Wangsinawang

Salatiga Kota Lama

Hari ulang tahun barang tentu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu bagi kebanyakan orang. Namun, bagaimana jadinya bila hari yang membahagiakan itu menjadi momen khusus, bukan hanya bagi orang sebagai individu tapi menjadi sebuah situasi yang menyeret semua orang dan menyatukan? Semua tampak sibuk dengan kemeriahan. Berbaur, bersatu-padu, dan terlebur dalam sebuah ritus peringatan yang melibatkan jaman.

Lalu, betul, ini masih soal peringatan hari jadi kota Salatiga yang ke-1268. Sebuah batu prasasti yang kiranya sudah ada sejak 750, dan memuat Bahasa Sansekerta di dalamnya menjadi tolok ukur muasal kota tersebut. Namanya Prasasti Plumpungan: Srir Astu Swasti Prabajabhyah, begitulah kalimat yang dipahat dalam sebuah batu andesit itu, sementara artinya: Semoga bahagia! Selamatlah rakyat sekalian.

Maka dari itu, kami ucapkan selamat juga untuk Salatiga, dan pembaca sekalian yang merayakan. Walau telat, ini bukan berarti kami sengaja membuatnya terlambat. Kami tahu, dan kami memperhatikan segala sesuatu menjelang dan pasca hajat besar kota tertua nomor dua di Indonesia itu. Keterlambatan, sebenarnya hanya lah satu bagian dari kami untuk menyiapkan sebuah kenangan.

Jauh-jauh hari kami sudah datang dalam sebuah Pameran Pembangunan. Dalam kegiatan itu, terlihat gegap-gempita penduduk Salatiga yang merayakan hari jadi kotanya. Begitu banyak hal dipamerkan, mulai dari puluhan tenda berisi produk lokal, layanan publik, hingga berbagai macam penampilan kesenian tradisional. Sungguh pemandangan elok di sebuah kota, yang berupaya memberikan layanan dan kehidupan terbaik bagi warganya.

Lantas sesudahnya, dan di tempat lainnya, kami juga bertandang ke pusat arsip kota Salatiga. Begitu banyak hal lampau di pamerkan di sana, seperti lanskap, arsitektur dan tata kotanya. Ini juga tidak kalah penting, karena dari acara tersebut, kami dan barangkali warga Salatiga yang datang dapat mengetahui asal-usul kotanya, dan seperti apa pemandangan Salatiga sebagai kota lama.

Tak berhenti di situ, kami juga mengunjungi sejumlah orang. Pertama, adalah seorang pemuda yang ingin menyejahterakan petani dan dimulai dari Salatiga. Ia membangun sebuah aplikasi untuk mempermudah distribusi bahan makanan yang dihasilkan para petani, juga hendak mengembangkan aplikasi lainnya untuk membantu sektor pertanian di Indonesia. Sungguh cita-cita yang mulia kami kira, karena dewasa ini jarang sekali ada anak muda yang punya mimpi sepertinya.

Seorang pelukis, dengan ratusan karya, adalah yang kami datangi selanjutnya. Ia terlahir tidak seperti orang pada umumnya, namun dari dia lah, kami justru belajar banyak hal, dan tentu ia telah menjadi simbol tersendiri bagi Salatiga. Kekuatan, dan kegigihanya, hemat kami, patut menjadi insiprasi, baik untuk orang tua, anak-anak, dan kawula muda.

Lantas, yang terakhir namun perjalanan belum berakhir, kami juga berjumpa dengan seorang cendikia yang tak pernah jauh dari sejarah, dan benda cagar budaya di Salatiga. Ia telah mengais data demi data sejak muda, kemudian mencatat, lalu mempublikasikannya untuk pembaca, khususnya bagi mereka yang lahir, tinggal, atau punya ikatan emosional dengan Salatgia. Pencapaiannya tidak kalah luar biasa, karena dari dia lah, paling tidak kami sedikit tahu tentang bagaimana, atau apa itu Salatiga. Pembaca sekalian sangat disarankan untuk membaca karyanya, karena dari situ lah kita semua dapat menjaga kota Salatiga agar kelak, sebagaimana dikutip dari pernyataannya, “menjadi souvenir yang cantik bagi anak cucu kita”.

Usai berkunjung ke tempat beberapa orang, kami lantas mencoba mengail beberapa hal yang dapat kami jumpai di Salatiga. Ketika melihat perkembangan teknologinya, kami menemukan–dan kami yakin ini bukan bisnis rintisan satu-satunya di Salatiga–sebuah aplikasi daring untuk mempermudah distribusi segala kebutuhan rumah tangga. Kami juga menemukan industri kreatif, yang mengolah jeans bekas menjadi barang yang lebih berkualitas. Ada juga beberapa komunitas, yang dari keberadaannya lah kami menjadi tahu bahwa Salatiga sungguh sejak lama sudah menawarkan kekayaan alam yang melimpah.

Kopi adalah komoditas utama yang di usung komunitas itu, dan dari mereka lah kami tahu bahwa Salatiga memiliki sebuah wadah yang dapat mempererat hubungan personal di antara warganya. Ada pula sebuah komunitas yang punya mimpi mencerdaskan bangsa. Dalam komunitas itu, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan primer–karena memang seharusnya demikian–, dan harus bisa diakses oleh siapa saja. Bagi kami, mimpi komunitas itu juga istimewa, karena kami sadar akal sehat adalah tolok ukur yang tidak kalah penting bagi perkembangan sumber daya manusia, baik di Salatiga maupun Indonesia.

Warga Salatiga juga punya selera yang unik soal berkendara. Kami bertemu dengan seorang pemuda, yang merombak motor matiknya menjadi motor petualang. Di samping itu, ada juga pemuda dengan hobi unik lainnya. Ia gemar mengoleksi mainan anak-anak, yang barang tentu populer pada 1980-2000an.

Kreatifitas anak muda di Salatiga, bagi kami termasuk luar biasa. Hasrat mereka untuk berkarya sering datang tanpa diduga-duga. Kolaborasi mereka, bahkan sudah merambah hingga luar Salatiga. Berbekal pandangan yang sama, meski tetap terbuka pada yang berbeda, mereka memantapkan eksistensinya untuk sebuah tujuan utama, yaitu berkarkya.

Sayangnya, kami agak kesulitan ketika hendak mencari obyek wisata di Salatiga. Meski demikian, kesulitan kami sedikit terobati kala berkunjung ke sumber mata air yang letaknya tidak jauh dari Salatiga. Pun tempat itu memiliki kuliner khas yang cukup menggugah selera. Ada juga kuliner lainnya di tengah kota, dengan cita rasanya yang begitu luar biasa.

Perjalanan kami di Salatiga kian hari kian menarik. Kami menyusuri Salatiga Kota Lama –atau paling tidak, demikian lah kami menyebutnya–berbekal catatan kecil tentang beberapa tempat yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Begitu banyak nilai historis yang kami temukan di sana, dan itu semua semakin menarik ketika disandingkan dengan beberapa tulisan baik dalam bentuk sastra, resensi, atau ilmiah populer yang dikirim oleh pembaca.

Segala sesuatu yang kami temukan itu dapat dibaca di laman daring yang kami kelola. Namun, sebelum berseluncur di dalamnya, ijinkan lah kami sekali lagi untuk mengucapkan selamat kepada Salatiga, yang semakin tua semakin mempesona. Selamat Hari Jadi ke-1268 Kota Salatiga, semoga bahagia, dan senantiasa selamatlah rakyat di dalamnya. Salam.•

Departemen Pemberitaan Aslo Media

 

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close