Resensi Buku

Pulau Jawa di Mata Aristo Farela

Pulau Jawa diumumkan sebagai salah satu pulau terbaik di dunia. Seperti apa dalamnya? Mari kita simak sejenak melalui catatan Aristo Farela.

J.B. Sugita

Pertama, penulis turut bersukacita atas Pulau Jawa yang ditetapkan sebagai salah satu pulau terbaik di dunia. Diikuti dua pulau indah lainnya dari Indonesia, Bali dan Lombok versi Travel and Leisure yang diumumkan pada Jumat, 13 Juli 2018. Tujuh pulau lain, yang juga termasuk dalam 10 terbaik adalah Maldive, Waiheke (Selandia Baru), Palawan (Filipina), Mauritius, Cebu (Filipina), Paros (Yunani), dan Tasmania (Australia).

Lantas, bermula dari tergelitiknya penulis mencermati hal tersebut, di telusuri lah Pulau Jawa dari kacamata para ahli yang mendalami, pemikiran, sekaligus pengaruh Pulau Jawa di tanah air dan mancanegara. Salah satu cendikia yang membahas Pulau Jawa adalah Aristo Farela. Ia menulis A Short History of Java: Sejarah Singkat tentang Pulau Jawa, Kultur, Manusia, dan Budayanya yang terbit pada 2017. Berikut adalah karya Farela yang diringkas penulis dan dibeberkan ke pembaca.

Setelah dicermati, buku yang terdiri dari 11 bab itu dapat dinikmati, dimengerti, dan memberi info ringkas sesuai judulnya. Bahkan, buku ini bisa dipahami dengan mudah oleh pelajar SMP dan SMA. Ditambah posisi falsafah Jawa dan sumbangsihnya dalam kehidupan.

Secara fisik, Pulau Jawa sudah terbentuk sejak periode Arkhaikum (Azoikum) atau lebih tepatnya pada 2.500-1.200 juta tahun silam. Lalu masuk ke masa Paleozoikum, Mesozoikum, Neozoikum hingga zaman modern. Secara geografis ada tiga jalur, dengan iklim, sungai, flora-fauna, sumber mineral-pertambangan, kawasan paling maju, pembagian wilayah, dan sebagainya.

Nenek moyang orang Jawa, kata Farela yang menyitir ungkapan Rafles (1817) adalah bangsa Tartar yang juga menyebar ke India dan sekitarnya. Posturnya pendek, kekar, kuat, dan gemuk dengan sifat yang sangat berbeda dengan bangsa Eropa. Moh. Ali, yang juga dikutip Farela, menuturkan orang Jawa juga berasal dari Yunan, Myanmar, atau yang sekarang dikenal sebagai Birma. Ada pula pendapat Kern yang menyebutkan orang Jawa berasal dari Campa, Kochin Cina, Kamboja. Sedangkan Yamin, percaya dari Indonesia sendiri sudah ada orang Jawa, sejak generasi Meganthropus Paleojavanicus.

Sejak orang Jawa sadar, sesuai dengan kemajuan berpikir, hidup, dan kebudayaannya, mereka mengenal adanya “kekuatan” lain yang melebihi dirinya. Dimulai dengan animisme-dinamisme dengan intensi agar hidup manusia dan alam sekitar tetap harmonis, damai, pun punya tata cara memelihara dan memberikan solusi terhadap konflik yang terjadi dalam masyarakat. Kemajuan besar selanjutnya terjadi saat agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan Katolik masuk ke pulau ini dan mempengaruhi cara berpikir, hidup, bermasyarakat, dan beragama.

Orang Jawa yang populasinya 2/3 dari penduduk Indonesia dan tersebar di seluruh Nusantara sejak zaman kolonial, mengikuti program transmigrasi dari pemerintah, maupun secara sukarela. Di dalamnya terdapat sebelas suku asli, mulai dari Badui, Banten, Bawean, Betawi, Cirebon, Jawa, Osing, Madura, Samin, dan Sunda, hingga Tengger.

Sopan-santun, empan papan, berbahasa dengan unggah-ungguh (subasita: Ngoko, Krama Kadya, dan Krama Inggil), bahkan sikap tubuh pun jadi ciri khas orang Jawa sehingga menjadi priyayi, orang berbudi, orang pinunjul atau justru kebalikannya. Mereka juga punya bahasa yang hierarkis, sedikit ribet dan dikenal sebagian besar populasi Indonesia. Meski demikian bahasa itu tidak dapat dinaikkan menjadi bahasa nasional yang dipakai di seluruh penjuru negara.

Simbol, dan ritual orang Jawa sudah bergulir dari calon manusia dalam kandungan, hidup di dunia, hingga meninggal dan sesudahnya, pun para leluhur. Pengaruhnya cukup besar, penting, dan tentu juga sangat terasa eksis di negeri ini, juga kental lewat laku para presiden, sejak Soekarno, Soeharto, SBY hingga Joko Widodo.

Keunikannya cukup menarik. Orang Jawa ke mana pun perginya, bahkan di mancanegara, selalu punya bahasa, budaya, seni yang diuri-uri agar tidak hilang identitasnya. Ini juga menjadi rasa kangen atau obat rindu akan bangsa dan tanah air.•

Resensi Buku aslo.co

Deskripsi Buku:
Judul:
A Short History of Java: Sejarah Singkat tentang Pulau Jawa, Kultur, Manusia, dan Budayanya
Penulis:
Aristo Farela
Tahun
:
2017
Tebal:
208 halaman
Penerbit:
Ecosystem Publishing, Surabaya

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close