Cerita Pendek

Syafaat Sang Dewi

Malam sabtu itu Kirana, yang merupakan vokalis dari salah satu band melantunkan lagu bersama bandnya di atas panggung, yang dilihat cukup banyak penonton. Lagu pertama yang dilantunkan berjudul “Tentang Rumahku” milik band Dialog Dini Hari dari Bali. Kirana belum merasa menjadi sang pemilik panggung, karena suara bagusnya tak mampu menutupi fisiknya sekarang ini.

Rio Hanggar Dhipta

Fisik Kirana kurang begitu menarik untuk dipandang kaum Adam. Bentuk tubuhnya tak bahenol, kulitnya tak putih bersih, rambutnya tak lurus dan tak halus. Orang-orang beranggapan bahwa lebih baik memejamkan mata saat Kirana bernyanyi karena suaranya memang bagus, tapi tidak untuk fisiknya.

Band Kirana memainkan beberapa lagu pada saat itu, lagu kedua berjudul Sebelah Mata milik band Efek Rumah Kaca.  Di akhir lagu kedua, tiba-tiba ada beberapa orang yang cukup arogan berteriak-teriak. Teriakan-teriakan mereka ternyata meluapkan ketidaksukaan mereka terhadap band Kirana yang sedang mangung. Teriakan, celaan terlontar dari mulut beberapa orang tersebut. Dengan sigap dan cepat beberapa panitia acara tersebut langsung menghampiri dan mengamankan beberapa orang tersebut untuk dipisah dari penonton yang lain.

Saat menuruni pangggung, badan Kirana bergetar dan dia hanya diam tak berkata-kata walaupun saat ia ditanya-tanya. Kirana sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja diterimanya. Kirana tidak menyangka akan menjumpai kejadian seperti itu pada aksi panggungnya yang ketiga kalinya ini.

Sampai rumah, Kirana langsung masuk ke kamarnya dengan menghiraukan sapaan Ayah dan Ibunya yang sedang mengobrol di ruang tamu. Kirana langsung mengunci kamarnya dan bergegas merebahkan tubuhnya untuk tidur. Orang tua Kirana hanya beranggapan bahwa Kirana terlalu capek sehingga ia memang ingin langsung tidur, dan tidak melakukan aktifitas lain di rumah.

***

Sang mentari mulai beranjak naik. Ayam pun melantunkan kokokannya yang tak begitu merdu, disusul dengan lantunan alarm dari HP Kirana. Kirana sudah bangun sebelum alarm dari HPnya berbunyi. Sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya, seperti biasa, ia mengumpulkan semangat dahulu sebelum memulai harinya.

Hari ini adalah hari Rabu, dimana Kirana ada jadwal kuliah pada jam tujuh pagi. Jam tujuh kurang seperempat Kirana meninggalkan rumah untuk menuju kampusnya. Ia cukup berjalan kaki untuk bisa sampai ke kampusnya, karena jarak antara rumah dan kampus tidak teralalu jauh untuk jalan kaki.

Sampainya di kelas, ia duduk dan mengeluarkan beberapa buku dari tasnya kemudian memperhatikan perkuliahan dari awal hingga akhir dengan tenang. Setelah perkuliahan selesai, ia pergi ke kantin kampus untuk makan bersama teman-temannya sembari menunggu mata kuliah lagi di siang hari.

Siang itu, di kantin kampusnya, tiba-tiba Kirana mendapat julukan sinis “vokalis gagal konser” dari beberapa teman. Kirana tidak suka dengan ejekan itu, sampai ia bicara langsung kepada teman-temannya bahwa ia tidak menyukai ejekan itu, tapi tetap saja tidak dihiraukan oleh teman-temannya, dan tetap dilanjutkan ejekan itu kepada Kirana hingga teman-teman yang lain juga ikut mengejek Kirana.

