Cerita Pendek

Wanita Setia

Kekasihku bilang aku ini sundal. Ini semua perihal pertanyaan kesetiaan. Aku selalu mencari jawabannya. Bagaimanapun aku bersetubuh pada setiap laki-laki yang kutemui. Bahkan bisa saja berkecan dengan mereka dalam satu hari secara bergiliran. Tapi aku masih mencintai Gustaf, ia tetap warna biru memar yang kuterima di dadaku, sekarang dan seterusnya.

Aziz Afifi

Boleh saja kau juga berpikir aku murahan. Tapi dalam kenyataannya sudah kulakukan seperti kebanyakan orang. Aku berusaha hanya memiliki si ini dan duduk di taman, di bioskop, di kafe masih dengannya. Rasanya itu mustahil. Rasanya tetap ada yang harus aku temukan untuk melengkapi segala yang aku butuhkan. Seperti aku membutuhkan banyak buku untuk melengkapi satu artikel.

Alasan itu pulalah yang selalu kulontarkan saat kekasihku memergokiku dengan kekasih yang lain. Bahkan bisa kupertegas lagi bahwa manusia tak pernah sempurna, jadi aku ingin melengkapinya. Seperti pada waktu menjelang musim kemarau di sebuah kota. Aku dan Gustaf senang menikmati senja. Indah sekali seperti dalam cerita Seno Gumira. Potret  kota dengan segala kenangan akan perdagangan candunya yang kental. Dan saat senja begini, kota seolah tengah bangun dari siuman dengan binar-binar lampunya. Meninggalkan sisi kelamnya.

Pada saat itu kami hanya duduk. Gustaf tak pernah berpikir akan banyak hal. Ia hanya diam sebelum kau melempar pertanyaan. Tapi aku menyukainya. Aku suka kesunyiaannya. Apalagi pada hari itu angin pergantian musim memberi aksen beku. Aku semakin mendekam dipeluknya tanpa harus membicarakan apapun.

Namun hari itu dia bilang aku cantik. Hal yang tak biasa ia lakukan. Ia benar-benar lelaki payah yang sulit dimengerti. Bayangkan saja, aku yang harus mengatakan padanya bahwa aku menyukainya. Kukatakan padanya juga syarat menjadi kekasihku pokoknya harus pandai merayu.  Lantas pipinya memerah. Mungkin ia terbakar. Dan beberapa hari, di kamar kontrakannya kutemukan beberapa buku Menaklukan Wanita. “Apa dia bodoh, bukankah dia sudah aku taklukan?” batinku saat itu.

Kami mengadakan beberapa pertemuan dan ia mulai merayuku. Semua terlihat sampah. Bagaimana ia menggunakan rayuan dengan menyebut bapakku berulang-ulang. Kadang bapakku tukang becak, gado-gado dan profesi lainnya. Seolah ingin kumaki saja dia dan hendak kukatakan bahwa bapakku adalah ayam jantan yang meninggalkan telur ditiap kandang betina yang berbeda. Tapi kuurungkan setiap ia merayu. Ia begitu terlihat lucu. Kadang dalam hatiku bilang, kau harus menganti saluran (channel) televisi untuk membuat otakmu terlihat berharga. Tapi tetap tak tega. Jadi kusarankan dia membaca buku puisi, tentu dengan halus. Dan apa yang kudapat seperti alasan klise orang-orang malas membaca. “Aku tak punya waktu untuk hal seremeh itu,” ucapnya. Ia lebih memilih mencari modal untuk hari depan kami. Lebih tepatnya libido Gustaf dan aku.

Sejak saat itulah, selalu tak ada pembicaraan apapun tentang pertemuan yang sedang kulakukan. Kita duduk berdampingan seperti saat memandang senja, tapi isi otak kami berlainan. Aku membayangkan isi buku Sepotong Senja untuk Pacarku. Tentang cara Seno menghidupkan pantai dengan detail. Dan ia membayangkan kenangan kecilnya yang dihajar kawan-kawannya saat pulang dari main Play Station. Alasannya sederhana. Ia tak memberikan uang kepada temannya.

Begitulah saat  kuajukan pertanyaan padanya tentang apa yang dipikirkannya saat itu. Sebab itulah aku memutuskan untuk mencari kekasih lain tanpa meninggalkan Gustaf. Dan kudapatkan Cholik, seorang gitaris band. Tapi ia selalu menggunakan nama panggung yang aneh, yang masih teringat ada JRX di belakang nama yang aneh itu. Ada baiknya juga punya kekasih anak band. Hal-hal yang tidak kau sukai tiba-tiba kau mengenalnya. Tapi selera musiknya payah, “melayu-ngehe,” begitulah aku menyebutnya. Tapi syukur, hubunganku dengannya tak begitu lama. Bosan. Aku hanya punya Gustaf kembali.

Beberapa saat, bagaimanapun Gustaf mulai membuatku bosan kembali. Kebosanan itu semacam harus makan mie rebus yang sama, dengan rasa yang sama dan di burjo yang sama setiap hari. Begitulah kebosananku saat menghadapi Gustaf. Entah bagaimana aku terdorong untuk pergi ke swalayan terdekat. Memilih kopi kaleng dingin dan duduk di emperannya. Sial atau tidak, adegan ini seolah drama menye-menye. Kursi semua penuh dan hanya tersisa satu yang kosong. Pun itu sudah ada lelaki sendirian di sana. Sedang merokok dan rambutnya gondrong. Keputusanku bulat. Aku harus duduk dan menikmati kopiku.

