Seni dan Budaya

Pancuran, Membangun Citranya dengan Seni Rupa

Sore itu, saya berkendara menyusuri beberapa sudut Salatiga. Mulai dari jalan raya, hingga gang sempit nan berkelok di tiap kampung pinggiran kota. Semarak warga dalam memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 begitu terasa. Termasuk di Pancuran, sebuah kampung di belakang Pasar Raya, yang kala itu tengah membangun citranya dengan seni rupa.

Wahyu Turi

Sore itu, Jumat (17/08), suasana di kampung Pancuran ramai betul. Kedatangan saya di sana, memang berawal dari keinginan saya untuk berburu momen semarak warga Salatiga, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Sebelumnya, saya juga sudah mendengar informasi tentang kegiatan di kampung tersebut. Katanya, ada melukis massal di sana. Tanpa banyak basa-basi, lantas saya garis bawahilah kegiatan itu dalam daftar perburuan saya.

Saya tiba di Pancuran bersama salah satu teman dari Aslo. Kami menyambangi kampung itu, setelah melewati Jalan Jendral Sudirman, kemudian belok ke pasar loakan, dan tibalah saya di kampung yang letaknya tepat di belakang deretan kios itu. Ada kios penjual ikan hias, ada juga kios potong rambut pria di sana.

Saya tiba di Pancuran kira-kira sudah lebih dari jam empat sore. Namun, kerumunan warga masih terlihat, dan sepertinya mereka tengah asyik melihat seniman menghias sisi tembok di Jalan Sonotirto itu. Keramaian memang tak asing di sepanjang jalan tersebut, tapi adanya kegiatan melukis massal itu membuatnya lebih ramai ketimbang hari biasa.

Setelah kurang lebih 10 menit mengamati suasana, pandangan saya lantas tertuju pada sejumlah lukisan di tembok sepanjang kurang lebih 200 meter itu. Pemandagan sejumlah seniman yang tengak sibuk menggoyangkan kuasnya, juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri di sana. Setelah itu, lantas bertemulah saya dengan salah satu pria yang kebetulan koordinator kegiatan tersebut. Ia dari Wahana Seni Rupa Salatiga (Wasesa), Didik Subiantoro.

Merubah pola pikir

Sekalipun tampak sibuk, kala itu Didik tak enggan menemui Aslo untuk wawancara. Perupa berusia 53 tahun itu bercerita bahwa, kegiatan tersebut diadakan untuk membangun citra Pancuran menjadi kampung yang indah dan nyaman dipandang. “Selama ini kampung Pancuran dicap masyarakat Salatiga sebagai kampung kumuh. Nah, dengan diperindah seperti ini, semoga mindset (baca: pola pikir –red) mereka bisa berubah,” terangnya.

Upaya membangun citra itu turut didukung Ketua RW Pancuran, Budi Sutrisno. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa kegiatan melukis massal adalah bagian dari program Pemkot Salatiga, yang ingin menjadikan Pancuran sebagai kampung wisata. “Citra Pancuran selama ini selalu negatif. Ya, kampung kumuh. Ya, kampung preman. Makanya pemerintah punya program tersebut, agar dari situ juga masyarakat bisa tahu kalau kampung Pancuran sudah berubah,” terang pria yang akrab disapa Budi Gajah itu.

Lebih indah

Usai bertemu Didik dan Budi, saya kemudian jalan-jalan di Pancuran untuk mengamati sejumlah lukisan, yang telah selesai digarap seniman. Ternyata, memang benar apa yang dikatakan Didik dan Budi, kini Pancuran sudah berubah. Pada saat yang sama, saya lantas teringat kenangan di masa kecil. Dahulu, ketika saya masih sering jalan kaki untuk pergi berenang di Pemandian Kalitaman, saya selalu melewati kampung tersebut. Pancuran yang dulu, dan yang sekarang sungguh berbeda. Kini, lukisan dengan cat warna-warni dapat dinikmati sembari jalan kaki. Pejalan kaki bisa melihat lukisan karya 20 perupa asal Salatiga di sana.

Didik juga menjelaskan bahwa tembok di Pancuran, yang menjadi media lukis seniman itu ada yang dikhususkan untuk sosok pahlawan dari Salatiga, dan beberapa sosok yang berpengaruh terhadap kemerdekaan Republik Indonesia. Tampak sosok Joesoef Ronodipoero, penyiar naskah pidato proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada juga sosok Soekarno, pembaca naskah proklamasinya. “Salah satu sisi yang dilukis memang khusus untuk putra terbaik dari Salatiga, kecuali Bung Karno. Bung Karno menjadi salah satu orang yang dilukis karena beliau pernah tinggal di Salatiga. Sedangkan sisi yang lain dibebaskan agar seniman bisa melukis apa saja,” imbuhnya.

Kini Pancuran sudah menjadi kampung yang nyaman dipandang. Keinginan Pemkot Salatiga bersama warga untuk membangun citra Pancuran telah membuahkan hasil. Pola pikir saya sendiri sebagai orang Salatiga, kini ikut berubah setelah melihat karya di sana.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close