Cerita Pendek

Mufakat Hewan-hewan

Suasana memanas saat Sang Raja Hutan mengamuk di hadapan hadirin yang datang. Hadirin yang datang mewakili setiap binatang yang terdapat di hutan itu. Lengkap. Perdebatan sengit terjadi ketika Kancil menyanggah argumen dari Sang Raja. Singa itu bukanlah Raja Hutan yang sebenarnya, raja hutan yang sebenarnya adalah Babi Hutan.

Rio Hanggar Dhipta

Singa itu sangat terobsesi menjadi Raja Hutan namun selalu kalah dalam pertarungan fisik dan pola pikirnya. Namun, dia selalu menganggap dirinya adalah Sang Raja Hutan. Babi Hutan yang beberapa kali mendapat gelar Raja Hutan tak mempermasalahkan obsesi si Singa. Dalam perdebatan sengit saat rapat hutan, Kancil menolak usulan Singa. Singa mengusulkan bahwa setiap binatang harus memakan daging supaya tidak merusak tumbuhan. Tumbuhan di hutan itu sudah semakin habis, pohon-pohon besar sudah jarang-jarang karena eksploitasi hutan besar-besaran oleh manusia. Singa tak setuju jika hewan hanya memakan tumbuhan saja.

Kancil yang adalah hewan herbivora menolak mentah-mentah usulan Singa Sang Raja Hutan jadi-jadian. Seluruh herbivora membuat suara ribut tak setuju dengan usulan Singa. Hewan-hewan herbivora mengandalkan Kancil karena hewan-hewan itu tahu bahwa kancil adalah hewan yang cerdik dan cerdas. Argumen Singa dibalas oleh argument Kancil, argumen Kancil dibalas oleh argumen Singa, begitu balas-balasan hingga suasana memanas. Argumen-argumen mereka tidak menemukan titik temu, tidak sama sekali. Kedua argumen sama-sama kuat dan sulit untuk diputuskan oleh Babi Hutan Sang Raja Hutan sebenarnya.

Babi Hutan dengan teliti memperhatikan kedua argumen tersebut hingga tak luput satu patah kata pun. Sang Raja Hutan sangat berhati-hati dalam mengambil setiap kebijakan yang dibuatnya. Kali ini dia sangat bingung untuk mengambil keputusan yang tepat, yang sama-sama menguntungkan bagi hewan-hewan. Babi Hutan sebenarnya juga tak begitu susah jika tak memakan tanaman untuk menjaga lestarinya tumbuhan di hutan, karena dia masih bisa untuk memakan daging walau sedikit susah.

Suasana begitu memanas saat argumen saling beradu. Sorak-sorakanan keras menyahut saat setiap argumen dikeluarkan. Para pendukung Kancil dan Singa begitu bersemangat dengan jagoan mereka hingga begitu histeris, dan melakukan gerakan-gerakan tubuh yang begitu ekspresif. Saat sedang panas-panasnya perdebatan, terdengar suara palu dari Babi Hutan menghentikan perdebatan. “Dok, dok , dok,” suara palu diketukan.

“Harap tenang,” ucap Babi Hutan berat dan serak.
“Diam kau babi. Tak boleh ada yang menyelaku disini,” teriak Singa sambil menunjuk Babi Hutan yang duduk di kursi tinggi.
“Tenanglah Singa,” kata Babi Hutan sambil melihat ke arah Singa.
“Tak ada yang bisa memerintahku disini,” teriak Singa.
“Tenanglah.”
“Diam kau Babi.”

Babi Hutan hanya melihat ke arah Singa.

“Dasar hewan sirkus, sok jagoan,” ejek Kancil cengengesan, sementara semua hewan herbivora menertawakan Singa.
“Suaramu bagai gonggongan anjing di pagi buta,” kata Singa sambil mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Kancil.
“Apakah aku seekor Kancil bisa menggonggong? Bisa mengembik saja aku sudah bersyukur.”

Hewan-hewan herbivora tertawa lagi lebih kencang.

“Apakah cakar ini bisa mengeluarkan kerongkonganmu dan menggantinya dengan kerongkongan kambing?” kata Singa berdiri sambil mengeluarkan cakarnya yang sangat besar.
“Mungkin cakar itu bisa kau gunakan sendiri untuk mengganti kerongkonganmu dengan kerongkongan anjing. Guk guk guk guk,” canda Kancil diikuti tawa hewan-hewan herbivora lebih kencang dari tadi.
“Sepertinya seekor Kancil mungil ini bisa menjadi menu sarapanku esok.”
“Sepertinya seekor Singa ambisius menjadi gila karena obsesinya menjadi raja.”

Hewan-hewan herbivora tertawa lebih kencang lagi dari tadi.

“Beranikah kau bertarung 1 lawan 1 denganku Kancil kecil?” gertak Singa sambil menunjukan taringnya yang sangat besar dan lumayan tajam.
“Ada pepatah mengatakan bahwa semakin besar taring seekor binatang semakin kecil otak yang dimilikinya. Sepertinya pepatah tersebut berlaku kepadamu Singa,” kata Kancil sambil tersenyum.

Hewan-hewan herbivora tertawa semakin kencang.

Suara tawa dari hewan-hewan herbivora memecah pikiran hewan-hewan yang duduk di Kursi Keputusan. Mereka sebenarnya terganggu oleh suara-suara tawa itu, namun mereka membiarkannya. Saat suara tawa semakin nyaring, tiba-tiba gebrakan sebuah tangan yang kuat menghancurkan sebuah meja. Singa begitu marah dan ingin untuk membunuh Kancil.

