Resensi Buku

Pancasila untuk Bangsa di Tiap Penjuru Dunia

Pokok Pancasila terdiri dari lima hal, yaitu, Ketuhanan Yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, dan Keadilan sosial. Itu semua, kata Soekarno, bisa diterima oleh bangsa di seluruh dunia dan oleh karena itu pula, ia mengusulkan agar Pancasila dicantumkan dalam Piagam PBB.

Putri Yuniarti

Dr. Ir. H. Soekarno merupakan Presiden Pertama Republik Indonesia yang menjabat pada 1945-1967. Tonggak awal hiruk-pikuk Indonesia pernah dipegang olehnya, dan tentu dengan banyak tanggung jawab yang harus diemban olehnya. Termasuk mengumandangkan berbagai pidato kenegaraan, seperti dalam Sidang Umum PBB ke-15, pada 30 September 1960. Isi pidato itu tentang pokok Pancasila, dan di situ pula ia menjelaskan tiap butir di dalamnya. Semua dapat dibaca ulang dalam buku Membangun Dunia Baru (2013).

Kala itu, Soekarno mendeklarasikan Pancasila berbarengan dengan pandangannya tentang berbagai masalah dunia di masanya. Dimana di satu sisi banyak rasa kecewa dan derita, namun di sisi lain banyak pula cinta, kasih, dan tawa. “Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan sekali lagi bahwa: dunia yang baru itu diminta untuk memperbaiki keseimbangan dunia yang lama,” katanya.

Soekarno lantas menyuarakan bahwa pada masa itu jelaslah segala masalah saling berhubungan satu sama lain. Seperti kolonialisme yang berhubungan dengan keamanan; berhubungan pula dengan persoalan perdamaian dan perlucutan senjata; dan terutama berhubungan dengan perkembangan secara damai dari negara-negara yang belum maju. Dan, di situ Soekarno selalu menjelaskan bahwa sebagai manusia yang taat pada negara, perlu adanya pedoman dan pandangan untuk mencapai tujuan bersama.

Nasionalisme dan Kemanusiaan

Melalui Membangun Dunia Baru (2013), pembaca juga akan menemukan pandangan Sukarno tentang nasionalisme, dan internasionalisme yang dianggapnya sebagai oposisi terhadap kolonialisme dan imperalisme. Semua itu ada di dalam kepala dan degup jantungnya, serta dilandasi kesadaran bahwa perdamaian hanya akan datang jika sebab ketegangan dan bentrokan disingkirkan. “Masalah-masalah Kongo yang merupakan masalah kolonialisme dan imperalisme, haruslah diselesaikan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang sudah saya uraikan tadi,” katanya.

Soekarno juga mengingatkan bahwa Mahatma Gandhi pernah berkata, “saya seorang nasionalis, akan tetapi nasionalis saya adalah perikemanusiaan.” Dari pernyataan tersebut, Soekarno lalu menganggap bahwa nasionalisme adalah perilaku seseorang yang cinta akan bangsanya sendiri, dan juga bangsa lainnya. Sukarno tahu benar bahwa nasionalis adalah “kita”, dan menganjurkan untuk dilakukan dimana saja.

Keteguhan serta keyakinan Soekarno membawa Pancasila ke PBB memang begitu terlihat. Sila-sila yang ada di dalamnya dianggap sangat universal, dan dapat dipertanggungjawabkan. Soekarno lantas mengemukakan jati dirinya di atas segala perkataan yang ia lontarkan. “Apakah saya berbicara idealistis? Apakah saya memimpin dunia yang ideal dan romantis? Tidak! Kedua kaki saya dengan teguh berpijak di tanah! Betul saya menengadahkan ke langit untuk mendapatkan inspirasi akan tetapi pikiran saya berada di awang-awang.”

Naskah pidato yang didokumentasikan dalam Membangun Dunia Baru (2013) itu, kemudian ditutup tetap dengan pujian romantis Soekarno. Walau sebenarnya ia sendiri tidak menganggap dirinya seorang pujangga. Berikut adalah penutup yang dilontarkan Soekarno dalam pidato tersebut, “bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia, di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”.•

Membangun Dunia Baru
Sampul: Dok. Berdikari Book

Deskripsi Buku
Judul:
Membangun Dunia Baru
Penulis:
 Ir. Soekarno
Editor:
Ashad Kusuma Djaya
Tahun:
2013
Tebal:
98 halaman
Penerbit:
Kreasi Wacana

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close