Cerita Pendek

Palingkan Wajahmu, Niko! (Bagian I)

Terpapar sinar senja di wajahku saat itu, mengenang dia
yang pernah memberiku harap dan tidak pernah memenuhinya.
Mungkin dia lupa
. Atau hanya tidak pernah percaya jika dia
pernah mengatakan hal yang
membuatku semakin jatuh dalam perangkapnya.
Saat itu
, aku sungguh membencinya. Sakit. Tapi aku diam-diam merindunya.
Aku jatuh cinta untuk pertama kali dan diberinya luka.

Benedicta Rosiaria

Fiona Fortuna atau biasa dipanggil Nana, nama ini diberikan mamaku agar aku menjadi perempuan yang cantik dan baik hati serta membawa keberuntungan, atau bisa jadi selalu beruntung. Ya, setidaknya untuk sekarang aku masih beruntung karena memiliki kedua orang tua yang sayang kepadaku, dan satu kakak laki-laki yang hobinya menggangguku. Aku bersekolah di sekolah yang lumayan ternama di kota ini. Kota kecil dengan berbagai macam budayanya.

To be honest, aku adalah pelajar yang biasanya, ya, paling cuma turut sebagai pemenang dalam kelas terbersih saja. Ya, aku tau itu sebenarnya prestasi yang tidak perlu dibanggakan. Tapi, daripada sama sekali tak punya prestasi? Haha Beruntungnya, aku memiliki tiga sahabat yang selalu ada untukku. Angel, adalah gadis cantik yang tampak pendiam tapi sebenarnya sangat tidak pendiam dan cerdas. Bahkan, suatu saat dia pernah dengan konyolnya menari tidak jelas sambil bernyanyi dengan suaranya yang fals (baca: sumbang). Tiba-tiba saja, ada adik kelas yang disukainya melongo karena kelakuan Angel yang gila. Kemudian, cepat-cepatlah Angel merapikan penampilannya dan ngacir ke toilet. Kami bertiga lalu tertawa terbahak-bahak, dan mengatakan kalau Angel sedang sugar rush dan kebanyakan micin.

Selanjutnya ada Almira, yang hitam manis, kalem, dan perhatian pada teman-temannya. Terakhir, Venta, yang diantara kami bertiga sering dikata seorang dewi. Angel kadang suka kesal kalau Venta dibilang dewi. Angel pernah bilang, “kan, arti nama Angel dalam bahasa Indonesia itu dewi. Kalau Venta, cari lah sendiri artinya.” Duh, dasar Angel ini memang pengennya dipuji terus. Oke, lanjut. Venta memiliki paras yang cantik, putih, tinggi, langsing yang, ah, bak model internasikornet. Tapi memang, Venta adalah model. Sayangnya, Venta agak lelet kalau diajak ngobrol dan Angel sering gemes sendiri dibuatnya.

Harus aku yang ngomong sama Venta, dari satu demi satu kalimat agar ia paham. Memang, Tuhan selalu memberi keadilan di setiap hidup manusia. Kami berempat tidak pernah menamai pertemanan ini, karena kami pikir kami tidak perlu hal itu. Toh, kami juga tidak geng-geng-an. Hanya kami sering bersama di saat ke kantin atau bermain.

***

Pada hari Senin, di Minggu kedua selalu ada upacara, dan aku selalu, dan selalu saja telat. Untung ada si Angel, dan Almira yang bisa umpetin aku ke dalam barisan peserta upacara. Ya, aku selalu butuh dua orang itu untuk menutupi badanku. Angel yang kurus dan Almira yang agak chubby. Si Venta menjaga tempat untuk berbaris di lapangan. Semua terselamatkan dan Venta kali ini tepat, aku ditempatkan di dekat pemimpin tiap barisan yang berarti dekat dengan Niko, kakak kelas yang setahun lebih tua dan ganteng.

