Cerita PendekSerat

Telepati Arti Menuju Kejelasan Bumi (Bagian I)

Kisah ini bercerita tetang sosok Selly yang mencari sebuah arti kehidupan, dan dikemas dalam balutan mitos serta pamali, yang terkenal di Jawa. Ditambah dengan bahasa yang sedikit nyeleneh, hanya ringan saja, tapi terkesan sensual dan abstrak. Mitos dalam tradisi Jawa, yang rumit dan membingungkan namun dipecahkan dengan ringan. Kalian akan merasa pernah mengalami sebagian kisah dalam cerita ini kemudian mengangguk-angguk mengiyakannya.

Putri Yuniarti

Watu Alas

Matahari merekah tepat diatas ubun-ubun sedangkan panasnya seolah membakar kepala. Keringat bercampur polusi terus saja menampar Selly siang itu. Jalanan memang tak pernah lengang oleh kendaraan yang lalu lalang. Kadang ada yang berjalan tak aturan, ada pula yang tampak biasa saja. Seperti jerih payah tukang sampah yang membersihkan jalan, atau rutinitas di Toko Chinise yang selalu buka paling pagi. Tentu dengan alasan yang sama, yaitu untuk mendapatkan untung yang lebih dari toko lainnya.

Keadaan itu memaksa Sally untuk tetap tinggal dan mengikuti suasana di lingkungannya yang membuatnya bosan. Bagi Sally, banyak hal di hidup ini yang terlalu ikut campur, mulai dari kebiasaannya untuk bangun pagi, kuliah, kemudian les musik dan beberapa kerumitan lainnya, yang mau tidak mau menjeratnya sepanjang waktu. Itu semua Sally jalani hanya karna ia ingin tampak seperti orang pada umumnya.

“Terus aku ini apa?” gerutu Sally sembari membereskan kerahnya.

“Kujemput kau di depan rumah,” gawai Sally berdering menampilkan pesan.

Aiiss… kau selalu salah menggunakan kalimat,” seru Sally.

“Tak usah ribet, masuk. Aku tak perlu jadi aktor di hadapanmu,” celoteh Charter sambil memainkan alisnya di depan Sally.

Tak lama berselang, suara Jip mengaung sebelum meninggalkan gumulan asap tebal di pekarangan rumah Sally. Jalanan yang lurus membuat aksi kebut tak terelakan lagi untuk dihindari.

***

Di abad 20 ini, tak ada yang benar-benar tampak menarik. Seperti lelucon penulis fiksi ilmiah yang sudah uzur itu, Kilgore Throut: “hidup adalah seperiuk tai.” Kata ini terdengar seperti lelucon receh di tengah kota.

Padahal hidup di tanah Jawa tidak selucu itu, walaupun banyak yang bilang “Apa? Hanya orang Jawa?” yang identik dengan orang kampung. Hal ini membuat Sally berpikir. Tak boleh lupa pula, jika Sally berkeinginnan untuk mengatakan yang diucapkan Throut, itu terlalu saru dan dianggap tak sopan di tanah Jawa.

Pada sore itu, Sally hanya duduk di teras rumah sambil melihat pekarangan yang luas menghadap pohon yang rimbun.

Adakah hidup selain hidup di dunia ini, ataukah dulu masih ada hidup lain, seperti pada Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Majapahit. Suara hati Sally bergejolak.

“Mungkin ada, tetapi berbeda dengan cerita yang pernah ditulis pada buku-buku sejarah,” gumamnya.

Sekarang Sally pindah di Jalan Wellpak setelah neneknya meninggal 5 tahun silam. Di sini Sally masih tetap sama dengan dirinya yang dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun, hanya tempat tidurnya saja yang berlainan, sisanya tampak sama saja, seperti rumah yang tampak pada umumnya.

Sally masih sering tidak percaya: apakah bumi yang sekarang ditinggalinya ini dulunya adalah rumah bagi manusia di dalam bumi, seperti cerita neneknya sebelum meninggal yang tak sempat menjelaskannya sampai tuntas. Ketika Sally tanyakan cerita itu, neneknya selalu menjawab, “akan kau ketahui semua setelah kau dewasa”.

Dahi Sally mengernyit waktu teringat neneknya pernah berkata demikian. Apalagi, ajal yang menjemput neneknya tak membuat Sally mendapatkan jawaban atas banyak hal.

Sally kemudian mencoba untuk merasionalkan beberapa hal, seperti bagaimana caranya agar ia tahu cerita itu secara lengkap, di saat tak ada satu pun jejak yang ia katongi. Sally juga tak punya petunjuk. Hal ini ternyata, menggangu pikiran Sally hingga membuatnya semakin bingung bercampur penasaran.

