Cerita Pendek

Telepati Arti Menuju Kejelasan Bumi (Bagian II)

Rumput Ilalang

Rumput  ilalang sudah setinggi lutut. Pekarangan yang di penuhi rumput itu, mengingatkan Sally akan kenangan masa lampau. Saat udara pagi mencari celah untuk menampakan kecantikannya. Udara dan tetesan embun di daun yang melambai-lambai dengan ditemani kenangan yang masih tersisa, berpadu dengan cerita hangat yang dulu di dongengkan mendiang nenek.

“Wong wadon iku, kudu ngatrepke nilai-nilai lan norma seng ono neng keluarga,” kata nenek, perempuan itu harus selalu menerapkan nilai-nilai dan norma yang ada pada keluarga. Berat memang beban moral perempuan zaman dulu, sama seperti yang dirasakan Kartini yang ternyata mengaku menyerah pada alam, pada 1904.

“Ojo sampe ninggalke tradisi, wani muni ora becik marang wong tuo. Salah opo bener, rungokno,” nenek bilang, jangan sampai meninggalkan tradisi, berani berbicara tidak baik untuk orang tua, benar atau salah dengarkan saja.

Sampai tuntunan perilaku saja jelas menyuruh dan mengekang kebebasan. Seakan yang mengingkarinya akan mendapatkan dosa sebesar gunung. Jika berani membenarkan yang salah walau itu dengan bahasa dan solah bowo (perilaku) yang baik.

Sama halnya dengan Mimpi. Ia adalah teman sejawat Sally di Perguruan Tinggi. Hobinya sangatlah sederhana yaitu menjahili Sally, menertawakan jika Sally sudah mengumandangkan dalil-dalil yang berhubungan dengan Feminis. Entah ingin jadi seperti apa mahasiswa semacam Mimpi ini, hanya huru-hara saja kerjaanya. Walaupun dalam batin, Mimpi selalu sependapat dengan kata-kata Sally, hanya saja ia tak berani mengakuinya.

Bahkan terlihat amat sembrono ketika bersinggungan dengan materi-materi perkuliahan. Dan dianggap lelucon lalu dan hanya beban berat sementara untuk mendapatkan ijazah semata.

***

“Sal, kita mau kemana sekarang?” Mimpi melenggang di trotoar, sambil sesekali memperhatikan petugas bangunan yang sibuk dengan mesin pengaduk semen. Di sisi kiri jalan, pun terlihat tukang sayur yang sedang mengambilkan seikat bayam untuk nenek tua dengan kopiah di kepalanya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” kata Sally

“Bosan juga kalau libur tanggal merah begini, tidak ada yang bisa ku goda di rumah, apalagi rumahmu. Atau aku goda Naratama saja? Haha… ,” tukas Mimpi.

“Sah-sah saja, selama otakmu itu tidak waras,” Sally menimpalinya.

Loh, haha… Kucing juga makhluk hidup, lalu apa bedannya dengan kita?” Mimpi semakin menggoda Sally.

“Isi kepalamu itu yang berbeda, ” Sally kembali menimpalinya.

“Haha… Oh iya, mending kita masak saja. Kita buat pasta atau kari,” ajak Mimpi kepada Sally.

“Boleh, sepertinya kari enak juga,” Sally mengiyakannya.

Mereka berdua lantas berjalan menuju tukang sayur  di seberang jalan tadi. Untuk mendapatkan beberapa rempah yang menambah kesedapan karinya nanti. Ternyata cukup lengkap yang dijual. Seperti, lengkuas, laos, merica, kecap asin dan minyak wijen. Mereka kemudian membeli daging dan sayur sebagai bahan utamanya. Berhubung Mama Sally sedang di luar kota, Mimpi memang sesekali tidur di tempatnya, sekedar menemani atau mengerjakan tugas bersama. Walaupun akhirnya mereka hanya akan menghabiskan waktu semalaman untuk mengobrol atau sekedar memperdepatkan pandangan mereka.

Selesai menyantap kari buatan Mimpi, Sally lalu pamit pulang ke rumah karena ingin melajutkan hibernasi dengan perut penuh kuah kari. Kuah berwarna kuning dengan aroma rempah yang menggugah selera.

***

Sekarang, angin seolah mengeram dan bunyi deburan ombak ke bebatuan bergemuruh dalam kepala Sally seperti dentaman kaki binatang liar. Sally teringat dengan buku neneknya yang terjemahannya hampir ia selesaikan. Sally memang belum sempat membacanya secara utuh. Kesempatan libur ini tentu dapat ia manfaatkan.

Buku yang tampak kuno dengan warna dominan coklat keemasan itu memang terlihat usang, mungkin saja karena umurnya. Tapi lebih dari itu, siapa yang menulis buku itu? Tampak jelas tak ada cantuman nama penulis dan bagaimana tulisan itu dapat menjadi satu rangkaian buku utuh.

