Cerita Pendek

Palingkan Wajahmu, Niko! (Bagian II)

Sebelum selesai istirahat, aku dan Venta mampir ke kelas sebelah dan meminjam buku Bahasa Mandarin ke Fido. Aku berterimakasih ke Fido kemudian kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, Ketua Kelas bilang kalau Laoshi Lin sakit dan tidak bisa mengajar hari ini.

Benedicta Rosiaria

Rasanya lega sekali. Tapi Laoshi Lin bukan Laoshi Lin kalau gak kasih tugas. Kami diperbolehkan untuk mengerjakan tugas di dalam ataupun di luar kelas. Dan seperti biasa, kami berempat memilih untuk mengerjakan di luar kelas, di kantin, dekat dengan kelas Fido dan Kak Niko.

“Na, ngapain deh? Ini kerjain dulu!” Almira membuatku tersadar kalau aku sudah terlalu lama memandangi kelas Kak Niko.

Eh iya, Mir hehehabis di sini adem, jadi enak,” sahutku sekenanya.

Setelah itu, bel berbunyi. Berarti pelajaran Bahasa Mandarin telah usai dan berganti dengan istirahat kedua, aku kemudian meminta Almira untuk menemaniku ke WC. Aku sendiri, pun sebenarnya tidak tahu kenapa cewek selalu minta ditemani ketika pergi ke WC. Hanya saja, aku merasa aman ketika ada teman.

“Na, sebentar!” seru Almira.

“Mir, aku udah kebelet. Bentaran doang kok. Tahan dulu, ini udah bener-bener di ujung,” balasku.

“Oke deh… ,” balas Almira.

Beberapa saat kemudian.

“Yuk, Mir. Sudah kan?” ajakku.

“Na, aku mau ngomong,” tampak Almira seperti hendak mengajak untuk membicarakan hal yang serius.

“Iya, Mir apa? But are you ok?”

“aku gapapa na, tapi kamu..

“Ada apa, Mir? Kenapa?” kini aku khawatir dengan posisiku

OiNa, Mir, lama banget deh. Istirahatnya keburu kelar,” Angel yang kayak setan tiba-tiba muncul,.

“Angel Tan! Ngagetin tau gak!” seruku.

Ye… , kalian sih lama. Kenapa sih? “Angel ingin tahu

Iye, gara-gara kamu, Mira gak jadi pup. Pup-nya balik lagi gara-gara kaget!” kataku, sementara Mira yang saat itu gelisah langsung nyengir kesakitan.

“Iya nih Ngel, padahal udah mau keluar loh,” sahut Almira tiba-tiba.

Ah… , maaf Mir… , sumpah, aku gak tahu! Ya sudah, yuk, Mir aku traktir biar cepet keluar juga,” Angel yang merasa bersalah mencoba membela diri.

“Aku Ngel? Gak di traktir sekalian?” bujukku.

“Sembelit dulu baru aku traktir!” jawab Angel.

“Jahat banget deh, emang dewi neraka ya!” seruku.

“Berani-beraninya ya kamu, Na… ,” sahut Angel.

Eh, sudah Ngel. Yuk, ke kantin, kasihan Venta sendirian,” kata Almira.

Ye Mira nih lucu. Venta itu kan kayak madu. Banyak lebah yang nemplok,” jawab Angel.

“Kalo kamu kayak lem cap gajah ya Ngel?” ledekku.

“Hah? Emang apaan, Na?”

“Ya, pokoknya itu juga bisa mengumpulkan banyak perhatian, Ngel,” terangku.

Ah sa ae kamu, Na. Emang Angel ini menarik perhatian semuanya…” katanya.

“Lalat!” sahutku.

Aku dan Almira kemudian kabur dari WC, meninggalkan Angel yang tampak semakin sebal denganku.

GEDEBRUUK

Eh, maaf, maaf”.

“Gak apa-apa kok, Kak”.

Almira terkejut, lantas meninggalkan ku sambil berkata, “Ah, aku duluan ya. Keburu ketemu guru”.

Eh, Mir!? Yaelah, ini anak aneh banget deh hari ini,” gerutuku.

Eh, iya, maaf ya. Eh, Dik Putra to?” sambungku, sambil mengambil buku tugas Putra yang tercecer karena ditabrak Almira.

“Tugas Pak Eko ya ini?”

“Eh, iya, Kak Nana hehe…. Aku harus ke kantor guru dulu ini,” kata Putra.

Eh? Iya dek hehe” jawabku, sambil terheran-heran karena si Putra mukanya merah

Angel kemudian datang merangkulku dari belakang, sambil berbisik, “Na, ada Putra tadi?”

“Iya, tadi aku megang tangannya Putra kok. Aku ngobrol, dia udah punya pacar apa belum,” godaku.

“Ganjen ya!? Terus, terus?” Angel menimpalinya.

“Katanya, dia suka sama kakak kelasnya, sekelas sama kita.”

“Dia kasih inisial ga?” sahut Angel sambil terkejut.

“Iya, kasih nama, Fiona Fortuna!”

