Film

Wage, Jiwa dan Badannya untuk Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman merupakan komponis muda penggubah lagu Indonesia Raya, yang hidup di masa pendudukan Hindia-Belanda. Jiwa dan badannya, sebagaimana tergambar dalam film Wage, didedikasikan sepenuhnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Galih Agus Saputra

Dewasa ini, kita mengenal begitu banyak seniman di Indonesia. Sebut saja sosok seperti Sudharnoto, Gugum Gumbira, dan Gesang Martohartono yang tampaknya tak asing lagi di kalangan seniman Indonesia. Ratusan karya telah mereka lahirkan, dan tak jarang yang menjadi legenda. Sebagai contoh, misalnya, Ketuk Tilu, sebuah karya hasil studi Gugum Gumbira yang darinya lah kemudian lahir Jaipongan. Begitu juga Mars Pancasila, karya Sudharnoto yang kemudian dikenal menjadi lagu Garuda Pancasila. Atau Bengawan Solo karya Gesang yang banyak dikenal masyarakat Asia.

Dari sekian banyak seniman tersebut, Wage Rudolf Supratman merupakan salah satu penggubah lagu yang tak kalah dikenal masyarakat Indonesia. Ia komponis muda yang hidup di masa Hindia-Belanda. Pada 1971, Wage diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena jasanya menggubah lagu kebangsaan, Indonesia Raya.

Sejak 9 November 2017 lalu, kisah hidup Wage diceritakan kembali dalam film drama noir yang disutradarai John De Rantau. Judulnya Wage: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya. John mengerjakan film tersebut bersama OPSHID Media, dan diprakarsai Eksekutif Produser M. Subchi Azal Tsani. Melalui film itu, mereka hendak mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenang jasa Wage Rudolf Supratman dan meneladani kisah kepahlawanannya.

Wage sendiri lahir pada 19 Maret 1903, di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ibunya Siti Senen, dan ayahnya Joemeno Kartodikromo. Wage adalah anak ke tujuh dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan tersebut. Pada 1914, Wage ikut kakaknya, Roekijem ke Makasar, dan di pulau itu lah Wage bersekolah, bermain musik, dan mulai mengenal pergerakan. Pada suatu waktu, tiba lah masa dimana Wage memutuskan kembali ke Pulau Jawa untuk memperluas perjuangannya.

Monumen Tiga Stanza

Dalam film itu, Wage diperankan Rendra Bagus Pamungkas. Meski tergolong aktor pendatang baru, ia dapat membuat karakter Wage begitu hidup. Sementara itu, lawan main Rendra yang berperan sebagai polisi atau informan Hindia-Belanda bernama Fritz adalah Teuku Rifnu Wikana. Aktor watak kelahiran Pematang Siantar, 3 Agustus 1980 itu sudah bermain dalam 42 judul film sepanjang karirnya seperti Mengejar Matahari (2004), dan semakin populer sejak memerankan Guru Bakri dalam Laskar Pelangi (2004). Nama Wikana semakin mencuat ketika memerankan Joko Widodo dalam Jokowi (2013).

Indonesia Raya
Rendra Bagus Pamungkas merupakan pemeran Wage Rudolf Supratman dalam film Wage (Foto: Tangkapan Layar film Wage).

Sosok Fritz dalam film Wage cukup unik. Ia seorang Indo-Belanda namun tidak diakui di negeri Belanda. Bahkan, pada saat kembali ke Indonesia, tidak ada satupun yang mau menerimanya. Maka dari itu pula, Fritz penuh dendam kesumat sekaligus membenci Wage hingga sumsum tulangnya. Sementara itu, sosok Roekijem diperankan Putri Ayudya. Nama yang tak asing lagi di kancah perfilman Indonesia, dan pernah menjadi Soehasikin, istri H.O.S. Tjokroaminoto dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015). Putri juga pernah terpilih menjadi Puteri Intelegensia Indonesia dalam ajang pemilihan Puteri Indonesia 2011.

Sosok Roekijem tak kalah menarik. Itu semua terlihat dalam masa transisinya, yang semula lebih banyak mengenakan pakaian Eropa kemudian menjadi lebih banyak mengenakan Kebaya menjelang akhir cerita. Dari situ penonton dapat memahami alasan, mengapa Roekijem yang semula lebih suka dengan budaya Eropa menjadi begitu cinta dengan Indonesia.

Film Wage selain menjadi retrospeksi kisah hidup Wage Rudolf Supratman, juga menjadi monumen untuk lagu Indonesia Raya dengan tiga stanza, dimana makna utuh dari bangsa Indonesia dapat ditemukan di sana. Lagu Indonesia Raya sendiri pertama kali dikumandangkan dalam Kongres Sumpah Pemuda II yang berlangsung, pada 28 Oktober 1928, di Batavia (sekarang Jakarta). Pada malam penutupan kongres tersebut, Wage memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental atau tanpa lirik, lantaran mendapat tindakan represif dari pemerintah Hindia-Belanda.•

Facebook Comments
Tag

Galih Agus Saputra

What you can do is just control the ship, not the ocean!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close