Ulasan

Nilai Tukar Dolar Naik, Bagaimana Kita Melihatnya?

Beberapa pekan lalu, publik heboh karena melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Kepanikan menjamur karena masyarakat mengganggap hal itu akan mengulang krisis moneter Juni 1998, dimana kurs dolar menyentuh angka Rp. 16.650.

Aleixo Alberto Cesar

Pada 5 September 2018 lalu, PT. Bank Central Asia Tbk memasang nilai tukar rupiah untuk dolar hingga Rp 15.150. PT. Bank CIMB Niaga Tbk mematok pada Rp 15.050, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memaparkan kurs jual dolar AS sebesar Rp 15.003. Pertanyaannya, apakah itu menjadi bahaya untuk perekonomian Indonesia?

Peminjaman merupakan salah satu yang penting dalam sumber pendanaan pemerintah dan swasta untuk menunjang aktivitas ekonomi. Mengingat negara kita memiliki utang, tentu naiknya kurs dolar terhadap rupiah menjadi PR ekstra dalam mengatur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Negara sebenarnya telah menargetkan untuk kurs dolar pada 2018 hanya sampai pada Rp 13.400. Sedangkan dari sudut pandang Swasta, maka biaya produksi menjadi terhambat karena beban atas lonjakan kurs dolar.

Namun, melemahnya rupiah terhadap dollar tidaklah selalu buruk. Bila kita menengok kegiatan perdagangan di pasar internasional, Indonesia dapat melihat ini sebagai peluang dalam meningkatkan surplus perdagangan. Indonesia dapat memacu di segi ekspor dengan bermitra dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Singapura, atau Malaysia. Komoditas ekspor yang dapat dimaksimalkan misalnya minyak, gas, dan kelapa sawit. Dewasa ini, Indonesia termasuk pengekspor utama Crude Palm Oil (CPO) di dunia dengan pangsa pasar mencapai 50%.

Belum lagi dari sektor pariwisata, jumlah turis asing yang datang mengunjungi Indonesia justru menambah kejayaan tersendiri di saat kurs rupiah melemah. Berdasarkan pantauan Aslo.co di website Kementrian Pariwisata (Kemenpar), tercatat pertumbuhan wisatawan mancanegara sejak Januari hingga Juli 2018 mencapai 12,92%.

Hal lain, kepanikan akan kurs dolar yang menguat dapat disingkirkan dengan melihat inflasi negara saat ini yang berada di angka 3,2%, dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 mencapai angka 5,27%. Berbeda pada 1997 inflasi mencapai 78,2% dengan pertumbuhan ekonomi minus 13,34%. Penyebab depresiasi rupiah saat itu juga didorong faktor eksternal, seperti perang dagang antara AS-Cina, kenaikan suku bunga AS, hingga krisis ekonomi yang melanda Turki serta Argentina.

Dewasa ini, Direktur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa lembaganya terus memantau nilai tukar rupiah. Ia memprediksi, tidak akan terjadi goncangan ekonomi akibat depresiasi rupiah. Indonesia sudah melewati level kurs dari Rp9.000, Rp10.000, hingga Rp13.000. Bila memang terjadi depresiasi, hal tersebut tidak akan mendadak, tapi gradual.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close