Seni dan Budaya

“Salatiga Untuk Indonesia” di HUT Kemerdekaan RI ke-73

Pada umumnya masyarakat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan upacara bendera atau berbagai macam lomba. Tidak ada yang salah, dan memang demikian perayaannya. Tetapi, ada yang berbeda dengan sejumlah musisi di Salatiga. Mereka merayakan momen penting itu dengan merilis video klip proyek kolaborasinya.

Wahyu Turi

Kebanyakan masyarakat Indonesia mengekspresikan rasa syukur dan terimakasihnya dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan melaksanakan upacara bendera. Sementara itu, di kampung-kampung, biasanya marak diadakan berbagai macam lomba, dan banyak juga yang memasang bendera, mengecat jalan, atau gapuranya. Namun, apa yang dilakukan sejumlah musisi di Salatiga itu sungguh berbeda. Mereka yang berasal dari beberapa komunitas musik tersebut, merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-73 dengan merilis video klip proyek kolaborasinya.

Proyek yang diberi nama Salatiga Untuk Indonesia itu berangkat dari keinginan sejumlah musisi di Salatiga, untuk mengenalkan kotanya lewat kolaborasi yang mereka kerjakan. Koordinator Salatiga untuk Indonesia, Roni Eka Bastian mengatakan dengan proyek itu harapannya, Salatiga yang sudah dikenal sebagai kota berbudaya dan toleran akan semakin dikenal masyarakat luas. “Kami ingin menunjukkan bahwa Salatiga juga mempunyai musisi yang berkolaborasi”, terangnya, saat ditemui Aslo di kafe Godong Pring, Salatiga, Jumat (17/8).

Kolaborasi Salatiga Untuk Indonesia diikuti kurang lebih 20 musisi dari beberapa komunitas musik di Salatiga. Ada yang dari Bassist Player Salatiga (Bapers), Serikat Gitaris Salatiga (Segitiga), Salatiga Keyboard Players (Skip), dan sejumlah pemain saxophone dari Selasar Jamming Sedulur (Sejalur), serta tiga penyanyi dari Salatiga.

Keragaman sebagai Daya Tarik

Melalui kolaborasi itu, Roni juga mengatakan bahwa proyeknya terlihat seperti Indonesia. “Kami mempunyai latar belakang dan karakter yang berbeda-beda, namun kami bisa bersatu untuk berkolaborasi membawakan salah satu lagu nasional,” katanya.

Adapun lagu nasional yang dibawakan dalam proyek Salatiga Untuk Indonesia adalah Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. “Alasan kami memilih lagu Indonesia Pusaka karena lirik lagu itu lebih mengena ketika dibawakan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Roni mengakui bahwa proyek itu merupakan proyek dadakan. Proses penggarapan videonya hanya berlangsung satu minggu, mulai dari pengambilan hingga penyelarasannya. “Ide dari kami sebenarnya sudah lama, tapi baru dilaksanakan seminggu yang lalu. Videonya juga baru jadi tadi pagi. Memang kami kejar untuk hari ini, agar bisa serentak di-share (baca: bagikan) sama temen-temen,” jelas Roni, yang kebetulan adalah Direktur Salatiga Untuk Indonesia, sekaligus anggota Skip.

Pengambilan gambar dalam video kolaborasi Salatiga Untuk Indonesia berlangsung di beberapa tempat. Sejumlah tempat yang dewasa ini menjadi ikon Salatiga, dan sengaja dipilih dalam proyek tersebut antara lain, Bundaran Tamansari, Taman Kota Tingkir, Pohon Pengantin Pulutan, dan area di depan Universitas Kristen Satya Wacana. Bangunan kosong depan Rumah Sakit Umum, juga tak luput dari perhatian proyek tersebut. Rencananya, proyek serupa hendak diadakan kembali bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober mendatang.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close