Eh, batagor basi, jangan ngarep ya!” kata Angel kini tampak menyergah.

“Tanya gih ke dia, kalau berani,”

Hehe Malu dong… ”.

Ye… Dasar tahu petis. Kesukaan lalet,” kataku, yang kemudian ditoyor Angel dan setelahnya kami berjalan bersama menuju kantin sekolah.

Kemudian, setibanya di kantin sekolah, Angel duduk sambil bertanya, “tadi kok bisa ngobrol sih sama Putra, Na?”

“Dibilangin Putra suka sama aku kok,” jawabku sekenanya, sementara Almira yang lebih dahulu tiba dan duduk di depan kami tiba-tiba Almira tersedak makanannya.

Tuh, kan gara-gara batagor basi jadi kesedak kan Almira!” seru Angel.

“Gak apa-apa kok Ngel. Mungkin aku kecepetan makannya,” kata Almira sembari meneguk minumannya.

“Tahu nih, kecombrang goreng, bisaan nyalahin orang lain,” belaku.

Eh, sayur asem, nyolot ye” balas Angel.

“Mana sayur asemnya Ngel? Venta sama Fido mau,” seru Venta tiba-tiba yang tengah duduk bersama Fido, pacarnya.

“Nih… ” kata Angel sambil menyodorkan mangkuknya yang isinya tinggal kuah saja.

“Angel halusinasi ya? Kamu kurang makannya Ngel?” sahut Venta.

Iye, gara-gara kamu, aku kurang darah terus!”

“Kamu lagi mens Ngel?”

“Serah lo, Ven… Do urusin nih, pacarmu!” balas Angel, dengan sebalnya.

Aku sendiri tertawa terbahak-bahak melihat cecok di antara mereka. Bahkan, aku hampir jatuh karenanya. Namun, sebelum jatuh telentang dari kursi tempat ku duduk, tiba-tiba saja: “eh, hati-hati, Dik”.

Ah, iya, Kak. Maaf… ,” jawabku sekenanya, tanpa memandang wajah orang itu namun lantas diselimuti rasa penasaran: “suara ini? kok buat jantungku dakdikduk ya?

Setelah itu, pandangan lantas kuarahkan ke atas dan dengan sekejap teriak lah di dalam hatiku, “Kak Niko!?“.

Angel yang mulanya sebal, kini mulai tampak ada tawa-tawa kecil di wajahnya. Begitu juga dengan Almira, apalagi Venta. Fido? Dia ikut-ikut saja.

Tuh.. Tuh Muka Nana udah merah aja,” timpal Almira.

Cie Nana suka Kak Niko… Ciee,” Fido yang tadinya cuma ikut-ikutan ketawa kini mulai mengerti apa yang kurasa. Dia mulai seperti Angel: Kampretos, numerou uno! Keadaan telah berbalik. Kini aku yang menjadi pusat perhatian di antara mereka.

“Sudah. Sudah,” aku pukul-pukul ringan mukaku, dan kuserukan kepada mereka untuk menyudahi celotehnya. Tak lama kemudian, bel sekolah pun berbunyi dan kami bergegas pergi dari kantin untuk kembali ke kelas.

Getar dan Getir

Sekolah hari ini telah usai, tapi tidak untuk melihat kak Niko. Sepulang sekolah aku selalu bergegas menuju aula bawah bersama Angel dan Almira. Lalu Venta selalu pulang lebih awal bersama Fido, kekasih yang baik hati dan selalu setia, katanya. Aku, Angel dan Almira selalu menunggu seseorang, bukan beberapa orang, tapi satu dan dia cukup special menurutku, Kak Niko.

Sebelum pulang ke rumah, Kak Niko selalu menyempatkan diri untuk main sepakbola di lapangan dekat aula sekolah. “Na. Na. Tuh, udah datang,” seru Almira mengingatkanku.

Ah Kak Niko, semakin hari semakin ganteng. Kulitnya putih, bersih, badannya tinggi, dan tak begitu gendut ataupun kurus. Bibirnya merah. Hidungnya mancung. Matanya tajam. Dan yang paling ikonik dari Kak Niko adalah rambut jabriknya, atau terkadang hanya satu jambul. Udah meleleh aja hati ini kalau melihatnya.

Woy Jangan terbang dulu. Noh dia lihatin sini,” kata Angel.

Hah? Kak Niko lihat ke arahku? Sontak, kulempar senyum kepadanya. Ia pun membalas, lantas fokus pada permainannya di bawah terik matahari yang sangat panas, dibarengi keringat yang mengucur di wajahnya. Rasanya, ingin ku sodorkan handuk padanya.

BAAKKK

“Loh, kenapa aku pusing? Mukaku panas? Banyak kunang-kunang?“

“Na? Kak, tolong! Ini berdarah.. !” teriak Almira.

Beberapa saat kemudian, ia kembali bertanya, “Na? Kamu gak apa-apa?”

“Kenapa nih, Mir? Kok aku ada disini?” tanyaku, bingung.

