Film

Taree Zameen Par, Melodrama Pengidap Disleksia Kaya Karya

Setidaknya, ada dua hal yang dikritik melalui film “Taree Zameen Par”. Pertama, soal sistem pendidikan konvensional yang dirasa dapat mereduksi proses kreatif dan daya cipta. Serta kedua, tentang kurikulum yang tidak dapat mengakomodir proses tumbuh kembang pengidap disleksia. Semua itu lantas dikemas dalam sebuah narasi “melodrama”, dan dibalut dengan “karya visual” yang amat kaya imajinasinya.

Galih Agus Saputra

Ishaan Awasthi ialah anak berusia delapan tahun. Ia kesulitan menulis, membaca, apalagi matematika. Kala menulis, misalnya, ia tidak dapat membedakan huruf “b” dan “d”. Oleh karena itu, jika ia hendak menulis big (baca: besar), maka bisa jadi ia malah menulis dig (baca: gali). Atau jika ia hendak menulis top, maka ia malah menulis pot. Setiap membaca, semua huruf di depan matanya seolah menari-nari. Apalagi kala menghitung, ia juga tidak dapat menggunakan logika matematis tapi lebih mengedepankan sisi intuitif dan imajinatif. Maka dari itu pula, ia yang sebelumnya tidak naik kelas, kini kembali mendapat peringatan dari kepala sekolah untuk kembali belajar di kelas tiga.

Prestasi akademis Ishaan memang tidak seperti kakaknya, Yohan yang selalu mendapat peringkat satu di kelas. Yohan juga hampir sempurna dalam olahraga, karena ia dapat terjun di tiap babak final turnamen tenis yang diikutinya. Sementara Ishaan, melempar bola saja ia tidak dapat menyasar target yang menjadi pusat perhatiannya. Semacam ada gangguan motorik dalam dirinya.

Namun, Yohan selalu kagum dengan Ishaan yang kaya akan imajinasi saat menari dengan tinta di media lukisnya. Ihsaan (diperankan Darsheel Safary) dan Yohan (diperankan  Sachet Engineer) adalah anak pebisnis sukses di Mumbai, India, Nandkishore Awasthi (diperankan Vipin Sharma) yang punya tuntutan tinggi untuk proyeksi masa depan anaknya. Seperti anak-anak di India pada umumnya, profesi yang dianggap layak untuk mereka antara lain seperti dokter, insiyur, teknisi, dan lain sebagainya.

Tetapi, Ihsaan sungguh berbeda, dan karena memang demikian seharusnya. Every child is special (baca: setiap anak itu istimewa) atau kira-kira begitulah Aamir Khan membangun prespektif tentang anak, melalui film garapannya bersama Walt Disney Studios berjudul Taree Zameen Par (Like Stars on Earth, dalam versi internasional).

Memahami Proses Kreatif

Melalui film rilisan 2007 silam itu, Aamir yang menjabat produser juga membintangi salah satu tokoh di dalamnya. Ia memerankan Ram Shankar Nikumbh, seorang pemerhati anak dengan kebutuhan khusus, sekaligus guru tamu untuk kelas seni di sekolah asrama yang dipilih Nandkishore, saat memindahkan Ihsaan karena tidak naik kelas. Shankar kemudian melihat Ishaan, dan pertemuan mereka di sekolah itu tampak begitu emosional.

Ihsaan terlihat depresi kali pertama disapa Shankar di dalam kelas. Belakangan diketahui, tertanya orang tua dan guru di sekolah Ihsaan sebelumnya tidak pernah memahami proses kreatif yang dimilikinya. Shankar kemudian juga paham jika Ishaan mengidap disleksia, sebuah gangguan pada anak usia tujuh hingga delapan tahun terkait kemampuan baca-tulis atau pemahaman verbal lainnya.

