Resensi Buku

Sudah Yakin dengan “Passion”-mu?

Sebelum pembaca diajak menjelajah makna “passion”, Cal Newport, penulis “Don’t Follow Your Passion”, memberi sebuah ulasan singkat tentang kisah hidup Steve Jobs. Dalam buku itu pula, Cal mengajak pembaca untuk mengenal lebih dalam bagaimana “passion” bekerja.

Alexio Alberto Cesar

Pada Juni 2005 lalu, Steve Jobs memberikan pidato sambutan kepada 23.000 wisudawan Universitas Stanford di Stadion Stanford. Dia mengenakan celana jin dan sandal jepit di balik toganya. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai… satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah dengan mencintai apa yang kalian lakukan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah cari. Jangan berpuas diri”, katanya.

Tak lama berselang, sebuah video tidak resmi tentang pidato tersebut dipasang di Youtube. Video itu kemudian menjadi viral, dan ditonton jutaan kali. Masyarakat telah didoktrin dengan pesan bahwa bekerja haruslah sesuai dengan passion (baca: kegemaran)nya.

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum mendirikan Apple Computer, Jobs muda bukanlah seorang yang bersemangat untuk memulai perusahaan teknologi. Jobs muda cenderung orang yang bingung dan tengah mencari jati dirinya.

Jobs kuliah di sebuah institusi seni bergengsi di Oregon, Read College. Ia berhenti kuliah setelah tahun pertamanya berakhir. Namun, dia tetap berada di kampus untuk tidur di lantai dan mengais-ngais makanan gratis di kuil Hare Krishna. Jobs menjadi selebritis kampus karena dia tampil berbeda, dan orang-orang menyebutnya sebagai ‘orang yang aneh’. Kemudian, dia membagi waktunya antara Atari, dan Pertanian All-One, sebuah komune di pedesaan yang berada di utara San Fransisco.

Pada 1974, Jobs mulai bekerja dengan membantu menangani pengaturan elektronik di perusahaan komputer bernama Call-in Computer. Namun, pada 1975, Job malah kembali lagi ke Atari, tanpa memberi tahu Pimpinan Call-in Computer, Kamradt. Kamradt menganggap apa yang dilakukan Jobs sebagai tanda bahwa dirinya keluar dari perusahaan tersebut. Saat Jobs kembali, posisinya telah digantikan orang lain.

Kisah itu hanya untuk menjelaskan bagaimana seorang yang visioner seperti Jobs, tidak bergerak berdasarkan kegemaran pada teknologi atau bisnis. Lalu, Jobs mencoba berdiskusi dengan perancang perangkat terminal, Steve Wozniak yang juga bekerja di Call-in Computer. Mereka membahas ide untuk merancang salah satu papan sirkuit untuk komputer, dan menjual kepada para pencinta komputer.

Rencana awal Jobs adalah menjual papan sirkuit senilai 25 Dolar AS dengan harga 50 Dolar AS. Jobs ingin menjual 100 buah sehingga mereka mendapatkan keuntungan 1.000 Dolar AS. Wozniak dan Jobs melakukan pekerjaan itu dengan rutin, dan apa yang mereka lakukan tidak memiliki resiko yang besar. Usaha tersebut dijalankan untuk mengisi waktu luang, namun apa yang mereka lakukan menjadi kisah yang melegenda.

Suatu hari, Jobs pergi tanpa alas kaki ke Byte Shop, sebuah toko komputer pertama di Kota Mountain View milik Paul Terell. Jobs menawarkan kepada Terrell papan sirkuit, namun Terrel malah meminta lebih. Dia menginginkan komputer rakit yang utuh, kemudian Jobs dengan cepat menerima tawaran tersebut dengan alasan agar mendapatkan uang. Jobs semakin semangat karena Terrell mematok harga 500 Dolar AS untuk setiap komputer dirakit. Tak terduga, mereka mulai mendirikan usaha rintisan dan mengumpulkan modal. Itu menjadi awal mula kelahiran Apple Computer. Begitulah kisah Jobs, yang kemudian menjadi jelas bahwa “ikuti passion anda” adalah saran yang tidak berguna. Apa yang mereka lakukan penuh kehati-hatian dan sederhana. Mereka juga tidak pernah bermimpi untuk menaklukkan dunia.