Setiap kali ejekan itu terlontar, Kirana hanya sekedar diam dan sabar. Teman-teman Kirana tak tahu betapa terpukulnya Kirana akan kejadian tersebut, mereka hanya tahu bahwa itu hanyalah sebuah lelucon yang pantas dan dianggap lucu. Tak tahu kapan pastinya Kirana bisa sabar menghadapi lelucon seperti itu.

Sore hari, seusai perkuliahan, Kirana memutuskan untuk langgsung pulang ke rumah karena ingin meneruskan tugasnya yang belum terselesaikan. Kirana selalu mengambil jalan memutar untuk pulang ke rumah saat ada kelas hingga sore. Jalan memutar yang ditempuh Kirana dua setengah kali lebih jauh daripada jalan Kirana berangkat perkuliahan pagi.

Kirana selalu merasa takut jika harus melewati pemuda yang sering bergerombol pada sore hari di depan gang dekat rumahnya. Ia sering digoda jika ia melewati gerombolan pemuda tersebut. Kirana tidak merasa aman jika ia harus berjalan melewati segerombolan pemuda itu.

***

Suatu sore, terjadi longsor di pinggiran sungai dekat rumah Kirana yang menyebabkan ambruknya jembatan yang sering dilewatinya. Jembatan itu adalah satu-satunya jalan, dimana Kirana dapat menuju rumahnya saat pulang memutar. Dengan berat hati dan rasa takut, ia beranikan diri untuk pulang ke rumah melewati jalan berangkat pagi tadi.

Gerombolan pemuda di depan gang rumah Kirana sedang asik bercanda dan candaan mereka terhenti saat mereka melihat Kirana. Kirana semakin takut untuk melewati gerombolan pemuda tersebut. Kirana berjalan pelan-pelan, berharap ada orang yang melewati jalan yang sama sehingga Kirana bisa berjalan bersama melewati gerombolan pemuda tersebut.

Tak lama dua orang pemuda berjalan sedikit cepat di belakang Kirana menuju ke arahnya. Ia langsung berjalan menyampingi dua orang pemuda tadi untuk jalan bersama melewati gerombolan pemuda itu.

Sesampainya di dekat gerombolan pemuda itu, tiba-tiba beberapa pemuda lari menghampiri Kirana dan menarik tangannya untuk mengajak bergabung bersama gerombolan. Tangan Kirana ditarik-tarik oleh pemuda tersebut, tetapi Kirana memberontak tak mau kalah. Dua pemuda yang berjalan bersama Kirana itu malah mempercepat langkahnya meninggalkan Kirana.

Kirana terus memberontak, dan akhirnya Kirana bisa lolos. Kirana langsung berlari menuju rumah. Kirana lari melewati dua orang pemuda tadi. Saat ia melewati dua orang pemuda itu, salah satu dari pemuda itu berucap, “eh cewek, sini bareng kita aja jangan lari-lari”. Kirana jengkel, dan mengacungkan jari tengah kemudian langsung lari menuju rumah.

Kedua orang tua Kirana tidak berada di rumah saat ia tiba. Ia langsung mandi setelah meletakkan semua barangnya di kamar. Setelah mandi, ia langsung masuk ke kamarnya. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh dorongan yang membuatnya jatuh ke lantai. Ia mendapati ada dua orang bersamanya sekarang. Ternyata dua orang tersebut adalah dua orang yang tidak melakukan apa-apa saat ia digoda oleh gerombolan pemuda tadi.

Mereka adalah dua orang yang berjalan cepat meninggalkan Kirana saat digoda oleh gerombolan pemuda, dan mereka juga dua orang yang menggodanya saat ia berlari pulang. Dan sekarang, dua orang itu juga yang mendorongnya sampai terjatuh ke lantai.

