Gaya Hidup

Neptu Jawa di Pasar Hewan Ambarawa

Aslo berkunjung ke Pasar Hewan Ambarawa, salah satu pusat perbelanjaan di Jawa Tengah yang masih mengacu pada Neptu, atau hari dagang berdasarkan penanggalan Jawa.

Rio Hanggar Dhipta

Main-main ke Ambarawa, rasanya tak lengkap jika belum mampir ke Pasar Pon. Pasar Pon yang sering dikenal masyarakat sebenarnya merupakan Pasar Hewan. Kata Pon sendiri sebenarnya diambil dari kalender Jawa. Dalam penanggalan Jawa tersebut, Pon hanya terjadi sekali dalam lima hari. Oleh karena itu, Pon berbeda dengan hari Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Hewan Ambarawa, Kuncoro Murjatmiko, menjelaskan bahwa pasar tersebut sebenarnya sudah pindah beberapa kali. Sebelum akhirnya mandapatkan tempat yang paten, di seberang Ngebong (baca: Makam Tiong Hoa), Ngrawan, Bawen. “Jadi, dulu pasar sapi dan pasar kambing terpisah. Kalau pasar kambing itu di Gamblok, sedangkan pasar sapinya yang dekat Museum Kereta Api, Ambarawa. Kemudian, karena sudah ada pengembangan pasar, sehingga pasar hewan disatukan agar pasar sapi dan kambing di tempat ini,” jelasnya.

Meski namanya Pasar Pon, tetapi beberapa bagian di pasar hewan itu tetap beroperasi setiap hari. “Karena sekarang ada pengembangan pasar burung, untuk pasar burung ini setiap hari buka,” tambah Kuncoro.

Hewan didatangkan dari daerah pegunungan

Aslo disambut ratusan hewan saat menelusuri Pasar Pon. Meski kambing dan sapi lebih mendominasi, tapi ada juga aneka unggas yang di jual di sana. Satpam Pasar Pon, Feriyanto juga menyambut hangat kedatangan kami. Beliau mengajak kami jalan-jalan di dalam pasar, sambil menjelaskan banyak hal mengenai pasar tersebut.

Kata Feriyanto, hewan-hewan yang ada di pasar tersebut berasal dari sekitaran Ambarawa. “Kebanyakan dari wilayah gunung-gunung. Gedong Songo, Sumowono, dan Kopeng itu datang ke sini,” jelasnya.

Pasar Pon memiliki budaya transaksi jual-beli hewannya sendiri. Ada pedagang yang menjual hewan secara langsung, disamping ada juga yang menjual lewat blantik (baca: makelar sapi). Saat berbincang dengan Feriyanto, kami memintanya untuk mengantarkan kami bertemu dengan blantik. Namun sayang, momen tidak berpihak kepada kami. “Jam segini tidak bisa. Soalnya masih banyak yang transaksi. Jadi belum bisa diganggu,” katanya.

penjual
Bambang Sukoco (kanan) merupakan salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Ambarawa. Kala ditemui Aslo siang itu (27/7), ia sudah menjual 11 ekor sapi dengan harga 20 juta tiap ekornya (Foto: Bryan Perdana).

Kami lantas mengurungkan niat untuk menemui blantik. Meski demikian, penelusuran kami tidak berhenti. Ketika tiba di suatu gubuk kayu di pinggir kumpulan sapi, kami bertemu Bambang Sukoco yang menyambut hangat kedatangan kami. Ia adalah penjual sapi, yang sudah sejak pagi menunggu sapi-sapinya laku dipasarkan temannya (blantik). “Nggih kanca-kanca sing pada adol (baca: ya, teman-teman yang menjual –red),” terang Bambang sembari menunggu kabar dari temannya.

Bambang juga sempat bercerita tentang pengalamannya berjualan sapi. Semula, ia berjualan sapi di pasar kulon (baca: barat), atau yang dimaksudnya adalah pasar lama di dekat Museum Kereta Api, Ambarawa. Kemudian, saat pasar hewan pindah ke Bawen, Bambang juga ikut menjual sapinya di pasar tersebut.

Adanya Pasar Hewan atau Pasar Pon itu tampaknya sangat membantu pedagang hewan ternak. Bahkan siang itu, ketika matahari tepat berada di atas kepala, Bambang sudah menjual 11 ekor sapi. Dari tiap ekornya, Bambang bisa mendapat 20 juta rupiah.

Kemudian, selain hewan yang di jual di pasar itu ternyata ada berbagai macam barang juga. Aslo sempat berkeliling, untuk melihat barang yang ada dan menemui banyak barang yang tidak biasa ditemukan di pusat perbelanjaan pada umumnya. Mulai dari daging ayam yang biasa dipakai untuk membuat Soto, hingga daging ular yang masih segar. Ada juga sejumlah perkakas seperti obeng, tang, dan palu, sampai mandau (pedang dari suku Dayak).•

Redaktur: Galih Agus Sapura.

Klik gambar di bawah ini untuk menyaksikan video berita Neptu Jawa di Pasar Hewan Ambarawa:

Pasar

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close