Otomotif

Tromol Versus Cakram

Setiap teknologi mempunyai keunggulannya masing-masing. Yang lama belum tentu kedaluwarsa, sementara yang baru juga belum tentu maju. Selalu ada konsekuensi di tiap pengembangannya.

Setyaji Rizky Utomo

Bicara mengenai rem tromol dan cakram, dewasa ini seolah menjadi kisah abadi yang nyaris seperti perdebatan tentang bumi bulat dan bumi datar. Kehadiran rem cakram dirasa mengancam reputasi rem tromol yang sebelumnya cukup mendominasi. Namun demikian, masih banyak pengguna kendaraan yang mempertahankan rem tromol, khususnya pada ban belakang kendaraan kelas niaga. Lantas, sebenarnya seperti apa keunggulan dan kekurangan yang ada pada kedua jenis rem tersebut?

Pertama untuk rem tromol, dapat dikatakan jika harga untuk jenis rem itu cukup murah jika dibandingkan dengan rem cakram. Tromol merupakan rem dengan sistem kerja tertutup dimana semua perangkat, mulai dari kontrol (master) rem hingga kampas atau sepatu rem (brake shoe) berada di dalam sebuah bejana. Sementara bejana itu sendiri berlaku sebagai media gesek untuk mengurangi laju kendaraan. “Rem teromol menggunakan sepasang kampas rem berbentuk bulan sabit untuk digesekkan pada drum (baca: bejana –red) itu,” kata Mekanik Bengkel Oris Boyolali, Yudi.

Yudi juga mengatakan, sistem rem tromol cukup efektif karena memiliki bidang kontak pengereman yang besar, sementara kontrol rem yang ada dioperasikan dengan tekanan oli yang relatif kecil. “Sehingga pada kendaraan berukuran mungil dan menggunakan sistem tromol, pada keempat remnya tidak diperlukan booster (baca: pemompa –red) rem,” lanjut pria berambut gondrong itu.

Rem tromol dengan sifatnya yang tertutup itu kemudian memberikan keuntungan tersendiri karena terhindar dari hempasan pasir, debu, atau lumpur. Namun, perangkat mekanis yang tertutup itu juga dapat diibaratkan pisau bermata dua karena jika unit rem terendam air, maka akan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mengeringkannya. Kondisi sepatu rem yang basah juga menyebabkan pengereman tidak berjalan optimal, bahkan gagal. Lebih buruk lagi, apabila terendam air yang mengandung lumpur, maka akan lebih lama keringnya, atau rem akan terkunci.

“Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memeriksa dan membersihkan peranti rem setelah melewati medan basah,” terang Yudi.

Rem tromol cukup ideal untuk kendaraan berat, karena hanya membutuhkan sedikit tekanan oli untuk menggerakkan mekanismenya. Berbeda dengan tromol, rem cakram beroperasi dengan sistem kerja terbuka, dimana semua perangkat mekanismenya dapat dilihat dengan mata. Rem cakram merupakan teknologi yang lebih muda dibandingkan dengan rem tromol.

Sifat terbuka pada rem cakram menyebabkan rem itu cepat kering saat permukaannya terendam air. Rem cakram juga lebih praktis karena sistem penyesuaian mandiri (self adjusting) pada permukaan pistonnya berfungsi untuk menekan bantalan rem (brake pad). Oleh karena itu, dapat dikatakan juga bahwa rem jenis ini sedikit bebas dari penyetelan.

Namun sistem kerja terbuka itu sebenarnya memiliki kerugian. “Peranti rem dapat terakses langsung oleh material yang mudah mengikis, contohnya pasir. Sehingga, tidak jarang permukaan disc brake (baca: cakram –red) akan cacat akibat gesekan,” jelas Yudi.

Rem cakram yang menggunakan sistem kerja terbuka cukup mudah melepas panas. Bahkan jauh lebih cepat dibandingkan dengan tromol. Namun, rem cakram membutuhkan tekanan oli yang jauh lebih besar ketimbang tekanan yang dibutuhkan pada rem tromol. Sehingga jika diperhatikan, kendaraan yang mengandalkan rem cakram memiliki kontrol (master) yang lebih besar, bahkan harus dibekali dengan pemompa (booster).

Media kontak pengereman pada rem cakram ukurannya cukup kecil. Umumnya kurang dari 20-25% luas dari cakramnya, sementara rem tromol memiliki kontak lebih dari 80%. Maka, kemudian banyak yang mengatakan bahwa rem tromol lebih pakem. Oleh sebab itu pula, kemudian muncul inovasi untuk memperluas bidang kontak pengereman dengan penambahan piston pada rem cakram. Penambahan piston itu diikuti dengan peningkatan  pada kontrol (master) atas, selang rem, dan bahkan pompanya.•

Redaktur: Alexio Alberto Cesar.

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close