Dengan menunjukkan taringnya yang sangat besar dan lumayan tajam Singa mengambil posisi untuk menerkam Kancil. Jarak mereka tak begitu jauh, sehingga sangat mudah Singa menggapai Kancil. Awalnya Kancil kaget oleh gebrakan Singa yang menghancurkan meja, namun dia tetap tenang melihat Singa yang sangat marah itu.

Singa pun melompat ke arah Kancil untuk menerkam.

Kancil tetap tenang dan tak beranjak sedikit pun, tak gemetar juga.

Mata Singa menatap Kancil tajam sebelum beberapa senti menerkam Kancil. Mata mereka saling bertatapan dan Kancil tak gemetar sedikitpun. Singa sudah sangat siap mendapatkan Kancil dalam terkamannya.

Tinggal beberapa senti lagi mereka bersentuhan, namun seekor Badak menabrak badan Singa kencang dan membuatnya tersungkur di sebelah Meja Keputusan. Singa langsung berdiri siap melawan. Tubuh Badak besarnya dua kali lipat dari besar tubuh Singa, dan cula Badak yang terkena sinar membuat Singa Sedikit gemetar.

“Tidak ada perkelahian di sini, selesaikanlah saja seusai di sini,” kata Badak tegas.

Raja Hutan hanya diam saja melihat kejadian tersebut. Biasanya dia terlihat begitu bijak dalam mengambil setiap keputusan, namun kali ini dia sangat bingung mengambil keputusan.

“Akan ku makan kau nanti Kancil kecil,” gertak Singa sambil berjalan mundur.
“Lakukanlah jika itu akan membuatmu kenyang seumur hidupmu,” balas Kancil tenang.

Hewan-hewan karnivora tak lagi terdenngar suaranya saat berhentinya argumen Singa.

“Mengapa kau hanya terdiam saat akan diterkam oleh Singa?” tanya Babi Hutan penasaran.
“Apakah aku harus melawannya?” tanya Kancil.
“Mengapa kau tak lari?”
“Untuk apa aku lari?”

Babi Hutan diam.

“Aku hanya ingin melewati cobaan-cobaan yang ada hidupku. Jika cobaan tersebut membuatku mati ya memang itu sudah saatku untuk mati. Bila tidak, aku juga tak akan mati,” kata Kancil.
“Jika aku mati dan kemudian dimakan oleh Singa itu, aku pun tak masalah. Setidaknya aku mati berguna walau untuk perut Singa itu,” ucap Kancil menambahi.
“Mengapa kau tak melawannya?” tanya Babi Hutan
“Dengan apa aku harus melawannya? Memegang senapan pun aku tak bisa. Jikalau pun aku bisa melawannya, aku juga tak akan melawannya.”
“Mengapa?”
“Jika aku melawannya, aku tak beda dari dirinya.”
“Seperti halnya jika kau hanya mengandalkan kekuatan fisikmu tanpa mengandal kekuatan otakmu, kau hanya akan seperti dia,” jelas Kancil kepada Raja Hutan.

Singa hanya terdiam mendengarkan dan sedikit tersinggung oleh perkataan Kancil.

Dok, dok, dok,” suara palu dipukulkan ke meja.
“Aku sudah membuat keputusan,” kata Raja Hutan sedikit kencang.

Semua binatang yang ada memperhatikan.

“Mari kita atur strategi bersama. Semua akan terlibat dalam strategi ini.”

Semua binatang yang ada masih memperhatikan.

“Herbivora akan tetap memakan tumbuhan di Hutan ini dan karnivora tetap akan memakan daging. Omnivora makanlah apapun.”

Hewan-hewan karnivora mengerutkan dahi seperti tak setuju.

“Herbivora kecil akan membantu menyusun strategi dan herbivora besar akan membantu berburu. Kita akan berburu manusia untuk karnivora yang ada di hutan ini.”
“Permasalahan di hutan ini bukanlah tentang herbivora ataupun karnivora, namun eksploitasi dari manusia. Ini adalah kesalahan mereka. Jadi kita akan membuat mereka membayar untuk apa yang telah mereka perbuat,” tegas Raja Hutan.
“Jadi santapan kami tak lagi hewan?” tanya seekor serigala.
“Daging manusia lebih enak dari daging rusa, aku pernah merasakannya,” kata Raja Hutan.
“Keputusan yang baik. Kita semua hewan bersahabat,” sahut Kancil.

Seluruh binatang bersorak, berseru, “Semua Hewan Bersahabat!”.

Rapat itu berakhir dengan persahabatan semua hewan.

Sebelum hewan-hewan membubarkan diri, tiba-tiba pohon-pohon bergerak, bergemuruh. Pohon-pohon bergerak-gerak cepat. Semua binatang memperhatikan gerakan-gerakan pohon. Ada sesuatu yang mendekati mereka melewati pohon-pohon.

Tarzan melompat mendarat di tengah-tengah rapat para hewan.

“Apakah aku terlambat untuk rapat ini? Aku harus membantu menyelesaikan persalinan seekor gorilla,” jelasnya sambil tersenyum menghadap hewan-hewan.
“Semua manusia kecuali dia,” pinta Raja Hutan sambil menunjuk Tarzan.

Tarzan mearasa bingung.

“Apa ada yang sudah kulewatkan?”
“Kau melewatkan celanamu,” balas Berang-Berang sambil tertawa.
“Kau membawakan jodoh untukku,” sahut burung Kenari betina malu-malu.•

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close