Aku melirik ke ke kiri dan mencolek Venta untuk memberikan tanda terimakasih dan tersenyum girang. Angel dan Almira di barisan kedua juga tersenyum melihatku sangat senang dan jaim di dekat Kak Niko. Waktu itu Kak Niko berdiri tegap dan lebih tinggi, kurang lebih satu setengah jengkal jaraknya dariku. Mungkin pula, waktu itu tinggi badannya mencapai 170an, tidak khayal karena dia sangat suka berolahraga: futsal dan sepakbola. Meskipun sering di outdoor, Kak Niko tidak memiliki kulit yang gosong, tapi justru putih jika dibandingkan dengan cowok lainnya. Saat terkena sinar matahari, Kak Niko berubah menjadi kepiting rebus. Merah sekali, tapi menurutku tetap ganteng.

Upacara berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Aku yang masih berdiri di samping Kak Niko. Berharap agar dia memperhatikanku. Tapi, nyatanya dia malah dirangkul dari belakang oleh temannya dan langsung meninggalkan lapangan.

Ya elah,aku cemberut

Almira kemudian mencairkan suasana, “ya sudah, nanti kan bisa ketemu lagi, seperti biasa.”

Aku membalas, “iya sih Mir, tapi gak bakal bisa sedekat tadi kan?”

Venta pun menceletuk, “oi Ngrumpi aja, ke kelas yuk. Haus nih”.

Setelah itu, kami berempat lalu bergegas pergi ke kelas. Di dalam kelas, lumayan sejuk karena ada kipas angin dan air mineral yang dapat ku teguk untuk menghilangkan hawa panas selama upacara tadi.

“Na, kamu sudah ngerjain PR Bahasa Mandarin belum?” Almira mengingatkan.

“Ya ampun Mir!?” Aku lupa kalau ada pelajaran Mandarin.

Ah, yes, ada temannya. Aku juga gak bawa kok, Na,” sahut Angel dengan santainya.

“Aku juga belum ngerjain kok, Na,” Venta kemudian juga nyengir di depan wajahku.

“Kalau Venta mah jangan ditanya, kalau itu hidung gak nyantol tiap hari, mungkin tiap hari juga gak dibawa,” kata Angel.

Ih, apaan sih Ngel. Jahat terus sama Venta,” Venta cemberut

Nah, terus sekarang gimana? Aku gak bawa bukunya, mana Laoshi Lin galak lagi,” keluhku.

“Venta punya ide, kan itu pelajaran keempat setelah istirahat gimana kalau….”

“Ven, kita kan sering ngelakuin itu. Kalau gitu terus malah kebongkar lah,” sahut Angel.

“Si Angel nih ya, Venta belum selesai ngomong. Kan, hari ini keliatannya kelas sebelah ada pelajaran Mandarin, nah, kenapa gak pinjam dari mereka saja? Toh, kalau PR-nya gak dikerjain, seenggaknya ada bukunya, ya kan?” terang Venta.

Almira setuju, “bener tuh, Na. Coba deh, kamu pinjam dari kelas sebelah”.

“Oh iya! Ven, temani ya, pinjamin sekalian. Kan, ada pacarmu,” bujukku.

“Oke, Na. Gampang itu, hehe… ,“ jawab Vena sambil tersenyum dengan manisnya.

“Tumben nih, si Venta cerdas. Terus kalau Nana dihukum keluar kelas buat ngerjain gimana?” Angel mencoba menjatuhkan pendapat Venta.

“Mmm… gimana ya Ngel? Ya, Venta ikut Nana buat ngerjain di luar. Lagian, aku juga bosan di kelas terus. Kalau di luar, kan, bisa ketemu Fido hehe… ,” balas Venta.

Angel kemudian menoyor Venta, sambil berkata, “ye… dasar! Ya sudah, aku ikut deh kalau gitu. Ven, awas kamu kalau ngerjain PR-nya”.

“Emang, kalian terbaik deh! Mir, jangan ikutan kita ya. Biar nanti aku bisa belajar lagi dari kamu,” kataku.

“Ya sudah deh, Na,” jawab Almira, dengan raut sedih di wajahnya.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close