“Maaf ya, Dik Fiona. Aku gak sengaja,” kata Kak Niko yang entah darimana dan kapan datangnya, namun kini sudah berada di hadapanku.

Masih dalam keadaan heran, lantas ku jawab sebisanya, “Ah, iya Kak Niko… ”

“Kalau begini, lain kali kalau mau lihat Kak Niko agak jauhan aja deh, Na, ” ujaran polos dan lugu itu tiba-tiba keluar begitu saja dari Angel.

“Bodohnya, anak ini… ,” ucapku dalam hati.

Beruntungnya, Almira bisa menimpal untuk mengaburkan suasana, “iya, gak apa-apa deh, Na. Agak jauh yang penting bisa liat tekniknya Kak Niko. Yang penting bisa dipelajari.”

“Syukur kamu bisa mengatasi ini, Almira,“ batinku, yang sedikit banyak masih tetap cemas.

“Oh… , kamu suka sepak bola juga, Dik?” kini Kak Niko kembali bertanya, dan rupanya benar, ia telah teralih pada kalimat yang keluar dari mulut Almira. Namun sayangya, si Angel ini memang bodonya berlapis-lapis. Entah disengaja atau tidak, kalimat polos dan lugu itu kembali keluar dari mulutnya, “Iya, Kak Niko. Nana tuh suka sama sepak bola gara-gara Kak Ni… .”

Almira yang tanggap kemudian menyekap mulut Angel yang ember.

“Maksudnya, Nana suka sepak bola kan karena kakak-kakaknya cowok semua, Kak… hehe… ,” sahut Almira.

“Ah… leganya. Jago sekali kamu ini, Mir. Selalu tahu apa yang kurasa dan kupikirkan,” kataku dalam hati, yang di satu sisi belum tegap berdiri, namun di sisi lain sudah ingin lompat-lompat kegirangan karena bisa berada di dekat kakak kelas yang selama ini aku idamkan-idamkan.

Oh Begitu. Ya sudah, Fiona. Sekali lagi aku minta maaf ya. Aku juga gak bisa lama-lama di sini. Aku harus kejar bus buat pulang,” kata Kak Niko, setelah mendengar penjelasan Almira.

“Iya… , Kak, gak apa-apa. Soon, I’ll be fine. Hati-hati, kak. Makasih juga udah disempetin nganter ke sini,” balasku.

Okay, duluan ya. Cepat sembuh, Fiona,” katanya sembari Angel mengantarkan kak Niko keluar

“Siap, Kak Niko. Hati-hati di jalan,” balasku sekali lagi, dan kini ku bisa tersenyum, hingga rasa nyeri di hidung dan pusing di kepalaku tak terasa lagi.

“Na, sudah bisa bangun kan? Yuk, pulang, ke rumahku dulu aja. Biar nanti orang tuamu gak khawatir lihat kamu kayak gini,” kata Almira kemudian sambil menawarkan bantuan. Lalu aku mengiyakan dan bertemu Angel diluar.

Mendekat, Melekat, dan Hilang

Setelah itu kejadian itu, aku mulai dekat dengan kak Niko, kami akhirnya keluar bersama dengan ketiga sahabatku, plus Fido, pacar Venta. Seperti pola, aku bersama kak Niko, Almira dan Angel, lalu Venta dan Fido. Kami merasa cocok bersama-sama sampai akhirnya di suatu saat aku yang seharusnya pergi hanya bersama Kak Niko, dan akhirnya dirinya membatalkan janjinya padaku karena dia merasa sakit, melihat Kak Niko dan Angel bersama, dari jauh aku melihat mereka bergandeng tangan, melemparkan senyum dan tawa.

Aku tidak mengerti bagaimana bisa Angel yang pertamanya menyukai orang lain sekarang bersama dengan orang yang kucintai selama setahun lamanya. Aku bergegas pulang dan ternyata Mira di belakangku, akhirnya dia pun menarikku dan menceritakan semua yang pernah dia ketahui. Mira bercerita, saat dia menarikku setelah aku buang air kecil dia ingin menceritakan jika Kak Niko menyatakan perasaan pada Angel sehari sebelumnya.

Mira tahu hal itu karena pada saat itu Mira bersama Angel. Kiranya Mira, Angel tidak akan melangkah lebih jauh dari itu, karena tahu aku menyukai, bukan, mencintai kak Niko setahun lamanya, tetapi ternyata hari ini, Mira tahu jawabannya. Aku hanya bisa tertunduk lemas, memori yang 2 bulan terakhir begitu dekat dan sangat mengikat perasaanku padanya sekarang gugur.

Ternyata selama ini yang kak Niko lihat dari jauh ketika aku yang melihatnya dari jauh adalah Angel Tan. Kak Niko memang melihatku, menyentuhku, dan memberikanku perhatian tetapi itu semua karena ada Angel, sahabatku. Aku memang marah dengan kak Niko dan Angel, tapi apakah aku harus menyalahkan perasaan mereka yang harusnya aku tahu dari awal? Aku hanya orang yang tiba-tiba meletakkan hatiku ketika hati Angel mulai luluh karena kak Niko.•

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close