Prakanca

Sabar Subadri: Antara Tulisan dan Lukisan

Sedari kecil Sabar suka menulis. Di samping itu, ia juga melukis.
 

Alexio Alberto Cesar

Sabar Subadri ialah pria yang lahir pada 4 Januari 1979, dengan kisah hidup yang tidak biasa, tanpa dua tangan. Meski demikian, Sabar tidak merasa serba terbatas dalam menjalani rutinitasnya. Ia adalah seorang pelukis kaki dan karyanya telah banyak dikenal di dalam dan luar negeri. Apa yang telah Sabar raih, terbukti melampaui orang pada umumnya. Pencapaian dan kisah hidupnya perlu dibagi ke semua orang.

Sabar sempat kuliah di jurusan Sastra Inggris namun tidak selesai. Pada saat yang sama, ia menemukan “bakat”nya, meski ia mengatakan, “melukis itu sebenarnya bukan bakatku. Itu naluri anak kecil untuk menegaskan eksistensinya dengan menggoreskan sesuatu atau membuat jejak di luar dirinya lewat kapur dan lain-lain. Setiap anak pasti suka orek-orek (baca: coret-coret). Bedanya, kalau anak-anak lain dipandangnya biasa, tetapi bagiku, di lubuk terdalam, ini dapat menjadi sebuah karier di masa depan, upaya untuk bertahan hidup. Tapi bakatku yang sebenarnya menurutku ya tulis-menulis,” tuturnya.

“Aku didorong untuk menekuninya. Semula aku merasa dipaksa namun kemudian aku dapat menikmatinya, akhirnya aku bisa melukis. Ini juga menegaskan tentang bakat. Banyak orang berkata aku tidak mempunyai bakat melukis, tetapi saat aku ini dipaksa dan memaksa diri dalam konteks berpikir survival, supaya tetap hidup untuk cari makan, maka aku bisa,” jelas Sabar.

Sementara itu, soal tulis-menulis, telah digemari Sabar sejak TK. “Guruku pernah bercerita tentang kisah anak kucing yang tidak rela mempunyai orang tua seekor kucing, dia membawa alat peraga yang aku ingat sampai sekarang. Aku masih ingat detailnya,” terangnya dengan antusias.

Hal serupa juga ia alami saat dirinya duduk di bangku SD. Saat itu, ia menyimak guru yang membacakan sebuah cerpen tentang kecelakaan. Dia mendengarkan dengan begitu asyik, “aku juga sempat disuruh nulis prosa eksposisi. Menurut guruku, hasil tulisanku yang terbaik dalam satu kelas itu,” kenang Sabar.

Sekarang, di waktu luangnya, Sabar sering menulis cerpen. Kadang dirinya juga menulis untuk laman pribadi. “Waktu musim kemarau tahun lalu, setiap malam minggu aku adakan acara dongeng. Istriku yang membuat wayang-wayangan dengan mengambli clip art di Google. Tokoh-tokoh yang dibuat seperti monyet atau harimau sebagai alat peraga untuk pemirsa agar dapat mengenali karakter yang aku ceritakan. Kebanyakan dongeng yang aku sampaikan, aku karang sendiri. Bakat dan minatku sebenarnya memang di sastra, tetapi ternyata makanku dari lukisan,” terangnya.

Sabar juga gemar mengoleksi buku. Koleksinya kini lebih dari 2000 buku. “Ada yang belum aku baca. Kadang aku beli dulu daripada hilang dari peredaran. Sebagian aku beli karena fisiknya yang langka. Aku tuh pecinta buku, meski kadang isinya aku gak suka, tapi fisiknya aku suka,” imbuh Sabar dengan suara lembutnya.

Melampaui Sistem

Sabar juga sempat bercerita tentang sistem pendidikan. Menurutnya, dulu belum ada program sekolah inklusi dan sekolah bagi para penyandang difabel hanya dimasukkan ke dalam sekolah dengan “pengecualian”. Masyarakat masih berpikir bahwa sekolah untuk umum ditujukan bagi mereka yang memiliki tubuh normal. Sementara Sekolah Luar Biasa (SLB) ditujukan bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. “Sistem seperti itu membuat anak-anak berkebutuhan khusus seperti saya, terpisah dari masyarakat. Ini membuat kami terkungkung dalam ruang yang tersendiri, seakan ditolak oleh kehidupan. Itu sistem yang merugikan,” terangnya.

Seturut perkembang zaman sekolah telah menerima siswa berkebutuhan khusus. Meski begitu, Sabar masih punya kisah yang hingga sekarang masih dikenang. “Sebenarnya sikap ibuku dulu mendobrak sistem yang begitu eksklusif. Waktu itu ia bergerak tidak dengan pemahaman teori yang aneh-aneh. Dia bergerak dengan nalurinya saja, bahwa anaknya harus belajar bersama dengan anak-anak umum. Dan, ternyata apa yang dilakukan oleh ibuku itu secara tidak sadar spektakuler dan revolusioner. Dia medobrak kelaziman bahwa aku yang seharusnya bersekolah di SLB, dapat bersekolah di sekolah umum. Pun kuliahku juga di universitas umum. Ini adalah sikap keras kepala ibuku yang pendidikannya hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat (SR), tapi memiliki pemikiran yang revolusioner,” kenang Sabar dengan bangga.

