Komunitas

Nyala Little Hope Indonesia

Impiannya mencerdaskan bangsa

Rio Hanggar Dhipta

Sore itu (27/5), Aslo berkunjung ke daerah Jembrak, di pinggiran kota Salatiga untuk melihat kegiatan Little Hope Indonesia. Kedatangan Aslo disambut kecerian anak-anak yang berlarian kesana-kemari. Teriakan demi teriakan, membuat sore itu menjadi momen nostalgia di masa kanak-kanak, sembari menunggu kakak-kakak dari Little Hope Indonesia mempersiapkan materi pengajaran.

Little Hope Indonesia merupakan komunitas sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan. Meskipun mengganggap dirinya sebagai komunitas, namun Little Hope Indonesia mempunyai sistem layaknya organisasi pada umumnya. “Basisnya komunitas, tapi kita mengelolanya seperti organisasi. Tujuannya cuma satu, agar komunitas ini bisa terus berjalan karena jika tidak diorganisir dengan baik takutnya nanti malah bubar” ucap Giovania Kartika, yang hangat disapa Nia.

Nia sendiri merupakan pendiri Little Hope Indonesia. Tujuan awal dibentuknnya komunitas itu berawal dari kepulangan Nia dari Vietnam sebagai relawan Association Internationale des ѐtudiants en Sciences ѐconomiques et Commerciales (AIESEC), yang bergerak dalam bidang pendidikan. Semangatnya tak ingin luntur setelah pulang dari program tersebut. Ia yang tergerak hatinya lalu membentuk sebuah komunitas itu.

Awalnya, Nia mengajak dua temannya untuk membentuk Little Hope Indonesia. Kedua temannya juga mengajak teman yang lain, sehingga terdapat sumber daya manusia yang dirasa cukup untuk menjalankan komunitas itu. Mulai terbentuk sejak November 2016, namun baru benar-benar memulai aktivitasnya pada Januari 2017.

“Dalam jeda waktu dua bulan itu kita mencari tempat, kita mencari beberapa teman untuk membantu Little Hope. Awalnya masih sedikit relawannya. Enggak sampai sepuluh orang,” jelas Nia.

Fokus ke siswa SD

Little Hope Indonesia, mulanya tidak berencana mengadakan kegiatan di dalam lingkungan sekolah, karena sebenarnya kegiatan itu untuk anak-anak umum. Namun, karena tidak adanya tempat yang bisa dipakai di Jembrak, Kepala Desa akhirnya merekomendasikan untuk memakai SD Negeri Jembrak, di Dusun Tegalsari, Desa Jembrak, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Little Hope Indonesia merupakan komunitas yang berdiri mandiri dan tidak berafiliasi dengan organisasi apapun. “Kebetulan relawan kami kebanyakan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), tapi kami tidak berafiliasi dengan UKSW sendiri,” jelas Nia.

Komunitas itu tidak membatasi siapapun untuk bergabung. “Kami sangat senang sekali jika bisa lebih beragam karena mungkin akan banyak pengalaman yang bisa dibagikan,” tambah Nia, dengan semangatnya.

Saat ini, Little Hope Indonesia masih fokus mengajar siswa SD. “Kami merasa anak-anak SD masih pada masa pertumbuhan dan mereka masih menyerap banyak hal,” terang Nia.

Nia juga mengatakan bahwa komunitas itu tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kegiatan pada jenjang yang lebih luas. “Ya, cita-cita lah, tapi inginnya nanti,” tambahnya, sambil tersenyum optimis.

Mencerdaskan Bangsa

Nia punya prinsip pada tujuan negara yang pernah ia dapat dari mata kuliah Kewarganegaraan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. “Keprihatinannya adalah banyak sekolah yang bagus, banyak juga yang nggak terurus. Tapi, kalau cuma mengandalkan bantuan untuk bisa membenarkan semua sekolah, mau sampai kapan?” serunya.