Aku akhirnya duduk, entah bagaimana caranya, namun yang pasti ada tarik-ulur di dadaku. Seperti kebanyakan orang yang baru saja mengenal. Kami hanya diam. Sibuk dengan yang ada di tangan masing-masing. Ia punya rokok dan aku kopi. Aih, entah apa yang dipikirkan lelaki ini? Ia menyodor rokok ke arahku dan bilang, “bila berkenan”. Beberapa detik kemudian dengan masih diselimuti suasana canggung kuambil satu dan mulai membakar. “Tidak buruk,” kataku pada lelaki itu dan ia hanya menyembulkan asap seolah ingin mengajariku. “Apa kau suka sendirian?” tanyanya. Aku menggeleng. “Tapi aku suka kopi,” aku terlonjak sendiri atas jawabanku, “jawaban yang aneh”. Sontak kami mencipkatan keheningan kembali.

“Ia tampak seperi Gustaf yang membosankan,” begitulah awal penilainku. Tapi salah, “jangan menilai buku dari cover-nya,berlaku padaku. Kami seolah pembaca yang tekun dan pembaca yang bawel bertemu. Awalnya ia mengerutu tentang Boris Pasternak mengenai Doktor Zhivago-nya. Aku pernah membacanya. Tapi ia cukup mengesankan. Dan mulai saat itu kami bertukar nomor dan terus berbagi bacaan di atas ranjang atau di emperan kedai kopi,  hingga kisah pribadi. Seolah sepakat, kami tak saling bertukar nama. Ku beri ia nama di ponselku dengan Orang Aneh, seperti judul yang digunakan Albert Camus. Dan itu bacaan pertamaku.

Waktu selalu memberi kisah tak terduga. Kami memutuskan bertemu dan mulai sering betemu untuk seterusnya. Dengan pola yang serupa, di ranjang, di emperen kedai kopi atau di sebuah perpustkaan. Selekas hujan, di sebuah toko buku entah kenapa ia mengutarakan isi hatinya. “Mari menikah,” ucapnya. Kupandang dia untuk memastikan.

“Aku tidak bercanda”
“Tapi aku tidak pernah mencintaimu”
“Aku juga”
“Lantas?”
“Entah, kita menikah saja”
“Kau tak butuh cinta?”
“Aku tidak perlu cinta untuk sebuah pernikahan”
“Aku sudah mencintai seseorang, Gustaf”
“Lihatlah, apa yang kau lakukan sekarang! Cinta telah membuatmu menjadi tahanan.”

Tiba-tiba aku lupa apa yang dikatakan seterusnya. Hingga pada akhirnya Gustaf mengetahui peristiwa itu. Ia marah-marah padaku.

“Kenapa kau melakukanya seperti ini? Kau sundal. Dan tentu saja kau sudah tidak perawan lagi” katanya. Seolah ia sedang mengutip adegan film menye-menye yang baru saja kami tonton di bioskop. “Aku masih memilihmu, aku hanya berusaha ingin melengkapimu, karena manusia tak pernah sempurna bukan?” pikirku. Tapi ia telah meninggalkan luka memar di dadaku.

***

Seminggu kemudian, aku terbangun dengan nyeri didadaku. Memarnya tambah tua. Aku masih membayangkan Gustaf. Terus membayangkannya. Tapi hari itu sejenak bayangan Gustaf buyar, karena temanku masuk begitu saja ke kamar. “Kau harus ke dokter” katanya.

“Hanya memar sedikit” kataku. Ia terus membujukku. Bagaimana ia bisa begitu cerewet. Pada akhirnya aku pergi ke dokter. Aku datang dengan terhuyung. Aku mendapat antrian ke 350. “Nomor yang cukup cantik,” gumamku.

Pukul dua siang, dari balik dinding, namaku dipanggil dan aku terskesan. Menyiapkan senyum. “Memang kadang untuk orang tertentu dokter lebih menakutkan dari pada setan,” kata si dokter seolah bisa melihat keterpaksaanku pergi ke sini. Setelah beberapa menit dokter memeriksa. Katanya, di jantungku terdapat gumpalan semacam bayi. Tapi itu mustahil, mungkin aku salah memilih dokter. Tak ada bayi yang hidup dijantung orang. Bayi tak pernah masuk dan keluar dari lubang udara.

***

Seminggu setelahnya dadaku nyeri. Serasa ada terus tumbuh. Terus bergerak dan menendang. Tiba-tiba ada suara yang berbisik. Awalnya aku mulai kebingungan. Hingga pada akhirnya aku mengetahui suara itu berasal dari dadaku. Benar kata dokter, ia bayi yang hidup dalam jantungku. Suara itu terus mendesis. “Maukah kau menikah denganku?” katanya. Dan aku teringat apa yang dikatakan si gondrong dan Gustaf.

“Mau kah kau menikah denganku?” katanya terus. Akhirnya aku muak, dan kujawab, “aku sudah tidak perawan”.•

Facebook Comments
Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close