Kuliner

Nasi Goreng Montecarlo, Jodoh Kulinernya Anak Rantau

Ibarat pemuda yang sedang mencari pasangan, kini Aslo sudah bertemu dengan jodohnya, Nasi Goreng Montecarlo.

Amos Allister

Suasana malam barang kali adalah saat yang tepat untuk meleraikan segala jenuh akan aktivitas sehari-hari. Ada orang yang melepas jenuh dengan jalan bersama sahabat, ada yang adu ketangkasan lewat permanian digital, ada juga yang melepas jenuhnya dengan bersantai di depan televisi hingga terlelap tidur. Tapi, Aslo juga tahu, kalau ada Kanca Dahar yang melepas jenuh dengan berburu kuliner di malam hari. Sama dengan Kanca Dahar, Aslo pun demikian.

Malam itu (09/10), Aslo juga berburu kuliner untuk melepas jenuh setelah beraktifitas penuh di siang hari. Aslo yang sebelumnya dibuai nikmat bubur kacang hijau buatan Sarwanto, pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Raya II, Salatiga, kini semakin ketagihan dengan cita rasa kuliner PKL. Aslo lantas berkunjung ke bengkel Montecarlo, di Jalan Blotongan, Salatiga, Jawa Tengah dimana pada malam hari, bengkel yang sudah tutup itu dimanfaatkan penjual nasi goreng, setiap Senin sampai Sabtu.

Bukan penjual nasi goreng kemarin sore, PKL itu sudah berjualan selama kurang lebih 10 tahun. Kali pertama berjualan nasi goreng, Jumeri bersama anaknya, Siswanto membuka lapak di depan rumah, di daerah Soka, dan tidak jarang mereka menyorong gerobak mereka sampai ke tepi Jalan Blotongan, alias tidak menetap. Semasa itu, warga sudah kecanduan dengan kenikmatan nasi goreng buatan ayah dan anak tersebut, sehingga mereka mendesak Jumeri dan Siswanto mencari tempat tetap, agar mereka dapat dengan mudah menemukan nasi goreng yang nikmat itu.

Mendengar cerita itu, tanpa basa basi Aslo lantas memesan nasi goreng buatan ayah-anak itu. Pandangan pertama melihat nasi goreng tersebut, sungguh membuat mulut Aslo mengaga. Bagaimana tidak, nasi goreng yang berwarna cokelat keemasan itu, menggunung dengan taburan bawang goreng di atasnya, serta acar dengan potongan tipis panjang, sekaligus tiga potong tomat tebal di samping kanan dan kirinya. Sungguh porsi yang besar untuk perut Aslo.

Nasi Goreng
Nasi Goreng Montecarlo yang siap disantap (Foto: Amos Allister).

Suasana malam Salatiga yang dingin membuat Aslo semakin semangat menyantap nasi goreng yang menggunung nan masih hangat itu. Kenikmatan yang sejak dulu dirasakan warga sekitar Soka, kini turut memanjakan lidah Aslo. Sebuah cita rasa nasi goreng yang light atau bisa dibilang cocok dengan lidah kebanyakan orang Indonesia.

Tak berhenti di situ saja, Aslo sepertinya memang sering dikejutkan dengan potongan-potongan daging ayam bagian dada, yang besar terselimuti gunungan nasi goreng itu. Lama kelamaan, sampai tidak terasa nasi goreng yang menggunung itu sudah habis disantap Aslo. Tapi setelah menyantap, tampaknya Aslo merasa kesulitan. Kesulitan untuk duduk, karena porsi nasi goreng yang banyak itu.

Mencicip nasi goreng Montecarlo, Aslo lantas teringat masa saat masih menjadi mahasiswa. Dulu, Aslo sering mencari makanan yang enak, murah, dan banyak. Makanan dengan kriteria seperti itu, selalu menjadi pilihan utama. Ibarat pemuda yang sedang mencari pasangan, kini Aslo sudah bertemu dengan jodohnya, Nasi Goreng Montecarlo.•

Redaktur : Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close