Kehidupan manusia memang sangat rumit. Apalagi dengan teka-teki kehidupan yang terjadi begitu saja di alam. Sepertinya memang, manusia hanya hidup untuk dibuat kewalahan, untuk mempertanyakan banyak hal dalam kehidupan. Seolah tak sabar membedah apa yang ada dalam buku itu, Sally kemudian bergegas menyelesaikan terjemahannya. Selang 3 jam kemudian, terjemahan itu selesai,

Daun

Waktu terus berputar dan terus terbagi
Lawak-lawak kehidupan gemerlap
Lahir dengan penuh cahaya
Dengan dorongan doa dan harapan menjadi pelangi
Sungguh tiada lara yang mampu menghapus lukanya sendiri
Memberhentikan potongan-potongan apas
Untuk sesuatu hal yang dinanti

Menunggu saatnya gugur menjalani kodrat alam
Tiba datangnya waktu memberi isyarat yang baik
Saatnya merayakan kemenangan
Menjelaskan kepada dua belah pihak pemangku kehidupan
Tentang daun yang bergoyang diterpa angin
Sanubari dan kalbu menjadi jawaban, serta lainnya adalah pendamping

Daun yang hijau tak setangkas bunglon, merubah warna seiring posisinya
Menjatuhkan diri sesuai jalannya
Mengelabui sesuai kemauannya
Selincah apa yang dibuat tak akan mengganti apa yang ditinggal
Setelahnya tak berguna penjelasan, bagi yang telah nyata di depan mata
Seperti petunjuk yang tak akan selalu tepat menunjukkan tempat

Halaman pertama buku itu memuat secarik puisi untuk mengantar Telepati Arti Menuju Kejelasan Bumi. Tampak sedikit abstrak dan tak jelas apa maksud dibalik puisi itu. Mungkin salah manusia, seharusnya tahu diri, bukan saja untuk tahu terhadap dirinya sendiri tapi juga harus tahu ia hidup berdampingan dengan alam dan segala isinya.

Duh, kalau semua isinya puisi bisa gawat. Bukan saja akan sulit memahami maksudnya, tapi puisi adalah karya sastra yang kaya akan retorika dan boleh jadi memiliki makna ganda. Tenang, mari coba baca lagi,” Sally melajutkan membaca.

Setelah puisi, ternyata isi buku itu di sambung dengan cerpen seorang perempuan yang gila karena tahta. Tidak terlalu menarik, hanya sebuah kisah sederhana tentang riwayat seorang perempuan yang juga depresi berat karena mengejar harta. Tapi ada satu kalimat yang terkesan seperti pembelaan seorang perempuan yang sudah hampir gila karena harta dan tahta.

Kalian sibuk mencari, bedanya denganku, aku mendapatkan semuanya sendiri.
Lalu kau bilang aku gila, aku akan jadi gila hanya untuk menyenangkan orang-orang yang menganggapku gila.
Tapi, sebenarnya kalian tahu aku tak pernah segila ini.

Ingatlah bahwa dimana ada Tuhan, kebijakan manusia adalah kegilaan seperti dalam novel Di Tepi Sungai Pidera Aku Duduk dan Menangis. Jelas sekali pandangan manusia mendapat porsi rendah dan selalu tak pantas untuk dipertimbangkan.

“Mungkin aku ini juga hebat ya. Cuma tak diberi kesempatan saja untuk tahu,” gerutu Sally.

“Kau hanya tak mau melihat,” hati kecil Sally tiba-tiba menjerit.

“Apa sebenarnya maksud buku ini, kenapa semakin tidak jelas saja. Tunggu… ,” Sally kemudian berkata lagi dalam hati.

Sally mencoba mengorek habis ingatannya siapa tahu masih ada yang tersangkut sehingga tak keluar dari mulutnya. Kedahsyatan emosi yang begitu tidak rasional dan tidak terelakan ini kemudian menggangu.

“Tunggu, aku harus baca sampai selesai,” katanya.

Di akhir cerita terdapat puisi sebagai penutup dari buku ajaib yang ditemukan Sally. Sedikit banyak isi buku itu seperti menjelaskan tentang seorang perempuan yang berjuang, tapi tak dijelaskan secara pasti apa yang sedang ingin dicapai.

“Atau mungkin akan ada perempuan feminis seperti sekarang. Ini hanya sekedar ramalan… ,” Sally membolak-balik bukunya.

“Serasa percuma aku menerjemahkan,” ia kemudian membanting buku itu di atas tempat tidur, disertai kernyitan di dahi.

Dalam batin, Sally mengumal, sekarang ini banyak penggerak feminis, misalnya Ayu Utami yang banyak melahirkan karya sastra. Atau Toety Heraty, pendiri Jurnal Perempuan, pada 1998. Tetapi yang dibingungkan Sally adalah apa hubungan semua itu dengan dirinya. Ia harus tahu tentang semua itu, dan lantas apa yang akan ia dapat?

“Nenek, aku hanya semakin tidak mengerti saja setelah membaca buku ini. Apalagi, tidak ada jawaban pasti tentang penasaranku mengenai kehidupan zaman dulu yang mungkin terjadi di bawah bumi,” kata Sally dalam hati.

Seperti sebuah kiasan, hidup hanya sebagai hadiah untuk manusia. Semua tidaklah perlu mencari arti yang sebenarnya, karena ia berjalan dengan langkahnya, kita hanya perlu untuk menyadari keberadaanya.

Akhir dari buku Telepati Arti Menuju Kejelasan Bumi membuat napas Sally terseok-seok, sehingga membuatnya menitikan air mata. Neneknya tidak pernah memberikan jalan atau membantunya untuk mendapatkan suatu jawaban, tapi hanya menuntunnya untuk mengetahui segala gejolak dalam batinnya sendiri.

“Aku akan terus berbagi, agar kita selalu mengerti dan berani” tegas Sally.

Dalam dirinya, Sally seperti mendapatkan pengalaman emosional yang sangat mendalam. Sally lalu memasrahkan tubuhnya terbanting di atas kasur ditemani bintang yang gemerlap dan bulan yang tampak bulat penuh. Ditambah angin malam yang sengaja menina bobokannya dengan lembut.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close