Seandainya Jobs muda mengikuti sarannya sendiri dan memutuskan untuk mengejar pekerjaan yang dia cintai, dia mungkin akan menjadi salah satu guru yang terpopuler di Pusat Zen Altos. Namun, Apple Computer tidak lahir dari passion, perangkat itu justru merupakan hasil dari peluang yang bagus, sebuah skema “sepele” yang kebetulan berhasil. Apa yang dilakukan Jobs, kemudian membuat dirinya bersemangat dalam hal yang ditekuninya. Meskipun benar untuk menyukai apa yang anda kerjakan, tapi hal itu tidak menjawab pertanyaan, “bagaimana cara menemukan pekerjaan yang akhirnya kita cintai?” Mencoba mengikuti passion adalah saran yang fatal.

Follow Your Passion telah menjadi mantra bagi para pemuda dalam bekerja atau dalam mencari pekerjaan. Tak heran, generasi Y dicap sebagai pribadi yang tidak memiliki loyalitas dan cenderung kutu loncat di dalam dunia kerja. Dalam buku karangan Cal itu, ditegaskan apa yang telah melekat di masyarakat adalah saran yang berbahaya. Passion adalah ‘akibat’ dan bukanlah sebuah ‘sebab’. Baginya, passion merupakan efek samping saat kita menguasai suatu hal.

Sekali lagi, bagi Cal, passion merupakan efek samping saat kita menguasai suatu hal. Ada baiknya, kini anda mulai memilih untuk mengusai suatu bidang. Saat hal tersebut sudah anda tentukan, maka passion akan lahir, karena passion adalah efek samping. Jadi, jangan terlalu pusing bila anda saat ini tidak memiliki passion. Cal menyarankan untuk mencoba menjadi mahir di bidang yang anda pilih. Ingatlah ini, bahwa untuk menjadi mahir perlu waktu. Ia juga menulis, untuk menjadi pribadi yang hebat hingga orang-orang tidak bisa mengabaikan kita, jadilah seorang perajin yang berlatih menyempurnakan teknik. Sehingga akan ada saatnya teknik tersebut dijadikan batu loncatan.

Don’t Follow Your Passion mendapat tanggapan yang baik dari sejumlah tokoh di dunia. “Berhenti mencemaskan tentang apa yang anda suka lakukan (dan yang dunia berikan ke anda). Sebaliknya, kini mulailah ciptakan sesuatu yang berarti, lalu berikan kepada dunia. Cal benar-benar telah melakukannya”, tutur Penulis Linchpin, Seth Godin.

Pendiri, sekaligus Pemimpin LinkedIn, Reid Hoffman juga berkata, “Entrepeneur profesional harus mengembangkan keunggulan kompetitif dengan membangun keterampilan berharga. Buku ini menawarkan saran berdasarkan riset dan realitas–bukan sekedar pernyataan tak berdasar–tentang cara berinvestasi dalam diri anda untuk menjadi berbeda. Sebuah panduan penting dalam memulai karier yang luar biasa”.

Buku itu juga sempat mendapat beberapa penghargaan, yakni sebagai Best Personal Development Book of the Year versi 800-CEO-Read, dan Best 2012 Books for Entrepreneurs versi Majalah Inc. Magazine. Lalu, menjadi Top 10 Business Books of 2012 versi The Globe and Mail.•

BukuDeskripsi Buku:
Judul:
Don’t Follow Your Passion
Penulis:
Cal Newport
Tahun:
2016
Tebal:
284 halaman
Penerbit:
Naura Book Publishing

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close