Misteri Sang Pangeran” berkisah tentang sebuah negeri yang banyak mengalami gangguan. Rakyat merasa gelisah dan tidak aman. Para perampok dan pencuri mengganggu penduduk, hingga suatu saat muncullah dua orang pangeran yang berhasil mengatasi masalah tersebut. Rakyat merasa senang, bahkan sang putri pun jatuh cinta kepada sang pangeran. Namun, ternyata tidak semua rakyat senang akan kehadiran dua pangeran itu. Ada yang menghasut baginda raja agar memberi hukuman pada mereka. Dua pangeran pun akhirnya difitnah, bahkan kisah cintanya dengan sang putri pun terhalang sebuah syarat yang mustahil dipenuhi yaitu dengan membangun taman indah dalam satu malam.

Dengan bantuan rakyat yang mendukung dan kesaktian sang pangeran, akhirnya sebuah taman yang indah dipersembahkan untuk sang putri. Tak hanya itu, terungkap pula bahwa pangeran itu ternyata adalah anak baginda raja yang ketika bayi dibuang ke hutan oleh adipati. Sang adipati diam-diam ingin menguasai kerajaan, tetapi raja bahagia karena anaknya yang hilang telah kembali. Ia juga bahagia karena kerajaan menjadi punya taman. Taman yang kemudian menjadi lambang persatuan dan kerukunan, yang kemudian dinamakan Taman Indonesia Kaya.

Semangat Teater Rakyat

Pementasan “Misteri Sang Pangeran” yang naskahnya ditulis Agus Noor mengambil semangat teater rakyat. Kisah yang ditampilkan malam itu diolah dari khasanah cerita rakyat, yang dewasa ini telah banyak berkembang di Indonesia. “Dari kisah rakyat tersebut dan lakon ini, kita dapat memetik hikmah dan kebajikan untuk melihat situasi pada hari ini,” tutur Agus Noor.

Taman Indonesia Kaya
Suasana malam penutupan pementasan teater perdana di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Jawa Tengah dengan lakon “Misteri Sang Pangeran” (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation).

Butet juga mengatakan bahwa hadirnya Taman Indonesia Kaya di Semarang dapat memberikan angin segar bagi para seniman maupun komunitas seni, khususnya di Jawa Tengah. Sejumlah seniman lain dan kelompok seni yang kemudian turut tampil dalam pementasan kali ini antara lain Prie GS, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Sruti Respati, Sahita, Hargi Sundari, Novi Kalur, Rio Srundeng, Semarang Magic Community, Sanggar Greget Semarang, Jagoan Jagoan Jawa Tengah, Teater Djarum, serta iringan musik dari Kuaetnika.

“Dengan adanya fasilitas panggung budaya, diharapkan semakin banyak seniman-seniman muda yang lahir dan memiliki ide dan gagasan yang lebih kreatif dalam mencipta karya, dan memiliki karya seni pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri,” imbuh Butet, yang pada kesempatan ini turut menjadi bagian dari tim kreatif pementasan “Misteri Sang Pangeran”.

Redaktur: Aleixo Alberto Cesar

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close