Tiba-tiba salah satu pemuda menGeluarkan HP, dan mengarahkan HP tersebut ke Kirana. Pemuda yang satu lagi langsung menyeret tangan Kirana, dan melemparkannya ke tempat tidur. Hari yang malang menimpa Kirana. Dua pemuda itu memperkosanya secara bergiliran, dan bergiliran pula merekam dengan HP untuk momen pemerkosaan itu. Setelah mereka berdua puas, Kirana dibiarkan saja terbaring telanjang di atas kasur kamarnya dengan tangisan dan air mata di mukanya.

Sebelum pemuda itu pergi, orang tua Kirana pulang kerumah. Mereka mendapati dua pemuda di dalam rumahnya dan mendengar jerit tangisan dari anaknya. Langsung saja, ayah Kirana berteriak memanggil warga dan menangkap dua pemuda itu. Ayah dan Ibu Kirana mendapati anaknya telah diperkosa oleh dua pemuda tak dikenal itu.

Sore menjelang maghrib, rumah Kirana ramai dengan warga yang berkumpul walau hanya sekedar menonton, dan beberapa ada yang meliput kejadian tersebut. Tak henti-hentinya tangis yang dikeluarkan oleh Kirana dan orang tuanya. Mereka merasa kehidupan mereka telah hancur setelah itu. Hancur dan tak tahu harus bagaimana lagi.

***

Hari-hari Kirana dan orang tuannya setelah itu banyak dihabiskan di dalam rumah dan mereka mendapati muka Kirana terpampang diberbagai koran, televisi dan internet. Kirana tak mau keluar rumah karena tak sanggup menahan rasa malunya.

Pada sore hari sebelum matahari terbenam, Kirana menerima pesan dari salah satu teman bandnya. Temannya mengabarkan bahwa Kirana tak bisa lagi lanjut menjadi vokalis band. Kirana dikeluarkan dari bandnya. Kirana tak tahu lagi harus berbuat apa.

Kirana sering duduk di depan kaca yang cukup besar di kamarnya, dan hanya melihat dirinya sendiri. Ia merasa ini bukanlah kesalahannya, dan ia tak pernah melakukan kesalahan atas kejadian ini. Ia tidak pernah meminta untuk diperkosa, ia tidak pernah meminta media untuk mengeksposnya, ia tidak pernah meminta teman-temannya menjauhinya. Ia hanya minta waktu dapat diputar kembali, dan ia tidak ingin diperkosa.

Saat ia duduk berkaca di kamarnya, ia tak sengaja melihat sebuah handycam usang miliknya yang lama tak dipakainya di dekat tumpukan buku yang agak berserakan. Ia mengambilnya, dan mulai menyalakan handycam usang itu. Ternyata masih berfungsi dengan baik walau kualitas gambar yang dihasilkan tidak bagus.

***

Sabtu pagi di pertengahan bulan Juli, terdapat agenda keluarga Kirana untuk pergi ketempat saudara sekedar silaturahmi rutin. Biasanya, pagi-pagi Kirana sudah bangun dan beraktifitas, tetapi pagi ini belum ada aktifitas yang dilakukan oleh Kirana. Ibu Kirana pun mengketuk-ketuk pintu kamar Kirana tapi tak ada jawaban. Ketukan demi ketukan dilakukannya tapi tak ada jawaban, hanya terdengar lagu “Kamar Gelap” dari Efek Rumah Kaca. Ibu Kirana pun merasa mungkin Kirana sedang tidak enak badan, dan memerlukan istirahat di kamarnya sehingga memutuskan untuk meninggalkan Kirana, dan meninggalkan beberapa obat-obatan di atas meja makan.

Sabtu malam, orang tua Kirana pulang ke rumah. Mereka tak menjumpai Kirana sedang beraktifitas, dan lampu-lampu rumah juga belum dinyalakan. Mereka memannggil-manggil nama Kirana, namun hanya terdengar lagu “Kamar Gelap” dari Efek Rumah Kaca, lagi.

Minggu pagi sebelum mengketuk pintu kamar Kirana, lagu “Kamar Gelap” dari Efek Rumah Kaca tak juga memberi jawaban atas penasaran Ibu Kirana. Lagu tersebut memang lagu kesukaan Kirana selain lagu “Sampai Jadi Debu” dari Banda Neira.