Meski demikian, Shankar tahu bahwa di sisi lain Ihsaan terdapat bakat yang luar biasa. Ia dapat melukis “konsep”, bahkan mampu mengeskplorasi berbagai macam “simbol” layaknya perupa kenamaan di dunia seperti Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, atau Agatha Christie, penulis yang juga bermasalah dengan baca-tulis.

“Tetapi memaksa anak-anak untuk menganggung beban ambisimu itu lebih buruk dari eksploitasi anak. Setiap anak pasti akan belajar dengan caranya sendiri. Lima jari yang tidak sama panjangnya saja dapat menjadi sebuah tangan,” kata Shankar, dalam salah satu cuplikan film Taree Zameen Par.

Taree Zameen Par
Taree Zameen Par merupakan film yang bercerita tentang Ishaan Awasthi (Darsheel Safary, kiri) seorang pengidap disleksia yang diasuh guru seni, Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan, kanan) (Foto: Dok. Taree Zameen Par).

Sinkat cerita, Shankar kemudian membuat sebuah kompetisi melukis di asrama. Kompetisi tersebut dapat diikuti siapa saja tanpa batasan umur, mulai dari kepala sekolah, guru, dan murid. Jurinya adalah perupa kenamaan asal India, yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni yaitu Lalita Lajmi.

Lalita kemudian memberikan penilaian untuk seniman pemenang kompetisi tersebut. Seniman yang ia maksud ialah Ihsaan Awasthi, yang mampu mengalahkan semua karya dalam kompetisi bahkan karya gurunya sendiri, Shankar. “Kami memutuskan untuk pemenang kompetisi ini, sekalipun hasilnya sama-sama baik, tapi akan lebih baik lagi jika murid mengalahkan guru. Selamat kepada Ishaan Awasthi,” kata Kepala Sekolah, yang kemudian disambut sorak sorai para peserta.

Problem Sistem Pendidikan Konvensional

Sungguh menarik menikmati alur cerita Taree Zameen Par. Penonton tidak hanya diajak mengenali proses kreatif pengidap disleksia, namun juga cara pandang yang berbeda dari seniman karya visual pada umumnya. Naskah film itu ditulis Amole Gupte, dimana ide ceritanya sejak semula dikembangkan bersama istrinya Deepa Bhatia. Gupte dan Bhatia mengembangkan cerita itu sebagai cara untuk memahami persoalan anak, yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan konvensional.

Pekerjaan awal mereka dimulai dengan sebuah cerita pendek. Hal tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah skenario film yang dikerjakan selama tujuh tahun. Bhatia kemudian juga sempat menyatakan bahwa inspirasi aslinya bukanlah pengidap disleksia, melainkan masa kecil pembuat film asal Jepang, Akira Kurosawa yang selalu dianggap buruk di sekolah.

Gupte dan Bhatia mereferensikan momen tertentu dalam kisah hidup Akira, dimana ia mulai unggul setelah bertemu dengan seorang guru seni yang penuh perhatian. Mereka berdua juga mencatat bahwa adegan tersebut, “menjadi inspirasi untuk bagaimana seorang guru dapat mengubah kehidupan, sekaligus mendorong kreatifitas seorang siswa”.

Taree Zameen Par
Taree Zameen Par merupakan sebuah film yang terinspirasi dari biografi pembuat film asal Jepang, Akira Kurosawa (Foto: Taree Zameen Par).

Taare Zameen Par menerima banyak penghargaan. Antara lain Film Terbaik 2008 versi Filmfare Award, dan Film Terbaik tentang Kesejahteraan Keluarga dalam National Film Award (India) 2008. Pun Kritikus Film India, Subhash K. Jha turut memberikan respon positifnya. Ia mengatakan bahwa Taare Zameen Par adalah, “sebuah karya seni dan lukisan dimana sebuah warna dapat menetes ke dalam hati dengan mudah, sekaligus dapat jatuh ke dalam suatu gerakan sentimentalitas… sebuah penampilan luar biasa dari sebuah emosi dan drama”.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close