Wisata

Senjoyo Dari Dekat

Umbul Senjoyo merupakan salah satu sumber mata air yang cukup dikenal masyarakat Salatiga dan Kabupaten Semarang. Aslo berkunjung ke sana, kemudian mengulik cerita dari orang yang cukup paham seluk-beluk di dalamnya. Namanya Jasmin, ia adalah juru kunci generasi ketiga.

Agus Handoko

Pagi itu (21/7), saya menarik gas pelan dengan memposisikan badan separuh meringkuk untuk menepis hawa dingin pinggiran Salatiga. Kubangan demi kubangan terlewati, namun masih saja sekali dua kali ban motor saya amblas pada kubangan yang cukup mendominasi jalanan desa Tegal Waton. Saya berangkat bersama dua orang kawan untuk mewakili Aslo dan berupaya mengenali sumber mata air, pemandian, atau Umbul Senjoyo secara lebih dekat.

Sesampainya di sana, mulai terdengar riuh rendah adik-adik sekolah yang sedang asyik bercanda, berenang, bahkan saling menceburkan teman ke kolam. Oleh arahan seorang kawan, saya kemudian bergegas menemui seorang kakek yang sedang sibuk dengan gagang sapu untuk menyingkirkan rontokan daun di bibir kolam. Kami memperkenalkan diri, sekaligus memberi tahu maksud dan tujuan kami. Ia lantas menjawab dengan Bahasa Jawa Krama Alus untuk memperkenal diri dan mengiyakan maksud yang kami sampaikan. Setelah selesai dengan aktivitas kebersihannya, barulah kami mengobrol dengan beliau.

Kakek itu bernama Jasmin, warga Jubug, Desa Tegalwaton yang telah menerima amanat sebagai Juru Kunci Umbul Senjoyo sejak 1959. Sang kakek kemudian menceritakan bahwa ia menerima amanat sebagai Juru Kunci generasi ketiga, yang diwariskan secara turun-temurun dari keluarganya. Selanjutnya ia bercerita tentang Umbul Senjoyo.

”Diberi nama Umbul Senjoyo itu karena diambil dari Panembahan Senopati Senjoyo. Dalam pagelaran Ringgit Wacucal (baca: Wayang Kulit) biasanya diceritakan dalang dalam kisah Brantayudha. Eyang Sanjoyo membantu atau berbakti pada Pandhawa, tapi juga memperhatikan Adhipati Karna yang membantu Kurawa. Lalu, setelah mereka perang, Eyang Sanjoyo dipanah, tapi tidak meninggal. Ia kemudian lari ke umbul ini, dan ceritanya, Panembahan Senopati Sanjoyo moksa di sini,” tutur kakek berusia 89 tahun itu, yang kemudian menambahkan bahwa kisah yang ia ceritakan itu sebagaimana adanya, berdasarkan perintah yang ia terima dari Mandala Giri Srandil, pada 1959.

Begitu banyak versi yang berkembang soal Umbul Senjoyo. Saya kemudian bertanya tentang sosok Joko Tingkir, yang menjadi tokoh protagonis legenda Senjoyo dan berkembang di sekitar tempat tinggal saya. Selengkapnya, Jasmin lantas menjawab perbandingan cerita dengan versi Joko tingkir.

“Sebelumnya, maaf ya. Jadi ceritanya itu begini, Raden Mas Karebet atau Jaka Tingkir itu mendapat perintah untuk berendam di Senjoyo. Dia mengabdi di Demak. Jadi, sejak Raden Mas Karebet berendam dua kali, Senjoyo sudah ada. Umbul ini juga sudah ada sebelum para wali, jadi menurut saya umbul ini sudah ada sejak Jawa ada,” kata Jasmin menceritakan pengetahuan yang ia warisi dari eyang dan buyut, yang sebelumnya juga menjadi Juru Kunci Umbul Senjoyo.

Air Sumber Kehidupan dan Keselamatan

Tempat saya bertemu dan ngobrol dengan Jasmin adalah semacam pendopo kecil, berpagar, dan tiap sisinya ditutup cukup rapat dengan plastik. Jasmin lantas menceritakan bahwa sebuah batu di tengah pendopo itu, merupakan bagian dari reruntuhan candi yang terletak di pojok areal Senjoyo. Pemindahannya juga diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Salatiga. Dulunya, dari reruntuhan candi itulah, awal mula ditemukannya Umbul Senjoyo.

