Seni dan Budaya

Nara, Pejuang Hidup Tanpa Rasa Lelah

Teater Kudus persembahan Teater Djarum terus berproses dan bermetamorfosa. Mereka berusaha menjadi kelompok teater yang semakin baik, indah, dan berharap karyanya dapat memberi manfaat, sekaligus pembelajaran, dan penyadaran bagi anggota dan pemirsanya. Nara, seorang perempuan yang pantang menyerah dalam memperjuangkan hidup ialah lakon yang kali ini dipentaskan mereka di Galeri Indonesia Kaya.

Aleixo Alberto Cesar

Nara sebuah lakon yang dibawakan kelompok teater dari Kudus, Jawa Tengah dipersembahkan Teater Djarum di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada 8 September 2018. Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian mengungkapkan bahwa sejak pentas perdana pada 21 April 2003, di GOR Djarum Kaliputu, Kudus, Teater Djarum terus berproses untuk memberi warna tersendiri dalam dunia teater Indonesia. Kali ini, Teater Djarum menampilkan lakon Nara yang tidak hanya menghibur, namun juga memiliki banyak pesan moral yang dapat menginspirasi penikmatnya.

“Kami harap, lakon yang juga menjadi produksi ke 24 Teater Djarum ini dapat menjadi sajian yang bermanfaat bagi para penikmat seni yang hadir, dan dapat memberikan inspirasi bagi para generasi muda Indonesia untuk berkarya,” tutur Renitasari.

Nara, kisah tentang seorang perempuan sebatang kara bernama Nara yang tinggal di pesisir pantai, bersama bocah kecil ceria benama Gendhuk dan Ibu dari Gendhuk, yang sudah menganggap Nara seperti anak sendiri. Nara adalah perempuan cerdas, cantik, pemberani, dan kerap ikut melaut untuk membantu warga pesisir dalam mencari ikan. Hingga suatu hari, Nara dibawa secara paksa menuju Kotapraja oleh Gola, seorang penguasa pesisir. Tidak terima dipisahkan dengan Nara, Gedhuk dan Ibunya ikut menyusul ke Kotapraja.

Teater
Nara, merupakan lakon teater yang berkisah tentang perempuan sebatang kara bernama Nara yang tinggal di pesisir pantai, bersama bocah kecil ceria benama Gendhuk dan Ibu dari Gendhuk yang mencoba bertahan dalam hidupnya (Foto: Galeri Indonesia Kaya).

Segala kebutuhan dan keinginan Nara, Gendhuk dan Ibunya terpenuhi tanpa mereka harus bekerja keras di Kotaparaja. Tetapi, segala kemudahan itu tidak membuat Nara bahagia. Kebebasan Nara direnggut, karena Nara dijauhkan dari warga pesisir yang ia cintai. Belum lagi suasana pantai, dan deru ombak yang menjadi sumber keriangannya.

Simbol Semangat Bertahan Hidup

Konflik bertambah besar saat Nara harus membayar pajak kepada pemimpin baru Kotapraja, Wira. Segala kenyamanan hilang karena Gola telah tiada. Akhirnya, Nara mencoba berbisnis dengan membuka usaha galeri, bersama seorang pengusaha ternama, Prana. Wira marah, ia geram dengan kesuksesan Nara. Lalu, dibakarnya galeri milik Nara. Tidak hanya itu, Nara juga kehilangan Gendhuk, Ibu, dan Prana. Nara yang merasa putus asa, akhirnya bangkit dengan semangat yang membara, dan memulai semuanya kembali dari awal.

Teater
Nara merupakan lakon teater yang naskahnya ditulis Asa Jatmiko, seniman teater dari Teater Kudus persembahan dari Teater Djarum (Foto: Galeri Indonesia Kaya).

Penulis Naskah, sekaligus Sutradara Nara, Asa Jatmiko berkata, “lakon Nara merupakan simbolisasi dari semangat hidup yang tidak pernah menyerah. Nara yang beradaptasi dengan cara berpikir, budaya dan gaya hidup yang berbeda dengan apa yang biasa ia rasakan. Melalui sosok Nara ini kami ingin mengajak penikmat seni untuk selalu bersemangat, gigih dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan dan masalah di dalam kehidupan, seperti api yang menyala, selalu menerangi dan memberi semangat bagi sekitarnya”.

Terdiri dari seluruh lapisan dan berbagai departemen atau bagian, Teater Djarum terus berproses dan bermetamorfosa. Mereka berusaha menjadi kelompok teater yang semakin baik, indah, dan berharap karyanya dapat memberi manfaat, sekaligus pembelajaran, dan penyadaran bagi anggota dan pemirsanya. Teater Djarum merupakan kelompok seni pertunjukan yang menjadi wadah ekspresi, dan berbagai gagasan estetika para karyawan PT. Djarum. Jumari H.S., Yudhi M.S., dan Asa merupakan sosok di balik berdirinya Teater Djarum, dengan dukungan penuh Thomas Budhi Santoso dan Oey Riwayat Slamet.

Saat ini, anggota Teater Djarum ada 35 orang. Dimana Teater Djarum juga mengembangkan kegiatan kunjungan ke teater di sejumlah sekolah, sekaligus mengadakan Festival Teater Pelajar secara rutin setiap tahunnya, dan tidak lupa menggelar kegiatan sosial.•

Redaktur : Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close