Ulasan

Tentang Legenda dan Masyarakat Tutur

Dan sang raksasa pun terpelanting jauh ke atas langit. Tusukan tajam kuku Raden Bandung membuat tubuhnya membuncah dan mengurai tulang demi tulang ke seluruh penjuru negeri. Konon, butuh tiga puluh lima hari penyangga raga itu menerjang bumi, terserak, dan tak berperi.

Sih Natalia Sukmi

Penggalan legenda Balung Buta di atas sempat membumi di kalangan masyarakat Jawa sebelum tahun 1930-an. Berbagai versi dituturkan untuk memahami temuan tulang belulang yang kini mereka kenal sebagai fosil. Ilmu pengetahuan telah menggeser kosakata mereka dalam membahasakan cerita lokal. Nyatanya, begitu sulit menggali narasi dan suluk yang tak mereka lagukan lagi.

Legenda itu bak ujaran-ujaran yang dulu mungkin sering kita dengar: Aja mangan neng ngarep lawang yo, ndukI; Aja dolan yen srengenge angslup yo, le! Ana candik alaII. Sering kita tidak paham mengapa kita tidak boleh melakukannya. Tidak bertanya dan tidak mendapat jawaban atas makna mitos membuat transfer pengetahuan (knowledge) dari generasi ke generasi menjadi tidak lengkap. Ia terputus bahkan akan mati bersama generasi yang tidak merawat dan membuatnya menjadi bagian hidup. Sayangnya itu sering terjadi dalam masyarakat tutur, seperti kita.

“Tete ka asom ene Kakyere,” pepatah Ghana dalam tulisan Jan Vasina berjudul Oral Tradition as History (1985) itu bermakna bahwa, “hal-hal masa lampau tetap tinggal di telinga”. Mitos yang merupakan bagian dari tradisi lisan (oral traditions) hanya muncul ketika kita berbicara. Ucapan mungkin bersifat sementara namun memori akan terpatri. Walaupun demikian, budaya perlu memproduksi dan mereproduksi memori melalui kata-kata yang dipertukarkan secara terus-menerus.

Ulasan aslo.co
Alat Batu dan fosil yang dulunya dikenal masyarakat Sangiran sebagai “Balung Buta” (Foto: Galih Agus Saputra).

Lantas, apa sebenarnya mitos? Salah kaprah atas definisi dan penyimbolan membuat makna menjadi terdistorsi dan bergeser dari makna mula-mula. Mitos identik dengan kepercayaan tak berdasar, tak dapat dilogika, dan tak dapat dijelaskan. Hal tersebut sering lahir dari anggapan bahwa kita kerap melihat pengetahuan di luar jauh lebih sempurna. Mitos sebenarnya adalah bahasa yang digunakan oleh komunitas atau masyarakat untuk memahami fenomena yang ada di sekitarnya. Jika ilmu pengetahuan memiliki caranya sendiri untuk menerangkan fenomena yang ada, begitu pula dengan mitos. Ansel Adams, seorang fotografer sekaligus pegiat lingkungan hidup (environmentalist), bahkan memandang mitos sebagai upaya atau pertarungan sengit untuk mendapat jawaban atas kebenaran di dunia. Pertanyaannya, apakah kita perlu menyamakan intepretasi kebenaran itu?

Mitos dan Masyarakat non-Penutur

Dalam sebuah kelas internasional tentang heritage, mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Perancis diberi ruang untuk memahami mitos di Situs Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Ketika berkunjung ke sebuah punden (baca: bukit), baik mahasiswa dari Indonesia atau Perancis sama-sama mendengarkan kisah punden dan hal-hal sakral terkait dengannya. Persepsi atas mitos pun beragam, mahasiswa Indonesia merasa ada “sesuatu” yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Sementara bagi mahasiswa Perancis, mereka tidak merasakan hal serupa. Pesan yang sama dengan intepretasi dan rasa yang berbeda, memicu makna lahir secara berlainan.

Pertanyaan pun kemudian dilontarkan, apa yang mereka dapatkan ketika mendengar cerita tersebut? Jawabnya, mereka tidak merasakan apa pun. Benar bahwa mereka memahami cerita tentang punden, namun tidak merasakan nuansa atau sensasi lain seperti mahasiswa Indonesia. Layaknya membaca cerita rakyat: Le Petit Chaperon Rouge, La Barbe Bleue, atau Les Fées yang ada dalam budaya mereka, mereka hanya menangkap punden dari narasi yang mereka terima sebagai sebuah cerita saja.

Berbeda dengan mahasiswa Perancis, mahasiswa Indonesia bisa menjelaskan mitos tidak hanya dari ceritanya saja, namun juga pengalaman personal atas ‘rasa’ yang mereka dapat ketika mereka mendengar dan berinteraksi dengan punden. Itu yang mungkin disebut bahwa history repeats itselfIII. Rasa mungkin tidak dapat lahir dari generasi yang tak memiliki pengetahuan yang dipahami tanpa dikatakan (tacit knowledge). Dan, jika disadari, itulah kekayaan lokal yang tak terhitung, karena nilai bukan hanya yang nyata (tangible) namun juga intangible.

Preservasi

Jika menilik target 11 dalam sasaran Sustainable Development Goals (SDGs), dapat dilihat bahwa upaya penguatan untuk melindungi warisan dunia baik secara kultural maupun natural, menjadi fokus dalam agenda pembangunan kota dan komunitas secara berkelanjutan (sustainable cities and communities). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, juga menegaskan bahwa upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan nasional bertalian erat dengan kemakmuran rakyat.

Ulasan aslo.co
Mahasiswa Indonesia dan Perancis saat berkunjung ke salah satu punden di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah bersama juru kunci punden tersebut (Foto: Mélie Louys).

Dalam perkembangannya, warisan budaya (cultural heritage) tidak hanya berhenti pada monumen kasat mata, namun pada upaya untuk melakukan pelestarian terkait dengan tradisi lisan: pertunjukan kesenian; praktik sosial, praktik tentang pengetahuan alam dan bumi, serta pengetahuan dan keahlian untuk membuat kerajinan tradisional.

Mitos adalah bagian dari warisan budaya yang dijaga, bukan hanya sebagai tuturan yang memiliki makna dan nilai yang dibangun si pembuat cerita, namun sebuah makna yang dibagikan turun-menurun karena dia tidak akan hidup dan berfungsi jika tidak kita maknai. Iya, kita!•

IBaca: Jangan makan di depan pintu, ya nak!
IIBaca: Jangan bermain ketika matahari terbenam, ya nak! Ada candik ala.
IIIBaca: Sejarah mempunyai caranya sendiri untuk berulang kembali.

Facebook Comments
Tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close