Hingga kini, batu di pendopo kecil yang berdekatan dengan sumber mata air utama Umbul Senjoyo itu menjadi tempat mediasi. Siapa saja, yang memiliki pengharapan tertentu bisa menggunakannya. Maka dari itu, selain bertugas sebagai juru kunci untuk membersihkan Umbul Senjoyo, Jasmin juga membantu orang yang datang untuk melakukan ritual atau meditasi.

Ritual yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang datang adalah menggunakan air dari Umbul Senjoyo. Jasmin kemudian memaparkan filosofi air kepada kami. “Senjoyo itu tempatnya air. Air, pertama untuk kehidupan, sesuci jasmani dan rohani. Di samping itu juga dapat digunakan untuk melarung sengkala (baca: rintangan hidup atau aura negatif) agar mendapatkan kesehatan dan keselamatan,” jelas Jasmin.

Jasmin juga menjelaskan kebiasan ritual pengunjung yang dilakukan di tempat itu. “Semua orang yang datang ke sini biasa meminta berkah dari yang memberkati Umbul Senjoyo. Apa yang kami minta ya kepada Gusti (baca: Tuhan). Meskipun kami memasang menyan, dupa, dan sesajen, itu semua bukan berarti kami meminta kepada demit (baca: setan). Itu hanya perangkat meditasi untuk meminta keselamatan, kelancaran usaha atau kerja, dan segala macam kepada Tuhan,” imbuh Jasmin.

Ketemu Bung Karno

Banyak pengunjung dari luar kota yang datang dan melakukan ritual di Senjoyo. Ada pula pengalaman dari mereka yang diceritakan Jasmin. “Kala itu, ada orang dari Blitar cari tahu bagaimana caranya agar mudah mencari uang ke Haji Wardi. Setelah itu, orang Blitar itu datang dan mandi di sini, kemudian sehabis mandi orang itu bertemu saya minta didoakan agar usahanya lancar dan dapat uang banyak. Saya lalu mendoakannya, mengajaknya bermeditasi dan berdoa juga, lalu Bung Karno datang,” tuturnya.

Bung Karno? Saya pun sejenak heran. Lantas, saya mencoba mendengarkan ceritanya lagi soal Bung Karno. Jasmin kemudian mengatakan, “ya, sebenarnya saya memintakan berkah untuk orang itu. Bung Karno lalu bilang kepada saya untuk menunjukkan jalan yang lurus dan benar untuk orang itu. Orang itu juga tidak tahu kalau ada Bung Karno di hadapannya”.

Pada saat meditasi bersama orang Blitar itu, Jasmin merasa mendapat amanah dari Bung Karno. Selanjutnya, ia menceritakan sosok Bung Karno yang dilihatnya ketika meditasi, seperti layaknya sosok Presiden Soekarno yang ia lihat di foto. Dengan pakaian hijau, beserta lencana yang memenuhi dada, serta tongkat komando yang diapit menggunakan lengannya.

Keresahan Jasmin

Ada hal yang amat disayangkan Jasmin di Senjoyo. Biasanya banyak pengunjung yang datang memiliki maksud dan tata krama yang tidak baik. Ia, lantas menekankan bahwa tata krama begitu penting. Pernah suatu ketika, sekitar lima tahun lalu, kata Jasmin, ada pengunjung dari Malang yang membandingkan nilai spiritualitas Senjoyo dengan tempat asalnya. Jasmin menggambarkan orang tersebut memiliki postur besar dan gagah, namun ketika ia mandi di kolam tubuhnya serasa ditarik ke bawah hingga membuatnya tenggelam.

“Padahal, anak kecil umur sepuluh tahun yang berenang di sini saja tidak pernah tenggelam,  terang Jasmin, dengan raut muka sebal mengingat pemuda itu.

Saat ini, sebenarnya sudah ada peraturan tertulis di Umbul Senjoyo. Misalnya, pengunjung harus menjaga sopan-santun, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Namun begitu, Jasmin masih melihat tindakan pengunjung yang masih sesuka hati di tempat yang dianggapnya begitu keramat itu. Ia berharap ke depannya kesadaran pengunjung semakin meningkat sehingga keberadaan sumber mata air itu tetap terjaga.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close