Cerita Pendek

Tukang Donat dan Si Otak Udang

Siang ini angin berhembus bercabang. Daun-daun terseret begitu saja, seperti takdir yang membawa manusia kepada tujuan hidup yang sesungguhnya. Langkah kaki seorang lelaki begitu berat dan sedikit sempoyongan. Ia hadir dari ketiadaan dan hidup sederhana dalam ketidakmengertian. Dia tengah usahakan mimpi yang kian berguguran karena nasibnya.

Alexio Alberto Cesar

Darman masih membawa beberapa roti donat di keranjangnya. Donat dengan rasa coklat dan keju. Hari ini donat-donat Darman belum habis karena para pelanggan setianya tidak datang ke kampus. Darman sendiri adalah seorang mahasiswa pertanian. Demi menyambung studinya, dia berjualan donat di kampus. Urat malu menjadi penjual donat tidak ada padanya. Alasannya sederhana, bila dia tidak mencari remah-ramah uang, sudah pasti ia tidak kuliah. Darman masuk di perguruan tinggi swasta yang ada di kotanya. Ia bisa menjadi mahasiswa sebab ayahnya menjual tanah yang menjadi harta satu-satunya di keluarga. Demi pendidikan, ayah Darman tidak pernah ragu. Asal untuk pendidikan, bila tanah masih kurang untuk menghidupi kuliah Darman, ayah Darman rela menggadaikan nyawanya. Pokoknya demi Darman menjadi “orang”.

Darman kini tengah mengajukan permohonan beasiswa kepada pihak fakultas. Sudah dua tahun dia mencobanya, namun tidak ada hasil. Usahanya dalam mencari beasiswa seperti menabrak tembok saja. Begitu sulit. Sukar dan berbelit-belit. Pengajuan beasiswa yang ia lakukan bukan tanpa sebab. Darman adalah anak petani miskin, hidupnya pas-pasan. Darman juga bekerja di fotocopy-an di dekat kampus. Dia bekerja paruh waktu, untuk mendapatkan sedikit asupan kantongnya. Darman tergolong manusia berotak lumba-lumba. Dia cerdas, dengan IPK 3,87. Tak jarang Darman sering mendapat tawaran menjadi asisten dosen. Namun uang jadi asisten dosen turunnya cukup lambat. Setahun baru turun, itu pun masih ada potongan pajak. Aneh? Praktik seperti ini sudah jadi rutinitas.

Uang yang dia miliki harus pintar-pintar dia gunakan, karena biaya kehidupan di kampus lebih mahal dari biaya makannya. Semua fasilitas di kampus berbayar. Jadi ketika dosen memberikan tugas yang berhubungan dengan peminjaman alat di kampusnya, Darman harus memeras keringat untuk mendapatkan uang tambahan demi meminjam fasilitas di kampus. Serasa tidak adil saja, tapi begitulah pendidikan di negeri Darman. Negeri yang menyatakan bahwa kaya akan sumber daya alam, negeri yang 40% wilayahnya maritim, tetapi ternyata tidak mampu memberikan kekayaan untuk petaninya.

Memadang donat yang dia bawa di keranjang, Darman terbayang akan tunggakan uang kos yang belum dibayar tiga bulan dan uang SPP semester ini.

“Muak rasanya harus berjualan seperti ini. Pikiran selalu kacau dengan semua pergumulan. Di dada sudah sesak. Pengen tetap kuliah biar ayah bangga punya anak sarjana, tapi kok ayah mati-matian nyari uang kuliah. Apa aku harus berhenti kuliah saja ya?” kata Darman.

Di pinggir jurang kebimbangan, suara dari sisi yang lain berceloteh. “Mikir apa to Man? Kalau kamu mandeg kuliah, ayahmu bisa gila. Dia sudah habis-habisan untuk berjuang melihat anaknya menjadi seorang sarjana. Ayahmu pengen lihat jagoannya punya nama S.P. dibelakangnya. Mbok ya mikir!” Suara itu datang begitu saja dan segera berlalu meninggalkan Darman.

