Seni dan Budaya

Sindek Bunga Emas

Sebelum pergi, Mbah Dakun, juru kunci Sendang Gayor berpesan kepada masyarakat Bungas tentang, Ayem Tentrem lan Murah Rejeki. Hingga sekarang, masyarakat masih memperingatinya dengan khidmat, penuh suka cita, dan syukur yang tak terkira.

Putri Yuniarti

Suara gamelan selalu bergaung di sekitar kali Sendang. Tak ada yang bisa memprediksi secara jelas suara itu berawal atau berasal dari mana. Jelas seperti suara gamelan ketika sedang mengalun dan dimainkan para penabuhnya. Mulanya, masyarakat tidak ada yang berani mendekat ke kali Sendang. Konon katanya, banyak barang beboyo (bahaya) di sana. Tapi, lambat laun masyarakat mulai tumbuh keberanianya.

Setelah sekian lama, masyarakat tahu bahwa di dekat kali Sendang terdapat orang yang menunggu, namanya Mbah Dakun. Ia berwujud seperti manusia biasa, namun bukan laki-laki atau perempuan. Dan ketika pergi atau datang di desa, tidak ada yang pernah tahu seperti apa jalannya. Menurut cerita para leluhur, ia adalah orang yang baik dan sering berada di sekitar Sedang Gayor.

Masyarakat masih terus penasaran dengan suara gamelan itu. Hingga akhirnya tahu, bahwa sumber suaranya berada di dalam sendang. Namun, hanya Mbah Dakun yang bisa mengetahui secara pasti keberadaan gamelan itu, sekaligus bagaimana cara mengambilnya. Dulunya, Mbah Dakun lah yang pertama kali memunculkan gamelan tersebut, dengan beberapa sesaji antara lain ayam kampung tiga ekor, nasi liwet, asahan, tumpeng, golong tujuh pasang, golong lola, sate gajah (tempe yang ditusuk dengan lidi dan kemudian dibakar), serta kupat tanpa lauk. Setelah semua perlengkapan siap, barulah dilakukan ritual hingga akhirnya gamelan itu berhasil muncul di sekitar sendang.

Dulunya gamelan itu bisa dipakai setiap kali ada Sedekah Bumi, dengan diiringi Mbah Dakun. Namun, setelah sekian lama menjadi juru kunci, Mbah Dakun ingin memiliki gamelan itu agar bisa digunakan setiap saat. Tapi, setelah niat Mbah Dakun itu diketahui banyak orang, gamelan itu ternyata tidak dapat dipinjam lagi. Sekalipun menurut cerita zaman dulu ia tidak mempunyai niat jahat terhadap desa. Mbah Dakun juga tidak pernah menyesal jika akhirnya gamelan itu tidak dapat dipinjam lagi. Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada warga, namun ia malah mendapatkan bebungah yaitu Bunga Emas yang tiba-tiba muncul di dekat Sendang. Wujud bunga itu seperti sindek pengantin berwarna emas.

Namun, sebelum akhirnya pergi dan tidak muncul kembali di desa yang disebut Mbah Dakun dengan Bungas itu, Mbah Dakun sendiri pernah menitipkan pesan; Ayem Tentrem Murah Rejeki (baca: damai tentram murah rejeki) kepada masyarakat. Sekarang, masyarakat Bungas selalu dilimpahi berkah, dan Mbah Dakun pergi meninggalkan desa dengan sindek emasnya. Kegiatan Sedekah bumi, atau merti desa selalu dilakukan di desa Bungas walaupun Mbah Dakun sudah tidak pernah kembali. Merti desa selalu diawali dengan tandur pari (menanam padi di sawah), setelah itu ada tingkep yaitu saat tanaman sudah mendekati berbuah. Hingga akhirnya, ada tradisi mboyong Mbok Sri atau lebih dikenal dengan istilah panen yang disambut syukuran desa.

Kala memberikan penghormatan kepada Sendang Gayor, tasyakuran yang dilakukan pada bulan panen itu selalu penuh hikmat warga setempat yang berdondong-bondong untuk melihat di kali Sendang Gayor. “Wah tahun ini ramai dan semua orang bersuka-cita. Banyak rezeki melimpah,” jelas salah satu warga Bungas, Heni Kalbarini yang kala itu datang melihat kerja bakti di Sedang Gayor, Bungas, Kabupaten Semarang, (29/8).

Dari Bocahan Hingga Wayangan.

Sejak dulu, sebelum diadakan perayaan untuk memberikan penghormatan pada Sendang Gayor, selalu diadakan slametan untuk setiap rezeki yang diterima masyarakat sekecil apapun itu. Slametan atau Sedekah bumi yang dilakukan adalah ketika panen telah tiba dengan membersihkan area Sendang Gayor. Warga menguras air di Sendang, dan mengambil ikan yang ada di dalam sendang. Biasanya ketika malam tiba warga juga melepas ikan ke dalam sedang, supaya ketika pagi harinya banyak masyarakat yang ikut meramaikan acara kerja bakti di sendang tersebut.

Tidak ada bulan yang pasti menyoal kapan penyelenggaraan kegiatan itu. Namun, setelah panen tiba akan dipilih tanggal yang paling dekat dengan Jumat Legi dan Rabu Legi, penanggalan Jawa yang masih diadopsi masyarakat Bungas hingga saat ini. Alasannya, lantaran hari itu sudah dipilih secara turun temurun untuk menjalankan Sedekah Bumi. Tidak ada yang berani menjawab kenapa hari itu dipilih. Menurut salah satu orang yang dituakan di Desa Bungas, Suparno, tidak banyak pertanyaan yang bisa dijawab dengan logika manusia. “Itulah sejarah tutur yang turun temurun,” jelasnya.

Setelah membersihkan sedang, masih ada kegiatan yang dinamakan bocahan. Kegiatan itu sering disebut dengan slametan untuk anak-anak yang ditempatkan di sawah terdekat dari warga setempat. Suparno menjelaskan, dulunya diselenggarakan bocahan agar anak-anak yang ikut slametan orang tua tidak menggangu sesepuh desa yang sedang melakukan doa bersama, dengan nasi tumpeng yang dibuat oleh warga. Hingga malam harinya, puncak dari tasyukuran itu pun tiba dan dirayakan dengan wayangan. Dulu, ketika gamelan masih bisa dipakai, dan sebelum wayangan dimulai, gamelan yang digunakan itu berasal dari Sendang Gayor.

Gamelan yang pasti keluar dari Sendang Gayor antara lain Saron, Peking, Bonang, Slentem, Gender, Kendang, Kempul, Ketuk Kenong, dan Gong. Tanpa harus diminta, gamelan itu pasti sudah siap dipakai di panggung yang disediakan. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana gamelan itu muncul saat wayangan akan dimulai. Mbah Dakun sebagai juru kunci pun tidak mengetahui bagaimana caranya gamelan itu tiba-tiba bisa ada di tengah-tengah orang, yang siap menabuh lagu iringan wayangan.

Menariknya, sebelum wayangan ada juga makanan yang disediakan. Wulu Wetu adalah istilah untuk sesaji, yang berupa hasil umbi-umbian yang dipanen warga sekitar. Ada ketela pohon, ubi, kacang, jagung, dan kimpul. Tergantung dari hasil panen yang dimiliki warga, sementara untuk memasaknya juga dilakukan secara gotong royong, sukarela dari warga sekitar dengan bantuan para sesepuh desa, untuk memberikan doa slametan bagi warga Bungas.•

Redaktur: Galih Agus Saputra.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close