Sally mulai mencoba riset kecil-kecilan, untuk setidaknya menenangkan pikiran dari rasa penasaran yang tak dapat dibendung. Sore berikutnya Sally mencoba menggali tanah di pekarangan belakang rumah.

Hanya berbekal sekop kecil dan bilah bambu untuk mengukur kedalaman tanah yang nanti digali. Sally mulai merongrong, namun di tengah ia menggali tanah, ia berpikir.

“Berapa puluh meter yang harus kugali untuk mengetahui peninggalan di dalamnya,” Sally bertanya dalam hati.

Lantas, seperti seseorang yang menemukan kerajaan di dasar tanah.

“Ah… ini gila, atau aku yang sudah mulai mendekatinya,” Sally membanting sekop jauh ke depan penggalian itu.

Sally terengah, antara kesal dengan dirinya serta pada rasa penasaran yang tak bisa diajak untuk kompromi. Sally kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.

***

Malam harinya, sambil menyangga dagu di jendela kamar, Sally mulai mencocokkan beberapa teka-teki yang ada. Perkataan almarhum Nenek memang membuatnya gelisah beberapa waktu ini.

“Padahal, apa untungnya aku tahu. Ini mungkin karna matakuliah sejarah kemarin menjeratku untuk mengingat semua ini,” kata Sally.

Sally mulai memikirkan, karakter orang Jawa. Ia kemudian mengingat bahan bacaan yang ditulis Ben Anderson tentang Mitologi dan Toleransi Orang Jawa, yang di dalamnya memberikan pemahaman tentang karakter orang Jawa, sebagaimana tergambar di dalam dunia wayang yang merupakan dasar moral bagi orang Jawa.

“Nah, dulu saja kalau berbicara soal karakter ada wayang sebagai pedomannya. Sebelum ada semua itu pasti ada sejarah sebelumnya. Ini membingungkan, tapi kalau sekarang banyak kerajaan ditemukan di balik gundukkan tanah, jadi dulu sebenarnya manusia hidup di bawah tanah sebelum sekarang ini hidup di atas bumi,” Sally mencoba merasionalkan pengetahuannya.

Berbagai macam pikiran mulai dipadu-padankan oleh Sally hingga merogoh jauh ke tiap inti sel otaknya. Ia menggali sekian banyak teka-teki di masa kecil dan berhadap dapat menjadi pengantar untuk penelitianya.

***

Burung-burung Emprit bercuit di depan teras rumah, seakan berlomba mengucapkan salam kepada Sally. Rutinitas kembali menghampirinya, bersama seluruh isi bumi dan alam semesta yang seakan-akan ikut menyapanya di pagi hari, di saat Sally sendiri sudah mulai enggan untuk menjawab semua sapaan yang datang padanya.

Ketika tiba di depan pintu gerbang rumahnya yang lama, semua tampak tak ada yang berubah. Sama saja seperti dulu, dengan bau kayu yang khas dan menentramkan jiwa.

“Rumah senyaman ini, kenapa diganti. Agar aksesnya dekat dengan kota? Ish… ,” Sally mendengus.

Sally menganggap alasan itu tak cukup kuat.

“Kalau hanya untuk kemudahan akses, padahal sayur dan perlengkapan lainnya juga tersedia di sini. Estetika tak begitu dihiraukan sekarang, yang penting modern dan tak jelas fungsinya. Itulah gambaran sederhana tentang rumah di era sekarang,” Sally memprotes.

Sally selalu suka ketika harus menghabiskan waktu di rumah lamanya. Barangkali hanya untuk sekedar membaca buku di dekat perapian, yang jika di musim hujan sangat terasa menghangatkan badan.

Rumah dengan gaya Belanda kuno ditambah perapian sederhana yang sengaja dibuat neneknya itu, memang masih awet dan kokoh hingga sekarang.

Sebenarnya, ketika Sally pergi ke rumah yang lama, ia tak pernah mengatakan kepada Mamanya. Ia tak mau terlibat lama dalam sebuah drama. Jadi, kerja kelompok adalah obat mujarab, sekaligus kuat untuk dijadikan alasan.

“Aku hanya ingin menikmati kesunyian dan kenangan lama di rumah ini tanpa diganggu dengan kekhawatiran Mama,” kata Sally dalam hati.

Kini Sally mulai dituntun dengan instingnya. Terpikir dalam benak, pertama-tama, hal apa yang harus dilakukannya. Apakah mengulik-ulik tempat tidur atau mulai dari mana. Ia kemudian memutuskan untuk masuk ke gudang. Itu lah tempat yang sangat jauh dari berbagai macam aktivitas. Hanya neneknya, yang semasa hidup masuk ke sana. Barangkali hanya untuk sekedar membersihkan, atau membaca di balik pintu gudang itu.