Bagai petir menyambar di siang bolong, seketika Darman mendapatkan semangat untuk berkeliling kampus menjajakan donat.

“Andai pendidikan yang berkualitas dapat sedikit lebih murah saja, pastinya orang-orang sepertiku bisa menghirup udara kebebesan: kebebasan akan kebodohan; kebebasan akan ketidakberdayaan,” gumam Darman.

***

Silvia adalah anak dari penyumbang dana terbesar di kampus swasta di kotanya. Dia selalu mendapatkan uang jajan yang lebih dari cukup. Namun ia selalu merasa miskin. Dia meminta ayahnya yang menjadi “orang berdampak” di kampus tersebut, untuk memberikan uang beasiswa kepada dirinya. Uang beasiswa itu akan ia gunakan untuk membeli sepatu dan beberapa untuk uang saku nongkrong di cafe kekinian. Karena sang ayah begitu mencintai anaknya dengan bodoh, maka sang ayah memberi wejangan kepada pihak rektorat untuk memberikan beasiswa kepada anaknya.

“Selamat siang Pak Tarjo.”
“Selamat siang Pak Bagus.”
“Begini Pak, saya mau minta tolong.”
“Minta tolong apa ya Pak?”
“Anak saya mbok dimasukken menjadi mahasiswa berprestasi. Ya biar dapat beasiswa,” pintanya dengan bibir nyengir.

Tarjo seketika mematung. Di hati terjadi perang batin teramat hebat, seperti perang bangsa Persia melawan Raja Alexander Agung. Tarjo kewalahan menjawab permintaan konyol Sang Penyumbang. Ia memilih menunda jawabannya.

“Bapak sudah tahu, universitas kita baru saja menang sebagai universitas terbaik dan akan menjadi univesitas percontohan bagi kampus-kampus di Indonesia,” jawabnya dengan keringat dingin mengucur keluar.

Tarjo mendadak menjadi seekor anjing yang sedang menjilat-jilat sepatu tuannya untuk mendapatkan tulang.

“Oh ya…. Bakal tambah tenar kampus kita ya Pak,” suara kagum dari mulut Sang Penyumbang.

“Tentu Pak. Itu pasti. Kalau bukan berkat Pak Bagus yang selalu mendukung kami, penghargaan semacam ini akan menjadi mimpi saja,” timpal Tarjo yang berharap topik pembicaraan dapat berubah.

“Pak Tarjo, saya tidak bisa berlama-lama. Saya ada meeting dengan klien saat ini. Permintaan saya yang tadi segera diproses saja. Nanti kalau ada proyek dari perusahaan saya, Pak Tarjo saya ajak deh.” Tarjo kalang kabut, serigala hitam dalam hatinya yang menang.

“Siap Pak, saya laksanaken.”

“Terima kasih, Pak,” obrolan kemudian ditutup begitu saja oleh Bagus.

Tarjo masih mengerutkan dahi dengan senyum masam menghiasi wajahnya. Tarjo tahu betul bagaimana Silvia. Mahasiswi berotak udang. IPK Silvia selama 2 tahun berkuliah hanya 1,22. Dan, terkadang setiap semester mengalami peningkatan hanya 0,03 saja. Memang angka bukan indikator kecerdasan, namun kecerdasaan Silvia hanya menghamburkan uang di tempat dugem. Laporan tentang kenakalannya yang sering mudah diajak tidur oleh teman-teman lelakinya sudah menjadi buah bibir yang siap dipanen.

“Kenapa diambil pusing. Tinggal buat surat lalu serahkan ke bagian beasiswa maka semua akan selesai. Bergeraknya harus halus biar tidak ketahuan. Percayakan saja sama Rudi. Toh, dia sudah biasa ngurus masalah beginian. Tinggal dikasih uang lembur, semua beres. Jangan sampai Pak Bagus mandek untuk investasi di ‘kampus’ ini. Kalau sampai itu terjadi, hancur sudah pendapatanku. Aku malah tidak bisa pergi ke Bali setiap bulannya. Amit-amit… , jabang bayi! Aku wegah kere!!•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close