Little Hope
Salah seorang anak sedang belajar bersama relawan Little Hope Indonesia (Foto: Rio Hanggar Dhipta).

Little Hope Indonesia menganggap bahwa pendidikan merupakan kebutuhan primer. Kebutuhan bagi siapa saja, dan komunitas itu berharap bisa membantu meski tidak signifikan. Pada masa awal, masyarakat tidak terlalu bisa menerima tujuan kegiatan komunitas itu. Banyak anak yang tidak diperbolehkan oleh orang tuanya untuk bergabung. Namun, lambat laun keraguan para orang tua mulai luntur, terlebih lagi pada saat penerimaan rapor sekolah.

“Begitu terasa perkembangan dari anak-anak yang mengikuti kegiatan ini. Mulai, dari situlah kami mendapat dukungan dari para orang tua karena mereka sudah melihat sendiri hasilnya. Atau mungkin bukan karena anaknya, tapi melihat prestasi anak tetangganya. Biasa, ibu-ibu suka cerita,” jelas Nia yang terlihat girang.

Tiga Kata Ajaib

Little Hope Indonesia tidak hanya menekankan pada pendidikan akademik, namun juga pendidikan non-akademik atau pendidikan karakter. “Mereka tidak mempunyai kegiatan ekstra kulikuler, karena tidak mempunyai guru kesenian yang spesifik. Memang kekurangan tenaga pengajar,” ungkap Nia.

Sementara itu, Little Hope Indonesia sendiri mempunyai program pengajaran pada Senin, Rabu, dan Jumat. Pada Senin dan Rabu, komunitas itu mengembangkan keterampilan akademik, sedangkan pada Jumat gilirannya menggembangkan keterampilan non-akademik misalnya melalui kelas kesenian. “Pada setiap kelasnya, kami juga mengajarkan pendidikan karakter dan selalu mengajarkan Tiga Kata Ajaib (Three Magic Words): Terimakasih, Maaf, dan Tolong,” kata Nia.

Nia juga mengungkapkan bahwa saat ini komunitasnya memiliki kendala internal. Ia kesulitan memastikan jumlah relawan di awal dan akhir program. Menurutnya, menjadi relawan itu memang susah-susah gampang karena di satu sisi banyak tenaga yang harus dikeluarkan, dan di sisi lain tidak mendapat bayaran. Sementara itu, soal kendala eksternal pada kegiatan belajar-mengajar, sejauh ini hanya lah soal mengatasi suasana hati (mood) anak-anak.

Sesuai Jalur

Nia mengaku tidak mendapat keuntungan material selama beraktivitas di Little Hope Indonesia. Namun, ia merasa mendapat kepuasan tersendiri saat menerima apresiasi, baik dari pihak sekolah maupun anak-anak yang belajar di komunitasnya. “Anak-anak pernah ngomong ke kami lewat surat yang mereka tulis sendiri. Terimaksih, Kak. Jangan berhenti ngajar ya. Yang kayak gitu-gitu itu yang bikin ngerasa bahwa kami memang berada di jalur yang benar,” tutur Nia.

Sementara ini Little Hope baru melaksanakan kegiatannya di satu lokasi saja. Namun, komunitas itu berharap dapat menambah lokasi pengajaran. “Kedepannya kami ingin menambah lokasi, entah di Salatiga atau di luar Salatiga. Kami juga ingin kegiatan ini ada di banyak tempat di Indonesia. Itu adalah bentuk dari wujud mimpi kami yang membawa nama Indonesia dalam nama Little Hope Indonesia,” jelas Nia.

Little Hope Indonesia berharap bisa mendapatkan lebih banyak lagi tenaga pengajar untuk bisa mencapai mimpinya. Komunitas itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang tergerak hatinya untuk bergabung, dan mempublikasikan seluruh kegiatannya melalui akun Instagram @littlehopeindonesia. Ada juga laman daringnya, yang dapat diakses melalui littlehopeindonesia.wixsite.com.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close