Babad

Sri Susuhunan Pakubuwana VI, Napak Tilas Kepahlawanannya

Indonesia merupakan salah satu negara yang merdeka dengan jalan perjuangan. Segala daya, upaya, cucuran darah, tiada terbilang, dan tentu nyawa menjadi korban dalam puluhan hingga ratusan tahun perang, yang pada akhirnya merdeka 73 tahun silam.

J.B. Sugita

Pahlawan Nasional merupakan gelar tertinggi dalam hidup seseorang, khususnya bagi mereka yang luar biasa jasanya bagi negara. Hingga kini, telah ditetapkan 160 pria dan 13 wanita dari Sabang sampai Merauke, dengan latarbelakang etnis maupun profesi yang berbeda-beda. Mulai dari perdana menteri, gerilyawan, prajurit, hingga jurnalis. Baru-baru ini, sejumlah nama juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional seperti Lafran Pane, Sultan Mahmud Riayat Syah, Malahayati, dan Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Jika dialfabetkan, sederetan nama Pahlawan Nasional itu dapat dimulai dari Abdul Halim (1911-1988), hingga Zainul Arifin (1909-1963), tokoh yang terbunuh saat terjadi upaya pembunuhan Presiden Soekarno, pada 1963. Dari sekian banyak nama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional itu, ada juga yang berasal dari lingkungan keraton. Seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Sisingamangaraja XII, Pangeran Antasari, termasuk Sri Susuhunan Pakubuwana VI.

Pakubuwana VI ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Keppres RI Nomor 294/1964. Ia lahir di Surakarta pada 26 April 1807 dari pasangan Pakubuwana V dan Raden Ayu Sasrakusuma. Raden Ayu Sasrakusuma sendiri adalah keturunan Pemimpin Kasultanan Mataram, Ki Juru Martani.

Pakubuwana VI naik tahta pada 15 September 1823, atau lebih tepatnya pada usia 16 tahun, tepat sepuluh hari sesudah ayahanda wafat. Nama kecilnya Raden Mas Sapardan. Lantaran sedari remaja gemar bertapa, maka saat bertahta sebagai Kasultanan Surakarta Hadiningrat, ia juga mendapat sebutan Sinuhun Bangun Tapan.

Bernama lengkap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana VI, berbendera merah putih merah, memiliki semboyan Sri Radya Laksana. Hingga kini, Nagari Surakarta Hadiningrat yang berdiri pada 1755 sebagai perwujudan perjanjian antara VOC, Pangeran Mangkubumi, dan Pakubuwana III atau yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Giyanti, membagi kekuasaannya menjadi dua bagian yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Hingga kini masih eksis dengan perlakuan khusus dari pemerintah. Sekarang Pakubuwana XIII, Pangeran Hangabehi dan sang adik jadi pepatih, Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung Tejowulan.

Darah, jiwa, semangat, dan cinta negeri, serta kebencian kepada Belanda yang menguasai Pakubuwana VI dibuktikan dengan penolakannya atas perintah Belanda untuk menyerahkan beberapa wilayah Surakarta. Juga secara rahasia namun intens, ia bekerjasama dengan Pangeran Diponegoro yang menolak menjadi raja Kasultanan Yogyakarta pada 1825.

Aktivitas rahasia Pakubuwana VI dan Diponegoro dilakukan di Gunung Merbabu, hutan Krendawahana, bahkan di dalam Keraton Surakarta. Suatu saat Belanda curiga dan mengetahuinya, lalu terjadilah sandiwara perang antara Pakubuwana VI dan Diponegoro. Sesungguhnya, memang Pakubuwana VI menyuplai pasukan ke Diponergoro. Dalam sandiwara itu terlibat pula sang Pujangga Keraton, Ki Ranggawarsita.

Setelah perlawanan Pakubuwana VI dipastikan oleh Yogyakarta dan Belanda, akhirnya taktik pecah belah (devide et impera) diterapkan untuk menghancurkan Surakarta. Fitnah dijalankan, Juru Tulis Keraton, Mas Pajangswara yang kebetulan pula ayah Ki Ranggawarsita ditangkap, diinterogasi, dan disiksa. Kasihnya akan raja dan negara tak menyurutkan semangat untuk tidak membocorkan rahasia Pakubuwana VI dan perjuangannya. Mas Pajangswara dibunuh dan dibuang Belanda.

Kelicikan Belanda lalu maju ke langkah inti yaitu menangkap Pakubuwana VI. Meski demikian, Pakubuwana VI tetap melawan hingga mengakibatkan dirinya dibuang ke Ambon. Itu semua terjadi pada 1830, atau pada saat Pakubuwana VI berusia 23 tahun, pasca tujuh tahun memimpin Surakarta.

Pada 2 Juni 1849, Belanda secara resmi merilis laporan yang menjelaskan bahwa Pakubuwana VI wafat dalam kecelakaan perjalanan laut. Rahasia wafatnya lantas terbongkar saat jasadnya dipindahkan pada 1957, ke kompleks pemakaman keluarga kerajaan Mataram, Astana Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Pada saat penggalian ditemukan lubang di dahinya. Penelitian Jendral KGPH Jati Kusuma, salah satu putera Pakubuwana menjelaskan lubang itu sebesar peluru senapan baker. Kesimpulan yang dibuatnya, Pakubuwana VI wafat dieksekusi Belanda saat berusia 42 tahun.

Pakubuwana VI menjadi korban kekejian. Sang pahlawan turut meninggalkan istri Kanjeng Raden Ayu Asmaningrum, usai sudah perjuangan melawan penjajah Belanda di usia emasnya. Akumulasi semangat pantang menyerah, bahkan terusir dari kerajaannya sendiri, hingga dibunuh penjajah menjadi jadi pupuk kemerdekaan Republik Indonesia. Perang fisik itu kini memang bukan masanya. Pahlawan hari ini ialah ia yang memelihara, dan membangun negeri. Bersatu, bersaudara, agar kian maju dan sejahtera.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close