Tercium bau aneh dan tak sedap dari dalam kamar Kirana. Ibu Kirana kuatir tentang itu. Karena tak kunjung ada respon dari Kirana, sang Ibu meminta ayah Kirana untuk mendobrak pintu kamar Kirana. Mereka mendapati Kirana sedang tertidur pulas.

Lalu, Kirana menjelaskan bahwa sudah beberapa hari dia tidak bisa tidur hingga kantung matanya menghitam. Hingga akhirnya ia bisa tidur, dan tertidur sangat lama sehingga ia tak tahu bahwa ada ketukan, dan panggilan memanggilnya, dan sebelum ia tertidur, ia sempat mendengarkan satu lagu, dan tak sempat mematikannya sehingga lagu tersebut terputar secara berulang-ulang.

Minggu sore, Kirana berjalan keluar rumah untuk sekedar menikmati sorenya dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu ia memberanikan diri untuk keluar rumah sendiri. Saat ia sedang berdiri di depan rumahnya sambil menghirup udara luar yang tidak terlalu segar, terdapat beberapa ibu-ibu menatapnya sinis dan ia bingung. Lalu terdapat beberapa anak-anak kecil yang seumuran anak kelas empat atau lima sekolah dasar yang memanggil-manggilnya “mbak gilo”, yang berarti kakak perempuan yang menjijikan. Langsung masuklah Kirana ke dalam rumah, sehingga ia tak jadi menikmati sorenya dengan menghirup udara luar yang tidak terlalu segar.

Kirana merasa kecewa dengan perlakuan orang-orang di sekitar rumahnya. Ia tidak menangis, namun ia tertekan oleh keadaan. Pada malam harinya, Kirana makan malam bersama keluarganya di meja makan dengan hidangan sayur bayam dengan jagung manis, tahu, tempe, ikan asin, ayam goreng tepung, dan satu cobek sambal terasi buatan Ibu.

Walaupun Kirana tidak berselera makan, tapi Kirana memakan ayam tanpa nasi dan sayur untuk menghormati ibunya yang telah membuatnya. Ia mengambil ayam goreng tepung yang bagian paha. Dimakannya ayam itu hingga menyisakan tulang ayam yang cukup panjang ukurannya.

Akhirnya, Kirana berkeinginan untuk membereskan sisa bekas makan malam mereka dan meminta Ayah dan Ibu untuk menikmati Minggu malam mereka di dalam kamar untuk menghabiskan waktu berdua saja. Kemudian Ayah dan Ibu pergi meninggalkan meja makan lalu masuk ke dalam kamar mereka.

Kirana dengan rajin dan cekatan membereskan, dan membersihkan meja makan hingga terlihat rapi lagi seperti sebelum ada makanan tadi. Tapi ada satu yang tertinggal di atas meja makan, tulang ayam yang cukup panjang ukuranya. Ternyata, Kirana memang sengaja meninggalkan tulang ayam itu. Kemudian Kirana masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi ke meja makan.

Lalu, diambilnya tulang ayam yang cukup panjang ukurannya itu, dan dikunyahnya disalah satu ujungnya yang membuat salah satu ujung dari tulang ayam itu sedikit runcing, lebih runcing dibandingkan ujung ballpoint.

Dengan mantab dan tak berhati-hati, ditancapkannya tulang ayam itu tepat ke tengah tenggorokannya, sampai benar-benar masuk ke tengah tenggorokannya hingga mengeluarkan darah segar keluar dari antara tulang ayam dan kulitnya.

Tak terdengar suara tangisan, ataupun jeritan dari Kirana saat melakukan aksi tersebut. Ia hanya menjatuhkan kain meja makan yang tak terdengar suaranya juga. Ayah dan Ibu sedang menikmati madu asmara di dalam kamar, sedangkan di luar kamar Kirana sibuk menikmati maut.