***

Bau apak memenuhi setiap sudut ruangan. Mulai dari sawang-sawang di kanan-kiri, debu tebal yang melekat di permukaan meja, almari, dan peralatan lainnya. Sally mulai mendekati kaca kuno yang masih terpasang di sebelah tumpukan barang-barang bekas. Dibersihkan kaca itu dengan tangannya, tampak hitam dan berdebu, namun Sally sama sekali tak keberatan.

Karena sulit dijangkau, Sally mencoba menggeser kaca itu ke arah kanan. Ketika Sally ingin mengambilnya, tapi yang terjadi, kaca itu tiba-tiba bergeser ke arah kiri. Terlihat kotak coklat mirip tempat perhiasan, yang tiba-tiba menyembul keluar. Awalnya Sally takut mengambilnya, tapi karena penasaran kemudian Sally raih kotak itu.

Dalam kotak persegi empat itu ternyata ada sebuah buku, dengan judul Telepati Arti Menuju Kejelasan Bumi. Tanpa berpikir panjang, Sally kemudian mangambil buku itu. Rasa ingin tahunya semakin menjadi-jadi. Apakah sebenarnya yang selama ini ia resahkan akan terjawab dengan buku itu, atau ternyata itu hanyalah buku rongsokan peninggalan neneknya semasa masih hidup.

Lebih terkejut lagi Sally, ketika buku itu ia buka. Huruf yang dipakai adalah Aksara Jawa, dicampur dengan Bahasa Jawa Krama Alus. Dalam hati, Sally sedikit lega karena setidaknya ia mengerti dasar penggunaan Aksara Jawa. Sekalipun ia bingung, karena judulnya menggunakan Bahasa Indonesia.

“Jangan-jangan isinya tidak cuma menggunakan Aksara Jawa,” Sally melotot serius.

Ia membolak-balikan buku itu, memastikan agar bersih dari debu.

“Ternyata ini maksud nenek,” Sally tersenyum. “Terimakasih, Nek. Sally tahu Nenek pasti menyimpan sesuatu untuk menjawab penasaranku.”

Sally bergegas ke pekarangan belakang rumah. Cahaya semakin jelas dan nampak menyilaukan mata. Ada guguran daun-daun yang menggunung di beberapa tempat masing-masing. Tercium pula aroma bunga Melati dan Anggrek yang masih tumbuh subur.

Ia lalu mulai mengumpulkan daun serta ranting-ranting kecil dalam sebuah karung putih yang ia temukan di gudang.

Tak sampai setengah jam karung itu sudah penuh dengan kompos daun.

“Aku memang tidak mau membakarnya, karena asap yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran itu dapat mengikis lapisan ozon,” kata Sally.

Selesai membereskannya, Sally lantas melihat bunga lainnya yang lebih bagus di luar pekarangan belakang. Banyak yang berubah dalam enam tahun ini, setidaknya di sekitar daerah itu banyak mengalami kemajuan.

Sally mendekat untuk melihat bunga itu. Seperti bunga yang ada di hutan, entah apa namanya, tapi ia ingat jelas bunga dengan tangkai dan daun yang lebat itu pernah dipelajari dalam mata pelajaran Biologi ketika masih SMA.

Sally mulai membuka pagar pekarangan belakang rumah. Penasarannya memang selalu menjadi-jadi ketika mendapati hal yang cukup menarik perhatian.

BRK… ” Sally tersandung dan jatuh tepat di depan bunga.

Watu Alas,” Sally sontak berkata, dan setengah heran dengan bunga di hadapannya.

“Sejak kapan ada Watu Alas di pekarangan belakang rumah? Dan seakan hanya tumbuh di posisi tertentu saja. Yang benar saja!? Watu Alas ini memang tumbuh pada batu biasa tapi umumnya terlihat lebih tua dan berlumut. Batunya pun biasanya dalam bentuk bongkahan-bongkahan besar. Namun, ini disusun menyerupai taman kecil yang asri. Ini membuatku bergetar semakin merinding. Rumahku memang berjarak dengan rumah lain, tapi untuk apa membuat taman di tempat seperti ini. Tentu, dari hal ini akan muncul pertanyaan lain: Siapa yang membuatnya?” Sally semakin penasaran dengan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di benaknya.

Pertanyaan itu datang begitu saja, tiba-tiba, tanpa permisi, dan Sally semakin bingung dibuatnya.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close