Saat pertama ke sekolah, tutur Sabar lebih lanjut, pagi-pagi ibunya datang dan ingin mendaftarkan sekolah di SD Kalicacing 1. “Tetapi tidak terima. Lalu ibu memutuskan pulang ke rumah. Saat itu, saat ibu menggendongku, aku melorot dan ditarik ke tempatnya kembali, ada orang yang datang dan menyarankan untuk mencoba mendaftar di siang hari. Pada waktu itu, satu gedung bisa dipakai oleh dua institusi. Dengan informasi yang Ibuku terima, kami akhirnya datang lagi di siang hari dan mencari kepala sekolah. Waktu itu ibu langsung menanyakan apakah anak saya boleh sekolah di sini? Kepala sekolah ternyata membolehkannya. Sebenarnya ibu sudah siap bernegosiasi dan hal sepert ini telah ia lakukan juga di beberapa sekolah sebelumnya. Dia akan berkata dengan negosiasinya: coba anak saya diajari di sini seminggu, kalau merepotkan ya sudah, saya bawa pulang. Ibuku sampai harus menggunakan negosiasi seperti itu, dan itu ia lakukan di lima sekolahan yang lain,” terang Sabar.

Waktu kelas satu SD, caturwulan kedua, Sabar diutus mengikuti lomba gambar tingkat dua di SPG (sekarang SMA 3 Salatiga –red). Sabar diminta menggambar gedung dan akhirnya tampil sebagai juara. Hal itu, kata Sabar, secara tidak langsung mengangkat nama SD Kalicacing 2. Sejak itu, ia lantas sering dikirim untuk mewakili sekolah dalam lomba gambar. “Wartawan kemudian mulai berdatangan dan meliput. Aku jadi sering muncul di koran dan majalah. Ternyata aku dilihat oleh Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) dan mereka menawari aku untuk bergabung, maka sejak SMP, aku mulai bergabung dengan AMFPA hingga sekarang,” tuturnya.

Perlahan Mencintai Lukisan

Ada peribahasa Jawa yang ternyata menggambarkan kecintaan Sabar kepada lukisan. “Istilah witing tresna jalaran saka kulina (baca: suka karena terbiasa) ibarat brainwashing (indoktrinasi), bila kegiatan terus dilakukan secara berulang-ulang nanti akan dengan sendirinya menancap di kepala,” katanya.

Pada sisi lain, saat Sabar masih duduk di bangku SD ia merasa kehilangan masa kanak-kanaknya karena di saat semua anak bermain, Sabar harus menemui gurunya, Amir Rachmad. Ia merupakan seniman alumni Akedemi Seni Rupa Indonesia (ASRI) 1950-an, sekaligus teman karib Affandi dan Rustamaji. Sabar juga mengungkapkan, dirinya dapat melukis karena didikan gurunya yang memiliki sikap disiplin dan galak.

Dalam perjalanan awalnya, Sabar hanya dapat menggambar. Dirinya sempat merasa kebingungan kenapa dirinya dapat menyukai lukisan. Dalam batin dan pemahaman dirinya, akhirnya Sabar menemukan bahwa melukis dapat ia gunakan untuk medium narsis, pun saluran untuk melepaskan amarah.

“Saat aku marah, aku akan melukis gunung berapi dan akhirnya kemarahanku tersalurkan. Ternyata kudapatkan, kok asyik juga melukis itu. Kalau dulu melukis untuk profesi, sekarang bisa digunakan untuk kesenangan, juga dapat honor. Kalau tidak, tentu sudah berhenti sejak dulu,” terangnya sambil tertawa.

Dulu, Sabar juga sempat memikirkan sebuah istilah populer: Lakukan apa yang kamu cintai, hobi bisa diduitkan. Namun menurutnya, itu bukan tantangan yang menarik. “Ketika kamu masuk ke dalam pekerjaan yang tidak kamu sukai dan kamu bisa berhasil di tempat itu, itu baru jempol. Kalau semua orang bisa melakukan sesuatu yang mereka cintai, lalu yang mendorong gerobak sampah dari rumah ke rumah siapa? Terus siapa yang akan menjaga palang kereta api? Terus siapa yang akan turun ke sawah dan menanam padi? Itu kan pekerjaan yang banyak dihindari semua orang. Maka perlu ada orang yang mengerjakan sesuatu yang tidak ia suka,” terang Sabar dengan mantapnya.•

Redaktur: Galih Agus Saputra

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close