Tak lama setelah darahnya keluar dan membanjiri sebagian besar meja makan, kepala Kirana tergeletak tak berdaya di atas meja makan dan tangannya lunglai ke bawah. Tulang ayam yang menancap di leher Kirana tak perpindah tempat.

Kirana telah membebaskan jiwanya dari raga fananya.

Ibu Kirana bangun pagi dengan kebahagiaan karena supply semalam oleh Ayah. Saat keluar kamar, Ibu Kirana mendapati anaknya tergeletak di meja makan dengan banyak darah di atas dan di bawah meja. Terlihat tulang ayam yang menancap cukup kuat dan masih bertahan tepat di tengah tenggorokannya.

Ibu Kirana langsung lemas menyaksikan anaknya yang tergeletak. Membuatnya jatuh ke lantai, dan menjatuhkan beberapa barang di sekitarnya hingga terdengar suara pecah yang kemudian membangunkan Ayah Kirana. Ayah pun terbangun kaget, langsung bergegas keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.

Ayah Kirana mendapati istrinya menangis di lantai dan anaknya tergeletak berlumuran darah. Ayah Kirana mengangkat Ibu untuk mendekat menuju Kirana yang tergeletak. Mereka berdua berpelukan dan menangis bersamaan.

Tiba-tiba, ibu melihat sesuatu yang ada di bawah meja makan dekat tubuh Kirana yang tergeletak. Terdapat secarik kertas dan satu handycamp usang. Kertas itu bertuliskan, “Ayah-ibu, Kirana minta maaf ini mungkin jalan terbaik yang bisa Kirana pilih. Di dalam handycam ini berisikan sesuatu. Kirana minta tolong ayah dan ibu menyebarkan isi tersebut”.

Tapi, Kirana sedikit bodoh karena selama proses pembuatan video ini Kirana lupa mencopot tutup lensanya, jadi di dengarkan suaranya saja ya. “Sampai jumpa di kehidupan yang lain ayah-ibu. Kirana mencintai dan menyayangi kalian.”

Dilihatlah isi dari handycam tersebut, gambarnya hanya gelap saja namun mengeluarkan suara jika di putar. Isi dari video tersebut berbunyi, “Hay, aku Dewi Kirana. Iya aku Kirana yang selalu kalian jauhi karena aku pernah diperkoksa itu. Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan yang membuat aku bisa dianggap menjadi sebongkah dosa yang berwujud dan bernafas”.

“Aku tidak pernah meminta untuk diperkosa, aku tidak pernah meminta media mengeksposku, aku tidak pernah meminta kalian menjauhiku. Tapi siapakah aku ini, aku hanyalah manusia yang kalian anggap sampah sehingga memang layak untuk kalian buang”.

“Tak apa, aku menerimanya kok”.

“Lewat kalian akhirnya aku benar-benar belajar tentang makna kehidupan. Dulu tujuan hidupku adalah menjadi orang yang pintar yang bisa kalian banggakan. Namun itu dulu, saat rasa banggaku akan kehidupan belum luntur”.

“Semoga kematianku bisa memutus rantai sosial yang jahat”.

“Sekarang kalian telah mengubahku, aku berterimakasih”.

“Akhirnya, aku pun tahu bahwa sebenarnya tujuan hidupku hanyalah sebuah penantian atas kematianku saja,” begitulah ucap Dewi Kirana dalam videonya yang gelap, segelap kegelapan dunia walau dihias dengan begitu banyak lampu, yang terang dan indah namun tetap masih terasa gelap.•

Facebook Comments
Tag

Rio Hanggar Dhipta

Sesuatu yang berasal dari pembuahan laki-laki dan perempuan yang sekarang menjelma menjadi seorang pemuda dan akan tetap muda sampai nantinya. Tertarik pada sesuatu yang dianggapnya menarik.Panjang umur segala hal yang baik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close